Di Manakah Supremasi Hukum Itu?

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Seminar, diskusi, diklat, sarasehan, perbaikan kurikulum sekolah hukum, entah apalagi usaha lainnya telah dilakukan untuk memperbaiki citra hukum atau supremasi hukum di negeri ber-Pancasila ini. Komitmen bersama para penegak hukum, ataupun rekomitmen bersama, atau reformasi, dan sebagainya telah dilakukan, untuk menegakkan hukum dan keadilan. Akan tetapi semuanya tampaknya sudah tiada arti lagi.

Kasus demi kasus silih berganti datang ..., namun hampir tidak ada yang tuntas. Hukum pun ternyata pandang bulu, antara 'bulu' pejabat yang korup dengan 'bulu' si miskin yang kedapatan mencuri motor yang hingga babak belur dihajar massa, atau bahkan mati dibakar massa.

Pabrik hukum (DPR) pun ternyata banyak yang melakukan kecurangan alias korup. Kasus suap, kasus menyalahgunakan keputusan dewan untuk melencer ke luar negeri atau untuk menambah fasilitas anggota dewan yang 'terhormat.' Di kala rakyat banyak yang stres, hingga gila atau bunuh diri, karena kesulitan ekonomi yang mencekik, sungguh tidak lagi menyentuh lubuk hati mereka.

Kalau demikian, di manakah keadilan? Di manakah supremasi hukum itu?

Semuanya PERCUMA dan PERCUMA..., selama hati manusia atau hati ribuan orang-orang hukum di Indonesia masih dalam kegelapan dunia.

Hai para hakim, pengacara, dan jaksa.., di manakah kebenaran yang engkau perjuangkan..? Sungguh sia-sia semua kebenaran yang engkau suarakan. Palu yang yang engkau ketuk 'berbungkuskan' uang ... (hakim), pembelaan yang engkau perjuangkan penuh dengan 'keadilan uang' (pengacara), dan penahanan maupun penuntutan yang engkau lakukan engkau buat menjadi suatu komoditi yang sangat mahal untuk diperdagangkan...(jaksa). Dasar manusia semua telah berdosa!

"Tidak ada yang benar, seorang pun tidak." (Roma 3:10)

"Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." (Roma 3:23)

"Tidak ada seorang pun yang berakal budi.., TIDAK ADA SEORANG PUN YANG MENCARI ALLAH.." (Roma 3:11)

Hai para Jaksa, para hakim, para pengacara....., keadilan apakah yang engkau cari..? Keadilan apakah yang engkau perjuangkan...?

Mungkin ada diantara engkau beridentitas Kristen ..., tapi keadilan apa yang engkau perjuangkan...? Engkau mempermalukan Tuhan dengan identitasmu ... Tidak ada bedanya.., banyak di antara engkau yang menjadi PENIPU RAKYAT...MAKELAR PERKARA..., pejuang keadilan yang serakah....

Benarlah apa yang dikatakan oleh Pengkhotbah:

"....kulihat di bawah matahari; di tempat pengadilan, di situ pun terdapat ketidakadilan...dan di tempat keadilan, di situ pun terdapat ketidakadilan. Berkatalah aku dalam hati: Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya." (Pengkhotbah 3: 16-17)

Wahai para pengacara, jaksa, dan hakim..., apa yang engkau cari?

Pengkhotbah berkata:
"Segala sesuatu sia-sia.."
"Apa gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari..?"
"Aku melihat lagi kesia-siaan di bawah matahari..."

Wahai para penegak hukum.., apa yang engkau raih?

Pengkhotbah berkata:
"Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang..."
"Matahari terbit...dan matahari terbenam.."
"lalu terburu-buru menuju ia terbit kembali.." dst..
"SEGALA SESUATU MENJEMUKAN, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar ... apa yang pernah ada akan ada lagi .., akan yang pernah dibuat akan dibuat lagi ... TIDAK ADA SESUATU YANG BARU di bawah matahari."

Jika negeri ini ingin menegakkan supremasi hukum maka para pendekar hukum perlu mengetahui hal-hal berikut ini, bahwa:

* Sumber hukum tertinggi adalah Allah;
* Hukum pertama dan terutama ialah mengasihi Tuhan dan sesama;
* Tuhan yang mana yang dikasihi?
* Tuhan Yesus Kristus, yang adalah Kebenaran (sumber Hukum)
* Keadilan Allah dinyatakan dalam Kristus;
* Yesus Kristus menggenapi hukum Taurat (hukum tertulis);
* Menggenapi, yaitu Yesus dalam hati setiap orang percaya;
* Kristus yang ada dalam hati orang percaya menjadi Hukum Taurat bagi dirinya dalam hatinya...;

Mari kita renungkan bersama: dari sekian ribu orang pendekar hukum di Indonesia..., berapa orang yang mengakui bahwa Allah adalah sumber hukum sejati?

Dari sekian ribu orang penegak hukum di Indonesia berapa orang yang menerima Tuhan Yesus sebagai Taurat dalam hatinya?

Dari sekian ribu orang aparat hukum di Indonesia..., berapa orang yang menerima keadilan Allah dalam Kristus Tuhan? Jangan berharap akan tercapai keadilan di negeri ini kalau keadilan Tuhan belum dinyatakan pada pelaku-pelaku penegak hukum.

Oleh karena itu, janganlah berharap pada manusia, tetapi berharaplah pada Tuhan. Jangan andalkan hikmat manusia, tetapi mintalah hikmat dari Dia yang berkeadilan dan sumber hukum yang sejati. Yesus Kristus namaNya. Amin.

Augustinus Simanjuntak
(Mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum Unair)
Cat: artikel ini untuk kalangan sendiri.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Anonymous   |110.139.28.xxx |20-11-2009 18:07:53
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."