• PDF

Selebritas Datang, Pahlawan Menghilang

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 14 November 2009 12:47
  • Ditulis oleh Arie Saptaji
  • Sudah dibaca: 2812 kali

”Salah satu pernyataan yang paling lazim dan berulang-ulang kita dengar dari mereka yang telah mencapai puncak sukses,” kata Ravi Zacharias, ”adalah bahwa kehampaan masih juga menghantui hidup mereka meskipun mereka telah mencetak berbagai kesuksesan. Pengakuan semacam ini paling tidak menjelaskan mengapa pertanyaan tentang makna itu begitu mendasar di dalam ziarah kehidupan. Meskipun tidak ada orang yang suka mengakuinya, yang mendatangkan tujuan dalam hidup ini bagi banyak orang, khususnya di negeri-negeri yang menawarkan kesempatan berusaha yang berlimpah, adalah standar penghidupan yang lebih tinggi, bahkan bila hal itu berarti mereka mesti rela mati untuk memperolehnya. Namun, berdasarkan komentar sejumlah orang yang telah menggapai standar tinggi tersebut, tidak jarang muncul keluhan kekecewaan. Setelah kemenangan keduanya di Wimbledon, Boris Becker mengejutkan dunia engan mengakui dirinya bergumul hebat dengan hasrat untuk bunuh diri.”

Salah satu bentuk kesia-siaan yang menggila belakangan ini, dengan Howard Hughes menjadi salah satu pelopornya, ditabalkan dengan istilah mencorong: budaya selebritas. Selebritas, menurut pakar sejarah Daniel Boorstin, adalah "seseorang yang dikenal karena keterkenalannya." Zaman dulu, nama seseorang tidak akan bisa dikenal luas kecuali kalau dia memberikan contoh kebesaran dirinya dalam satu atau lain hal. Dengan kata lain, keunggulan karakter seseoranglah yang benar-benar diperhitungkan. Namun, sepanjang abad kedua puluh, semakin lama semakin rancu pengertian antara pemujaan terhadap selebritas dan pemujaan terhadap para pahlawan yang meneladankan keunggulan karakter. “Kita semua sudah rela disesatkan, sehingga percaya,” kata Boorstin, “bahwa kemasyhuran---keterkenalan---masih menjadi tanda kebesaran.”

Bukan hanya para bintang dalam industri hiburan, namun pengusaha, pengacara, dokter, ekonom, penulis, pendidik, pemimpin agama sampai presiden pun bisa tergoda mengenakan selubung selebritas yang serba kemilau. Pejabat pemerintah dan wakil rakyat yang bukannya sibuk tebar kinerja malah hilir-mudik tebar pesona tengah berkubang dalam gebyar budaya selebritas. Dan, kita memuja-muja para pesohor itu---sosok-sosok yang oleh Boorstin disebut pseudo-people, orang-orang semu. Era ini seolah-olah berseru: Yang bukan seleb tidak usah ambil bagian!

Budaya selebritas menghancurkan realitas dan menggantinya dengan ilusi: yang disebut reality show di televisi itu tidak lain pementasan kejadian yang telah direkayasa dan diarahkan; sosok-sosok pesohor yang mondar-mandir di ruang publik itu telah dibesut sedemikian rupa sehingga menampilkan citra sesuai dengan yang diinginkan. Budaya selebritas menawari kita kemasan yang elok, dengan substansi yang bagai kucing dalam karung. Dalam budaya selebritas, prestasi bisa berkibar-kibar tanpa landasan karakter dan budi pekerti yang solid. Budaya selebritas, singkatnya, menawarkan perspektif yang juling: ia menyulap kesia-siaan menjadi komoditas yang menawan.

Budaya selebritas mewakili gelagat kedangkalan dunia kontemporer. Seperti dicatat Kompas saat mencermati budaya layanan SMS, ”Masyarakat merayakan omong kosong karena tidak mampu menghadapi persoalan hidup sebenarnya yang mencemaskan. Inilah kenaifan budaya yang membenamkan diri pada segala yang remeh-temeh, dangkal, dan hanya mengambil efek emosional dari teknologi informasi.”

Akankah kita membiarkan diri kita, keluarga kita, terhanyut dalam trend mencemaskan ini? ***

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."