• PDF

Membanggakan, Menggentarkan, Memprihatikan, dan Tak Terduga

Penilaian Pengunjung: / 5
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 29 Oktober 2009 10:54
  • Ditulis oleh Arie Saptaji
  • Sudah dibaca: 3592 kali

Saya menulis artikel, dimuat di sebuah majalah rohani populer, yang beredar ke berbagai gereja lintas denominasi. Artikel itu akan dibaca oleh orang-orang yang tertarik dengan topik bersangkutan. Ada yang menganggap artikel itu bagus, dan menyetujui pandangan saya. Ada pula yang mengerutkan kening, menganggap tulisan itu menyesatkan umat. Paling tidak begitulah yang saya bayangkan.

Selain menulis, di gereja saya kadang-kadang juga diberi kepercayaan untuk berkhotbah atau memimpin pendalaman Alkitab. Ya, kebanyakan di gereja saya sendiri; sejauh ini belum banyak gereja atau persekutuan yang mengundang saya menjadi pembicara.

Tulisan saya, dengan demikian, menerobos lebih jauh daripada pelayanan lisan saya. Kalau diundang menjadi pembicara, pengundang tentu sedikit banyak mempertimbangkan latar teologis saya. Salah satu pihak, misalnya, sempat memberi catatan, agar saya tidak menyinggung soal bahasa lidah. Artinya, kalau saya nekad melanggar aturan, berarti lampu merah menyala: saya tak akan diundang lagi ke lingkungan mereka.

Tulisan saya relatif bebas dari kekangan semacam itu. Artikel saya bisa sampai ke tangan jemaat yang kemungkinan besar tidak akan mengundang saya menjadi pembicara. Saya menulis artikel atau buku tentang Harry Potter, misalnya, dan menyanjung simbol dan nilai kristiani yang terkandung di dalamnya. Gereja yang pandangannya berlawanan dengan saya tentu tak berminat untuk mengundang saya sebagai pembicara. Namun, bisa saja anggota jemaat tersebut tetap membaca artikel atau buku saya, bukan? Kalau ada larangan resmi dari majelisnya, jangan-jangan artikel atau buku saya itu malah akan dicari-cari dan jadi laris!

Mengingat daya penetrasinya yang hebat, pelayanan literatur jadi membanggakan dan sekaligus menggentarkan. Membanggakan, karena kita bisa melayani umat Tuhan melintasi ruang dan waktu. Menggentarkan, karena hal itu mengandung tanggung jawab yang besar pula. Seperti diingatkan oleh Yakobus, orang yang menjadi pengajar – dan penulis dalam pengertian tertentu adalah pengajar – akan dituntut pertanggungjawaban dengan standar yang lebih berat. Dengan kata lain, modal utama seorang penulis sebenarnya bukanlah kemahiran mengolah kata, melainkan integritas pribadi – kesesuaian antara tulisan dan keseluruhan gaya hidupnya. Sungguh berat, bukan?

Namun, tampaknya bukan itu penyebab tidak banyaknya orang yang berminat terjun dalam pelayanan literatur. Saya terlibat dalam pelayanan literatur, dimulai dengan mengurus warta jemaat, sudah hampir dua puluh tahun. Sepanjang itu, rekan pelayanan saya terus berganti dari periode ke periode. Nah, jumlah mereka yang masih bertahan di bidang kepenulisan, dengan tulisannya terpublikasi di media massa atau terbit menjadi buku, bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Sebagian besar memilih menekuni pelayanan lain atau bekerja di bidang yang tidak banyak bersinggungan dengan penulisan kreatif. Pelayanan literatur, bagi mereka, tinggal jadi nostalgia masa lalu.

Pelayanan literatur, bagaimanapun, memang bukan bidang yang keren dan gemerlap. Meskipun relatif luwes menelusup ke segala penjuru, pelayanan ini kebanyakan bergerak di balik layar, fungsinya lebih mirip sebagai pelengkap. Kalau orang tertarik dengan khotbah seorang pengkhotbah, mungkin ia berharap ada buku yang bisa dibaca lebih lanjut. Atau, kalau majelis gereja mendorong jemaat membeli buku tertentu sebagai bahan pendalaman Alkitab, barulah buku itu akan dicari-cari.

Belum ada riset yang bisa dikutip statistiknya, namun kelihatannya jemaat, dan kebanyakan ibadah gereja, lebih berfokus pada khotbah. Buku baru ditengok bila perlu, dan bila mau. Secara kasar, perbandingan ini bisa dilihat dari perbedaan honor berkhotbah dan menulis. Ketika saya menulis artikel, dengan waktu riset dan penulisan sekitar dua hari, honorarium yang saya terima paling banyak hanya sekian puluh ribu. Namun, ketika artikel yang sama saya jadikan bahan khotbah selama setengah jam di sebuah persekutuan di ibukota, “dana kasih” yang saya terima jumlahnya hampir sepuluh kali lipat honor satu artikel. Hm, coba bayangkan kalau saya diundang sepuluh kali ke persekutuan semacam itu – wah, bisa-bisa jumlahnya mengungguli royalti yang saya terima dalam satu semester!

Selain itu, meskipun bisa melintasi batas-batas denominasi, dampak tulisan cenderung tidak langsung. Orang yang berkhotbah lalu menyampaikan tantangan mimbar akan segera menyaksikan berapa banyak di antara hadirin yang memberikan respon. Jemaat yang dikunjungi atau didoakan juga bisa langsung berterima kasih atas pelayanan tersebut. Sebaliknya, orang yang tersentuh karena sebuah artikel belum tentu memberikan umpan balik kepada penulisnya. Bisa jadi sampai meninggal pun seorang penulis belum tahu sejauh mana dampak karyanya.

Saya jadi ingat akan nasib George MacDonald. Tahun 1858, pendeta dan penulis dari Skotlandia ini, setelah lumayan sukses dengan beberapa buku, menerbitkan dongeng Phantastes. Ternyata buku itu tidak laku karena pembaca menganggap ceritanya ganjil. Penerbit lalu enggan menerbitkan karya-karyanya yang lain.

Sekitar 60 tahun kemudian seorang pemuda menemukan Phantastes di kios buku loak di sebuah stasiun. Saat membacanya di atas kereta api, pemuda itu begitu terpikat oleh dongeng fantasi tersebut: daya khayalnya serasa dibaptis. Pemuda itu bernama C.S. Lewis, saat itu seorang ateis.

Ketika kemudian menjadi Kristen, Lewis mengakui, Phantastes telah menjadi semacam titik balik baginya. Di dalam tulisan MacDonald, ia menemukan suatu nuansa kekudusan yang belum pernah dijumpainya sebelumnya. Karya-karyanya yang memancarkan cheerful goodness 'kebaikan yang menyenangkan hati', bukan saja memukau imajinasi, namun juga meyakinkannya bahwa kebenaran itu bukan sesuatu yang menjemukan. Siapa sangka sebuah “buku gagal” bisa menjadi benih pertobatan bagi pembacanya?

Begitulah sebagian dinamika pelayanan literatur: membanggakan secara daya penetrasi, menggentarkan secara pertanggungjawaban, cukup memprihatinkan secara ekonomi, dengan dampak yang kadang-kadang sungguh tak terduga. Masih berminat menekuni bidang pelayanan ini? ***

 

 

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
betie linawati   |125.163.38.xxx |30-10-2009 01:54:45
emm....memang sebuah pelayanan tu..butuh banyak perjuangan dan
pengorbanan....untuk..mencapai keberhasilan...karna banyak ritangan yang akan
timbul....dan rintangan itu timbul dari...dalam.....GBU
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."