• PDF

Sahabatku di LP Wirogunan

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Selasa, 11 Agustus 2009 11:30
  • Ditulis oleh Arie Saptaji
  • Sudah dibaca: 8044 kali

“Maaf ya, harus bertemu di tempat seperti ini.” Itu ucapan pertama yang terlontar dari mulutnya begitu kami berjabatan tangan. Ia memandang saya dengan mimik yang membuat saya yakin, ini memang ST yang saya kenal dulu. ”Malu enggak?”

Saya tidak siap menanggapi pernyataan dan pertanyaannya. ’Tempat seperti ini’ yang dimaksudkannya tidak lain ialah LP Wirogunan, Yogyakarta, dan ini kunjungan pertama saya ke ’tempat seperti itu.’ Mana menduga kalau akan disambut dengan ucapan begitu? Saya hanya tersenyum.

Ia segera mengajak saya ke seberang ruangan. Memperkenalkan suaminya. Namanya IN. Saya belum pernah berjumpa dengannya, namun ia mengaku sempat datang ke gereja ketika kami kebaktian di Borobudur Plaza.

Sekitar tiga minggu lalu saya menerima telepon dari seorang rekan pelayanan. Ia menanyakan apakah saya kenal ST. Meskipun sudah sepuluh tahun lebih tidak ketemu, saya segera mengingat pemilik nama itu karena kami sama-sama wong Temanggung beda kecamatan. Ia melanjutkan, beberapa hari sebelumnya ia pelayanan ke penjara dan bertemu ST di sana. ST dan suaminya sedang menjalani hukuman karena kasus pembunuhan. Dan, ST berpesan, mudah-mudahan saya bersedia mengunjunginya.

Ke penjara? Meskipun suka membaca tulisan Charles Colson, selama ini tidak pernah saya merasa tergerak untuk ikut pelayanan kunjungan ke penjara. Tidak berminat. Telepon itu mengubahnya. Seorang sahabat saya meringkuk di sana, dan ia berharap saya mengunjunginya, masakan saya bergeming?

Saya meminta informasi dari teman di Persekutuan Sahabat Gloria. Tak salah alamat. Mbak Wiwik memberi tahu, ada pelayanan kunjungan bersama setiap Rabu minggu ketiga. Jadilah, pagi itu saya bergabung dengan rombongan dari beberapa gereja dan lembaga pelayanan, berkunjung ke LP Wirogunan.

Di atas pintu masuk ruang pertemuan ada tulisan kecil ’GEREJA’. Di dinding luar samping ada mural ’Hati Kudus’. Di dalam ruangan ada mimbar di bagian depan, tidak disediakan kursi, namun digelar karpet warna hijau. Sepanjang dinding kiri-kanan berderet 14 foto lukisan menggambarkan stasi-stasi Via Dolorosa. Langit-langit yang tinggi menjadikan ruangan terasa adem.

Saya duduk bersila di samping ST dan IN. Dengan gaya berbicara yang cepat seperti ST yang saya kenal dulu, ia bercerita, mereka sudah menjalani hukuman selama 2 tahun. Ia masih harus menunggu 5 tahun, sedangkan suaminya 10 tahun. Peristiwanya berlangsung di Cirebon. Semula mereka dipenjarakan terpisah; ia di Bandung, suaminya di Cirebon. Agar keluarga di Magelang lebih mudah menengok, mereka lalu minta dipindahkan ke Yogya. Saya mencoba menjadi pendengar yang baik. Saya bingung, apakah pantas menanyakan apa persisnya peristiwa yang membawa mereka ke balik terali.

Percakapan kami terpenggal oleh ajakan pemimpin pujian untuk memulai ibadah. Saya memperhatikan wajah-wajah para penghuni LP: tampak berat mereka membuka mulut dan tatapan mereka menerawang. Apa ya yang mereka pikirkan ketika terbata-bata melagukan lirik seperti “Ke manakah kami berseru saat badai datang menderu”? Saya, yang kerap menyanyikan suatu lagu hanya karena lagu itu terasa indah dan mendayu, jadinya tersipu: jangan-jangan warga LP ini justru lebih meresapi makna kata demi kata lagu itu.

Seusai nyanyian, Pdt. Rima Matruty menyampaikan firman Tuhan. Ibu pendeta ini terlihat rileks dan cergas, tampak mumpuni menghadapi sidang jemaat yang istimewa ini. Ia mengajak kami bergantian membaca ayat demi ayat Kitab Filemon. Lalu, layaknya juru cerita yang memikat, ia menguraikan kembali latar peristiwa dan rangkaian kisah, bagaimana seorang Rasul Paulus sampai mengajukan permohonan khusus kepada Filemon, agar menerima seorang bekas budaknya, Onesimus, bukan lagi sebagai budak, melainkan sebagai saudara seiman yang kinasih. Dari situ, ia menukilkan dua butir hikmah yang bening.

