• PDF

JANGAN DIBENCI KARENA KESALAHAN KITA

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:09
  • Ditulis oleh Augustinus Simanjuntak
  • Sudah dibaca: 3159 kali
Setelah kebenaran dinyatakan dalam diri Yesus Kristus, umat Tuhan sepanjang masa memang acapkali dibenci oleh dunia. Dunia membenci kebenaran itu. Dalam Alkitab diceritakan, bagaimana Yohanes Pembabtis yang dipenggal kepalanya atas permintaan putri Raja Herodes. Rasul Paulus dipenjara dan akhirnya mati dibunuh. Demikian juga para Rasul lainnya serta para jemaat banyak yang mengalami penderitaan dan penganiayaan.  Menderita karena kebenaran.  Dibenci karena iman kepada Yesus Kristus Sang Juru Selamat dunia.

Tetapi menjadi persoalan mendasar ketika kebencian itu timbul bukan disebabkan oleh kebenaran di dalam Kristus. Kebencian itu bukan lagi hanya dikarenakan pemberitaan Injil. Akan tetapi penderitaan dan kebencian itu sering kali muncul karena kesalahan Kekristenan sendiri. Kebencian timbul karena kesaksian dan tindakan jemaat yang tidak baik dan tidak bijaksana dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menimbulkan banyak persoalan berhubungan dengan relasinya kepada sesamanya manusia. Kekristenan yang telah melembaga ke berbagai institusi gereja dan pelayanan, termasuk institusi agama dalam negara, umat Kristen justru semakin diperhadapkan pada berbagai kendala yang cukup kompleks. Beberapa kendala dimaksud ialah:

Pertama. Kesaksian hidup. Tidak jarang kita mendengar sesama umat Tuhan berkelahi, berebut posisi, berperkara, suami isteri bercerai, dan sebagainya. Selain itu, tindakan kriminal bukan lagi hanya didominasi oleh orang-orang di luar Kristen dalam berbagai aspek kehidupan. Kita tidak jarang mendengar orang Kristen mencuri, menipu, memfitnah, korupsi, mabuk, bahkan membunuh.  Bisa juga kejahatan dilakukan karena ia masuk dalam sebuah sistem, yang kebetulan bobrok, yaitu sistem yang penuh dengan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). 

Orang Kristen yang melakukan kejahatan bisa ketahuan identitasnya sebagai Kristen berdasarkan pengakuan maupun dari hasil penyidikan aparat yang selalu menanyakan identitas agama tersangka, atau bisa juga kelihatan dari identitas namanya yang bercirikan nama Kekristenan, walaupun nama tidak terlalu menentukan.

Dampak kejahatan oleh sebagian "orang Kristen" ini sangat luas. Negara dan masyarakat bisa dirugikan oleh kejahatnnya. Asumsi dari luar Kekristenan ialah bahwa sikap dan perilaku manusia di dunia ini sama saja, entah itu Kristen atau non Kristen, sehingga dunia memandang Kekristenan tidak ada istimewanya, apalagi jika dikaitkan dengan fungsi "garam dan terang". Lebih tragis lagi apabila sikap, perilaku dan tindakan sebagian "orang Kristen" itu sungguh telah mempermalukan Allah.

Kedua, negara-negara besar yang diidentikkan dengan "negara Kristen" sering melakukan kebijakan atau tindakan yang dipandang tidak manusiawi dan tidak adil. Contohnya, ketika Amerika Serikat menyerbu Iraq beberapa tahun yang lalu dan ketidaktegasannya terhadap Israel yang menduduki tanah Palestina, mengakibatkan dampak yang luas terhadap Kekristenan. Kaum di luar Kristen menganggap bahwa umat Kristen juga suka perang dan membunuh orang. Padahal, penduduk Amerika itu terdiri dari beraneka ragam latar belakang, di antaranya; Kristen, Katolik, Islam, Agama Yahudi, Atheis, Budha, Hindu, dan sebagainya. 

Akibatnya acapkali timbul kecurigaan, terutama terhadap Kristen dan Yahudi, seolah-olah ada konspirasi untuk menghadapi golongan tertentu dalam masyarakat dunia.

Ketiga, sikap eksklusif umat Kristen juga mempengaruhi "image" sesamanya yang lain. Rasa curiga dan kebencian itu timbul karena fungsi garam dan terang itu tidak tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali garam itu tidak merembes, tetapi bergumpal-gumpal. Kalau diibaratkan dalam suatu hidangan makanan, bila garamnya masih bergumpal-gumpal, pasti rasanya tidak mengenakkan, bahkan bisa menjengkelkan walaupun rasa asin itu tetap ada. 

Demikian juga Kekristenan, kalau tidak bisa bersosialisasi dengan masyarakat lainnya, maka yang timbul adalah rasa curiga dan kebencian. Di samping itu, ajaran Kekristenan diharapkan berperan sebagai sumber moralitas manusia Indonesia. Di era sekarang tidak masanya lagi sekedar memperjuangkan sekelompok orang/golongan tertentu, tetapi berjuang untuk semua golongan, demi kebaikan bersama.

