• PDF

Tiada Melodi Tanpa Senyum-Mu

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Selasa, 01 September 2009 10:10
  • Ditulis oleh Arie Saptaji
  • Sudah dibaca: 3380 kali

Saya tergelitik oleh sebaris lirik lagu Pelangi, gubahan Eros Djarot untuk film Badai Pasti Berlalu. Syairnya menuturkan kenangan akan cinta romantis yang menggetarkan hati. Lagu itu ditutup dengan kata-kata manis berikut ini: Tiada lagi melodi dapat kucipta tanpa senyummu.

Lirik yang mengaduk-aduk perasaan, ya? Saya sendiri terusik untuk memaknai kata-kata itu dalam tiga tataran.

 

CINTA ROMANTIS

Tataran pertama, tentu saja, pemaknaan secara apa adanya. Kata-kata syahdu semacam itu biasanya terlontar di tengah gejolak cinta romantis yang melanda sepasang kekasih. Si dia menjadi sosok yang menggugah semangat hidup, menjadi sumber inspirasi yang seakan tak ada habisnya. Yah, seolah-olah daya cipta dan gairah hidup kita akan macet tanpa kehadiran dan senyum si dia. Mereka yang pernah mabuk asmara jelas mengamini hal itu.

Cinta romantis memang kuat dan menggelora, namun sekaligus bisa luntur dan bahkan bisa pula beralih ke sasaran lain. Menurut penelitian, perasaan jatuh cinta itu rata-rata bertahan antara dua sampai tiga tahun. Sesudahnya, hubungan romantis itu bisa berantakan, atau berlanjut ke tahap cinta yang lebih matang.

Jadi, frasa ’tiada lagi’ dalam lagu tadi jelas mengandung gombalisme alias berbau rayuan nan membual. Nyatanya, kemungkin besar masih ada orang lain lagi yang bisa saja menggugah terciptanya melodi.

Chairil Anwar, penyair paling terkemuka dalam sejarah sastra modern Indonesia, melahirkan sejumlah sajak cinta yang dahsyat. Sebagian sajak itu secara khusus ditujukan kepada wanita tertentu yang dekat dengannya. Setidaknya ada tiga nama wanita yang melekat pada sajak cinta Chairil, yaitu Ida, Sri Ajati, dan Mirat. Andaikan suatu saat Chairil mendekati Ida dan berkata, “Ida, tiada lagi puisi dapat kucipta tanpa senyummu”---nah, kita bisa menyimpulkan bahwa itu rayuan yang berlebihan.

Begitulah memang cinta romantis. Indah, hiperbolis, namun juga gombal.

 

VISI HIDUP

Tataran kedua, penafsiran secara kiasan. ‘Senyummu’ bukan mengacu pada sesosok kekasih, melainkan sumber motivasi dan inspirasi yang tidak kasat mata. Orang biasa menyebutnya sebagai visi, misi, panggilan, tujuan hidup---hal-hal yang menggerakkan dan mengarahkan kehidupan kita.

Tujuan hidup setiap orang bisa berbeda-beda. Ada yang hidup untuk mengejar karier. Ada yang hidup untuk meraih kemashyuran. Ada yang hidup untuk menolong sesama yang menderita. Ada pula yang memandang hidupnya sebagai sebuah ibadah kepada Tuhan. Tujuan itulah yang menggerakkan kehidupan mereka, yang menggugah mereka untuk menciptakan melodi dalam hidup ini. Tujuan itulah yang akan membentuk kehidupan mereka.

Kenapa kita perlu memiliki tujuan hidup? Begin with the end in mind. Nasihat bijak yang kerap didengungkan ini mendorong kita untuk memulai sesuatu dengan memiliki tujuan yang jelas tercetak dalam benak kita. Dengan adanya tujuan yang jelas, segala waktu, energi, dan sumber daya akan dikelola seefektif mungkin untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut.

Anda menetapkan untuk berlibur ke Bali, misalnya. Karena tujuan sudah ditetapkan, hal itu memudahkan anda dalam mempersiapkan dana, memilih moda transportasi, dan merancang aktivitas yang akan dilakukan selama berlibur.

Begitu juga dengan hidup kita. Kalau kita memiliki visi yang jelas, visi itu akan menjadi seperti senyuman yang menggairahkan kita untuk menciptakan melodi demi melodi, bekerja dan berkarya mengisi masa hidup kita.

Visi menantang kita untuk hidup pada saat ini sejalan dengan visi tersebut. Visi seperti tonggak nun jauh di horison yang mendorong kita untuk terus berlari tahap demi tahap hingga mencapainya. Visi, dengan demikian, dapat menjadi daya dorong yang kuat untuk hidup lebih bijaksana, lebih tekun, tertib dan mau bekerja keras. Seorang raja yang arif pernah mengatakan, “Kalau tidak memiliki visi, kita akan hidup secara liar.”

Mungkin kita menghadapi tugas yang serupa. Namun, visi memberikan perspektif dan membangkitkan antusiasme yang berbeda terhadap tugas tersebut.

Di situs pembangunan sebuah katedral, seseorang mendekati salah satu pekerja. Roman muka pekerja itu tampak serius dan tegang. Ia bertanya, "Apa yang sedang kaukerjakan?"

"Bekerja. Menyusun batu bata. Mencari nafkah."

Kemudian, ia mendatangi pekerja yang lain lagi. Pekerja ini tampak bekerja dengan riang dan bersemangat. "Apa yang sedang kaulakukan?" tanyanya.

"Lihat! Aku sedang membangun katedral!"

 

SENYUM TUHAN

Akhirnya, pemaknaan ketiga saya lakukan dengan mengubah sedikit kata ganti dalam lirik tersebut: senyum-Mu. Dengan penggantian itu, bukan hanya orang yang sedang jatuh cinta, atau orang yang sedang bertekun mewujudkan visi hidupnya, melainkan setiap orang yang beriman dapat mengamininya.

A.W. Tozer menulis, kita ”ditetapkan untuk melihat Dia dan hidup bersama dengan Dia serta mendapatkan sumber kehidupan kita dari senyum-Nya.” Senyum di sini dapat mengacu pada kasih, anugerah, kemurahan---segala kebaikan Tuhan---yang dilimpahkan-Nya bagi kita.

Kehidupan kita adalah karunia Tuhan. Kita bisa bernapas, bergerak, dan beraktivitas serta menghasilkan berbagai pencapaian semata-mata karena Dia memampukan dan menguatkan kita. Segala ide dan hasil karya kita tidak lahir dari kekosongan, namun semata-mata karena Tuhan bermurah hati membagikan daya kreatif-Nya kepada kita. Tanpa senyum Tuhan, kita benar-benar tidak akan dapat lagi ’menciptakan melodi’.

Pertanyaannya, apakah kita sungguh-sungguh menyadari, mengakui, dan mensyukuri hal tersebut? Dapatkah kita datang kepada Tuhan dan dengan rendah hati mengakui: ”Tuhan, tiada lagi melodi dapat kucipta tanpa senyum-Mu”? ***

 

 

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Anonymous   |125.166.241.xxx |19-12-2009 03:01:03
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."