• PDF

Balada Televisi Rusak

Penilaian Pengunjung: / 4
TerjelekTerbaik 
  • Rabu, 30 September 2009 00:00
  • Ditulis oleh Arie Saptaji
  • Sudah dibaca: 3207 kali

Menurut saya, televisi itu sangat mendidik. Setiap kali seseorang menyalakannya, saya pindah ke ruang sebelah dan membaca buku.

---Groucho Marx, pelawak dan bintang film AS, 1890-1977

“Susah banget nyuruh anak-anak belajar. Tapi, kalau nonton tivi, membantah terus kalau disuruh berhenti,” keluh seorang ibu.

”Bagaimana ya menumbuhkan minat baca pada anak? Mereka lebih suka nonton tivi,” kata ibu yang lain.

”Anak-anak, kalau enggak dolan, ya nonton tivi terus,” timpal ibu yang lain lagi.

Saya tersenyum menyimak obrolan itu. Baru-baru ini saya menemukan sebuah rahasia hebat untuk membangkitkan minat baca pada anak. Sebuah rahasia yang telah terkubur berabad-abad. Hanya, saya tidak tahu berapa banyak orang yang mau mendengarnya.

Anda mau?

Hm---yakin? Sini, deh, saya bisiki.

”Rusakkan televisi Anda!”

Lo, jangan memandang saya dengan kening berkerut begitu, dong. Resep itu sudah dicoba di dapur keluarga kami dan saya sudah melihat hasilnya dengan mata kepala sendiri. Dijamin manjur!

Ceritanya, ketika pindah ke rumah kontrakan baru, saya membeli televisi bekas milik teman. Antena integralnya sudah copot. Pesawat itu tidak bisa menangkap siaran televisi stasiuan mana pun. Semula saya memang berniat memakainya untuk memutar video saja. Tetapi, saya lalu tergoda membeli antena tambahan. Karena kurang ahli dalam seluk-beluk pertukangan, saya meminta bantuan kawan untuk memasangnya. Kami mengikat antena itu di ujung sebatang bambu pendek dan, dengan sedikit membongkar atap, menopangkan batang bambu itu pada kasau. Tali antena dihubungkan ke televisi dan... sukses! Kini pesawat kecil itu bisa memancarkan siaran sejumlah stasiun dengan gambar yang lumayan bening. Menonton televisi pun menjadi salah satu menu hiburan sehari-hari di rumah kami.

Sayangnya, mahakarya pertukangan itu hanya bertahan beberapa bulan. Entah tertiup angin sepoi-sepoi entah tersenggol burung emprit, tiang antena itu roboh. Untung tidak memecahkan genteng atap tetangga. Yang jelas, pesawat itu kembali ke posisi semula: bila dinyalakan, hanya dipenuhi semut hitam-putih-abu-abu yang berisik.

Saya tergoda untuk mencoba antena jenis lain. Saya beli antena duduk. Saya pasang. Saya putar ke berbagai arah, berusaha mencari posisi yang tepat, agar dapat menangkap siaran sebaik mungkin. Hasilnya? Gambar dan suara memang muncul, namun kualitasnya menyedihkan.

Begitulah. Tampaknya kami harus puas menggunakan pesawat itu hanya untuk menayangkan video film atau musik. Berkuranglah acara hiburan di rumah kami.

Tetapi, kami jadi punya lebih banyak waktu untuk aktivitas lain. Kami punya lebih banyak waktu untuk bermain bersama. Kami punya lebih banyak waktu membaca buku. Dan, anak-anak bisa lebih berkonsentrasi saat belajar.

Suatu hari saya meminjam Rahasia Logam Ajaib dari serial Lima Sekawan karya Enid Blyton. Niat awal ingin bernostalgia, selain mau mengiming-imingi Lesra, anak sulung kami, siapa tahu ia sudah tertarik membaca novel setebal itu. Apa yang terjadi? Ia menyalip saya, merampungkan novel itu dalam tiga etape. Menjelang usia kedelapan, ia telah membaca novel pertamanya.

”Selamat ya, Les!” kata saya.

Karena kami juga suka nonton film, muncullah sebuah ide. Saya berinisiatif membuat perjanjian kecil dengannya, “Mulai sekarang, kalau ada novel yang dijadikan film, kamu harus membaca dulu novelnya, baru boleh menonton filmnya. Ya?” Ia mengangguk.

Lebih senang lagi, Tirza, adiknya yang berusia enam setengah tahun, ikut-ikutan. Sebelumnya ia masih lebih senang dibacakan buku. Sekarang ia jadi bergairah membaca sendiri buku-buku cerita tipis koleksinya.