Keempat, sikap kurang bijaksana dalam pendirian rumah ibadah dan dalam menjalankan ibadah. Kurang bijaksana apabila jemaat Tuhan mendirikan gedung peribadatan di tengah-tengah masyarakat yang berbeda keyakinan yang berjumlah lebih besar. Demikian juga ibadah yang sampai mengganggu ketenteraman dan kenyamanan lingkungan sekitar gedung peribadatan.  Acapkali terjadi, umat Tuhan bersuka cita memuji Tuhan di dalam rumah ibadah, tetapi orang yang berada di luar sangat jengkel dengan suara-suara musik dan dram yang terlalu keras.  Kalau ada yang berkata: "orang lain juga sering ramai, mengapa kita tidak boleh",  maka itu merupakan penilaian yang keliru. Kita harus beda dengan dunia (Roma: 12:2).

Kelima, Salah satu kesalahan kita sebagai umat ialah image/anggapan orang bahwa orang Kristen itu kaya. Suatu pemandangan yang kurang mengenakkan ketika kesenjangan sosial sangat mencolok antara orang-orang di dalam gedung peribadatan dengan di luar gedung.  Akibat yang muncul ialah kecemburuan sosial, bahkan bisa menimbulkan gejolak sosial, seperti kerusuhan dan penjarahan. Hal ini membuat jemaat takut. 

Pengamat Sosial dari FISIP Unair, Dr. Hotman Siahaan pernah mengatakan: "rasa takut itu tidak perlu ada kalau jemaat tidak naik mercy ke gereja. Kalau naik becak, itu malah bisa membantu para tukang becak dalam mencari nafkah. Salah satu kesalahan kita sebagai umat ialah image/anggapan orang bahwa orang Kristen itu kaya."

Hal-hal di atas merupakan tantangan berat bagi Kekristenan, terutama bagi kita yang betul-betul telah menyadari keberadaannya sebagai anak Tuhan yang telah diberi Anugerah Keselamatan untuk hidup penuh pengharapan dan sejahtera dalam Kasih Kristus. Setiap individu dan lembaga Kristen diharapkan menyadari keberadaaannya itu . Setiap gereja diharapkan lebih memperhatikan pertumbuhan rohani jemaatnya secara keseluruhan tanpa kecuali. Kita sangat bersyukur apabila dalam setiap lembaga Kekristenan tidak ada seorang pun yang keberadaannya masih tergolong "Kristen KTP". 

Tantangan ini memang berat, tetapi kalau kita mengandalkan pertolongan dari Tuhan dan dengan motifasi yang benar dihadapan Tuhan maka segala tantangan tersebut akan bisa teratasi.

Mau tidak mau, Kekristenan harus meminimalisasi kejahatan yang dilakukan oleh sebagian orang yang berlabel Kristen. Memang sudah terlanjur Kekristenan itu melembaga, terutama dalam bentuk Agama, sehingga kalau ada seorang yang beragama Kristen melakukan kejahatan, maka nama Kekristenan secara keseluruhan ikut rusak. Namun melalui pembinaan yang lebih intensif dan terpola diharapkan bisa membentuk jemaat semakin mengasihi Tuhan dan sesamanya.

Dengan demikian, tantangan Kekristenan bukan hanya terletak pada orang belum mengenal Kristus, tetapi tantangan juga sama beratnya terletak pada lingkungan Kekristenan sendiri, apakah orang Kristen di dalam masing-masing institusi kita sudah benar-benar Kristen sejati atau belum. Paling tidak kita bisa tahu dari pengakuan pribadinya, pola hidupnya dan pemahamannya tentang Firman Tuhan. Kekristenan harus membiasakan diri membatasi sikap eksklusifisme. Gereja harus bisa berbaur dengan masyarakat sekitarnya. Di satu sisi sikap eksklusif memang diperlukan bagi umat Kristen yaitu untuk keperluan persekutuan, untuk saling meneguhkan/menguatkan, saling berbagi suka dan duka/beban, dan lain-lain yang menyangkut persekutuan. Namun di luar itu, Kekristenan tidak lepas dari dunia luar (non Kristen).

Di samping kewajiban memberitakan Injil (mandat Penginjilan), umat Kristen juga dituntut untuk mewarnai kehidupan di dunia (mandat Budaya). Umat Kristen harus ikut berperan dalam memperbaiki setiap sistem yang rusak/bobrok. Misalnya dalam sistem politik, Kekristenan harus ikut mewarnainya dalam bentuk pemikiran dan "suara kenabian". Dunia politik bukan merupakan suatu hal yang tabu bagi Kekristenan, malahan rusaknya sistem politik tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab Kekristenan dalam proses pembangunannya. Dunia politik membutuhkan suara kebenaran yang bersumber dari Kristus (Kebenaran sejati) yang hanya terdapat pada orang yang percaya pada Dia.

Oleh karena itu, dari uraian di atas, diharapkan agar penderitaan, kebencian dan penganiayaan yang dihadapi oleh Kekristenan jangan sampai terjadi dikarenakan oleh kesalahan Umat Kristen sendiri. Tetapi: "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga" . dan .. "Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat" .. "Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di Sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu" (Matius 5:10-12). Dengan demikian nama Tuhan akan dipermuliakan.**
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."