Ada tiga tokoh utama di situ. Paulus, seorang rasul yang gigih membela iman dan giat merintis jemaat sekalipun harus dijebloskan ke penjara. Filemon, orang beriman yang kaya dan murah hati pada sesamanya. Dan, Onesimus, budak yang merugikan tuannya dan dipenjarakan, tetapi justru di dalam penjara itulah ia mengalami perubahan hidup radikal berkat kasih Tuhan. Jamahan Tuhan, dengan demikian, tidaklah terbatas untuk kalangan tertentu saja---mereka yang dianggap hina sebagai sampah masyarakat pun disentuh-Nya. Tembok penjara tidak merintangi aliran rahmat-Nya.

Lalu, Onesimus bisa jadi melakukan kriminalitas di Efesus. Tampaknya kriminalitas kelas parah. Terbukti, ia tidak dikerangkeng di penjara setempat saja, tetapi dikirim sampai ke penjara Roma. Namun, justru di penjara kelas berat di tempat jauh itu, ia dipertemukan dengan Paulus. Ia berkesempatan menyimak Kabar Baik. Hidupnya berubah oleh kemurahan Tuhan. Bukankah itu seperti sulaman kreatif Sang Penolong Agung dalam menenun jejaring untuk menyelamatkan anak yang terhilang?

Siang ini, di gereja di sebuah LP, kisah narapidana dijamah Tuhan yang biasanya saya baca sambil lalu itu memancarkan pesan yang berkilau.

Kami lalu dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil, waktu untuk saling mendoakan. Saya bersama dua orang bapak. Yang seorang meminta doa sederhana: agar sembuh karena sedang kurang enak badan. Yang seorang lagi suami yang bersama-sama istrinya dihukum selama dua tahun. Ia tidak meminta doa untuk dirinya sendiri. Ia meminta saya berdoa untuk anak laki-lakinya. Yang di luar penjara sana. Yang baru berumur 1 tahun 8 bulan. Yang diasuh keluarga polisi yang berbelas kasihan atas nasib mereka.

Saya mencoba mengumpulkan kata-kata. Saya berusaha mengingat-ingat janji-janji firman Tuhan yang semoga bisa menguatkan dan menghibur kedua bapak ini. Setelah kehabisan kata, saya meminta ganti mereka yang berdoa. Mereka terdiam. ”Sudah, bapak saja yang berdoa,” kata bapak yang pertama. Bapak yang kedua saya lihat memalingkan muka, menyeka matanya.

Tibalah waktu untuk makan siang dan berbincang santai sambil menunggu habisnya jam berkunjung. Saya melanjutkan ngobrol dengan ST dan IN. Sebenarnya, sepanjang ibadah tadi, saya juga tidak mengikutinya secara khidmat, dan sesekali berbisik-bisik dengan mereka berdua. ST sempat memperlihatkan foto kedua anak perempuannya, mamanya, dan kakaknya, yang dijadikan selipan Alkitab. Si sulung 10 tahun, kelas 5 SD; adiknya 5 tahun, kelas 1. Si kecil kalau berkunjung kadang-kadang menyebutnya ”Mama”, tapi tak jarang menyebutnya ”Tante.” Mereka bercerita, penyiksaan terberat di penjara itu justru kebengongan. Menganggur. Tak ada aktivitas. Makanya, jam-jam persekutuan di gereja seperti ini seperti pergi tamasya bagi mereka. Itu juga kesempatan mereka untuk ngobrol sebagai suami-istri. ”Di sini sudah tidak ada lagi suami dan istri. Yang ada napi laki-laki dan napi perempuan.”

Diam-diam saya juga menyimpan pertanyaan: Di antara sekian banyak kawannya, kok saya termasuk yang diingatnya ya? Dari ceritanya, tahulah saya sebab-musababnya. Di penjara ia membaca buku-buku renungan, termasuk Renungan Harian. Membaca nama saya di situ, ia bilang ke suaminya, ”Saya kenal penulis ini!” Ia ingin menghubungi saya, tetapi tidak tahu caranya karena di Wirogunan para narapidana tidak diizinkan menggunakan telepon genggam. Sampai ia ketemu dengan teman saya tadi dan menitipkan pesan.

Ketika berpamitan saya bertanya, apa kiranya bantuan yang bisa diberikan. Mereka tersenyum. ”Sudah sangat senang kami dikunjungi. Doakan saja kami.”

Saya menjabat tangan mereka. Saya berjanji akan berkunjung lagi. Saya enggak malu, sahabat. ***

Yogyakarta, 15 Juli 2009---sembilan tahun pernikahanku dengan Rina

 

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Lucky  - interesting story   |202.70.55.xxx |31-08-2009 14:10:46
sy jg punya pengalaman serupa dg anda. disitu sy br menyadari arti kebebasan yg
selama ini kita nikmati ternyata benar2 sesuatu yg sgt2 didambakan oleh mereka
yg berada di balik jeruji besi.
Semoga kita lebih menghargai arti kebebasan
yang kita peroleh dg cuma2 dari Bapa di surga. amin
dee  - sahabat kita...   |213.138.33.xxx |14-10-2009 20:38:33
hi,saya temen ST dan IN yg mas Ari tulis disitu. mereka temen baek saya di
wirogunan. saya dulu sekamar sama ST. sekarang saya sudah bebas. pengen sering2
kunjungi mereka, tp jarak tidak memungkinkan. so, tolong kunjungi mereka, karena
mereka butuh orang-orang yang 'peduli', agar mereka tak merasa dilupakan...
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."