Nah, Anda mau mengikuti jejak kami merusakkan televisi di rumah?

Silakan. Tetapi, kalau hasilnya tidak segera muncul, lalu Anda menganggap saya hanya mengibul, jangan menuntut ganti rugi ke rumah kami, ya!

Soalnya...

Ini dia. Soalnya, ada resep lain yang terkubur lebih dalam lagi, nyaris mengeras bersama fosil-fosil.

Mematikan televisi dan menggantinya dengan aktivitas membaca jelas penting. Tetapi, tidak ada simsalabim. Jangan berharap upaya itu langsung mendatangkan hasil yang gilang-gemilang dalam sepekan.

Sejak kecil kami sudah mendekatkan Lesra dan Tirza dengan bacaan. Ketika masih merangkak Lesra sudah suka membuka-buka koran. Sampai-sampai suatu hari ia memamah koran. Kami baru tahu ketika mengamati beraknya!

Bacaan pertama mereka buku abjad bergambar, tahap demi tahap berkembang seiring dengan pertumbuhan mereka. Istri saya rajin membacakan buku atau majalah untuk mereka. Menjelang bobok siang, bacaan umum. Sebelum tidur malam, kisah-kisah Alkitab. Kami berusaha menyisihkan dana secara teratur untuk membeli bacaan, dan membiarkan mereka memilih bacaan kesukaan yang kami anggap sesuai. Singkatnya, ayah membeli buku; ibu membacakannya untuk anak-anak. Sinergi yang hebat, bukan?

Ketika Lesra sudah lancar membaca, kami melanggankan koran anak-anak untuknya. Bapak baca koran umum, anak baca koran anak. Setiap saya jemput naik motor pulang sekolah, ia duduk di depan sambil menyimak koran barunya.

Menonton televisi, sebaliknya, memang sejak awal kami batasi. Hanya acara tertentu, seperti film kartun anak-anak, dan sedapat mungkin kami mendampinginya. Selebihnya, pesawat televisi dipakai untuk memutar film atau musik yang kami pilihkan untuk mereka.

Adanya teladan yang konsisten juga menentukan keberhasilan upaya ini. Anak-anak kami tentu sangat terkesan mempunyai ayah dan ibu yang sama-sama berkacamata tebal, yang sama-sama suka asyik menekuri bacaan. Membaca, lama-kelamaan, jadi barang yang tidak asing bagi mereka. Membaca, pelan-pelan, mudah-mudahan, jadi aktivitas yang mengasyikkan bagi mereka. Like father like son; like mother like daughter. Begitulah.

Maka, ketika antena rusak dan keluarga kami terpaksa berpuasa menonton televisi, mereka tidak merasa terlalu kehilangan. Tidak sampai terkangen-kangen pada SpongeBob.

Disclaimer: Misalkan Anda mencoba resep pertama, tetapi belum menjalankan resep kedua, Anda harus rela rugi kehilangan televisi. Dan, belum tentu anak Anda jadi cinta membaca. Yang mudah diduga, malah akan meledak percekcokan. Sebaliknya, kalau Anda menjalankan resep kedua, resep pertama silakan dimodifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing rumah tangga.

Saat ini ada gerakan ”Satu Hari Tanpa Televisi.” Di rumah kami, sejak antena itu rusak sampai entah kapan, setiap hari tiada siaran televisi.

Sebaliknya, buku-buku semakin memenuhi rak perpustakaan kami.

Jadi agak sunyi, memang, tetapi nikmat sekali. ***

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Maria Octora   |202.70.55.xxx |06-10-2009 03:38:48
kreatif !! cerdas !! opsi kedua perlu dilakukan saat sudah berkeluarga
Deasy   |64.255.180.xxx |12-10-2009 04:31:27
Keluarga kami juga tdk memiliki televisi. Sebagai ganti penyedia informasi, kami
up date informasi lewat internet melalui hp atau notebook dan kalau ingin
sesekali melihat film, notebook bisa berfungsi ganda, sebagai pemutar musik
juga. Selebihnya, waktu kami pakai untuk melakukan kegiatan bersama di rumah
after office hour, ngobrol, main, kerja di rumah dan baca alkitab sama2. Puji
Tuhan, tanpa televisi, waktu yang ada bisa dipakai maximal utk kebersamaan
keluarga.
s3th39  - setuju!!   |118.136.160.xxx |24-11-2009 03:32:46
kasus di keluargaku hampir sama mas. Konon ... bertahun-tahun yang lalu, ketika
TV cuman ada TVRI dan RCTI, TV kami rusak berbulan-bulan. sangkin bosannya
kami jadi tak pernah nonton TV. akhirnyaaa ... jadi keterusan sampe gede. hehehe
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."