• PDF

5000 Orang Makan Roti, Pengikut Yesus-kah?

Penilaian Pengunjung: / 9
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 11:40
  • Ditulis oleh Augustinus Simanjuntak
  • Sudah dibaca: 6840 kali

Saudara yang dikasihi Tuhan, kitab Yohanes 6 bercerita tentang mujizat yang dibuat oleh Tuhan Yesus yakni memberi makan  5000 orang, yang menurut kitab Matius jumlah itu belum termasuk perempuan dan anak-anak.

Setelah peristiwa yang ajaib itu, orang-orang itu berkata: ”Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia" (ayat 14).

Saudara, persepsi orang-orang di dalam peristiwa itu ternyata tidak jauh beda dengan persepsi orang banyak pada Matius 20 yang berbondong-bondong mengikut Yesus ketika Dia mujizat mencelikkan mata orang buta. Waktu itu orang banyak menyebut Yesus sebagai nabi dari Nazaret di Galilea (Matius 21).

Bandingkan dengan sebutan dua orang buta itu terhadap Yesus (Matius 20) ketika keduanya berteriak: ”Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami” (buta, tetapi melihat dengan mata iman bahwa Yesus adalah Tuhan, Raja Surgawi). Sedangkan orang-orang yang telah makan roti menganggap Yesus sekedar nabi.

Persepsi mereka yang keliru tentang Yesus (bahwa Yesus raja duniawi yang bisa dipakai untuk melakukan mujizat-mujizat) maka mereka datang dan hendak membawa Yesus dengan paksa untuk menjadikan DIA raja. Kalau Yesus sebagai raja dunia bisa dimanfaatkan untuk melakukan berbagai mujizat demi kesenangan mereka sendiri. Juga, menjadikan Yesus sebagai raja akan bisa membawa mereka menuju kemerdekaan dari penjajahan Romawi.

Padahal, tujuan Tuhan Yesus datang ke  dunia bukan menjadi raja duniawi, melainkan menjadi Raja Sorgawi. Oleh karena itulah, Yesus pun harus menyingkir ke gunung seorang diri (Yohanes 6 : 15) untuk menghindar dari orang-orang yang bermotif keliru itu.

Bahkan, murid-murid pun tetap keliru memandang Yesus (Markus 6: 49-52). Mereka menganggap Yesus sebagai hantu ketika Yesus berjalan di atas air. Oleh karena itu di ayat 52 (Markus) dikatakan:  ”sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil”.

Dengan persepsi dan motivasi yang keliru, orang banyak itu pun mencari Yesus (Yohanes 6:22-24) dan akhirnya menemukan Dia di seberang laut.

Waktu itulah Yesus berkata kepada mereka: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.” (ayat 26).

Lalu Yesus berfirman tentang Roti Hidup. Yesus berkata ”Akulah roti hidup, barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barang siapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.....”

Tetapi, dengan mendengar penjelasan Tuhan Yesus tentang roti hidup itu, apakah mereka justru semakin mengikut Tuhan Yesus?

Ternyata tidak. Kesalahan persepsi dan motivasi mereka yang keliru dalam mengikut Yesus telah membuat mereka akhirnya undur satu demi satu dari Yesus ketika Yesus meluruskan kekeliruan itu. Di akhir perikop berkata: ”Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya”. Justru ketika Yesus meluruskannya banyak murid-muridNya yang mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia (Yoh. 6:66).

Hingga akhirnya Yesus bertanya kepada Petrus: ”Apakah kamu tidak mau pergi juga?”. Ini suatu ungkapan 'kekecewaan' Yesus kepada orang banyak dan murid-murid lainnya yang akhirnya akhirnya ramai-ramai meninggalkan DIA setelah penjelasan Yesus tidak sesuai dengan keingingan (kedagingan) mereka.

Saudara, apa hikmah dari peristiwa ini?
  1. Banyak orang di jaman ini yang mengaku Kristen (pengikut Kristus) karena mujizat-mujizat yang bersifat materi atau nafsu kedagingan. Ini merupakan kesalahan yang fatal dalam kekristenan. Orientasinya ialah mujizat yang memuaskan diri atau nafsu kedagingan.

  2. Bahkan, banyak ajaran-ajaran yang menjadikan ayat tentang mujizat
    dari Tuhan Yesus (memberi makan 5000 orang, mencelikkan mata orang buta, dan
    sebagainya) sebagai ayat untuk menjadikan Yesus sebagai ”kacung” (pesuruh) untuk membuat mujizat-mujizat lainnya (kesembuhan, menjadi kaya, dan
    sebagainya). Mereka menjadikan mujizat sebagai tujuan sekaligus sebagai alat untuk menjangkau pengikut demi kesuksesan materi.

  3. Saudara, seperti telah pernah disinggung pada renungan sebelumnya
    bahwa tujuan Yesus datang ke dunia BUKAN untuk mujizat yang bersifat
    materi dan kedagingan. Alangkah tragis dan ironisnya kalau Yesus
    datang hingga mati disalibkan hanya untuk mujizat materialistik.

  4. Saudara, Yesus datang memberitakan terang, dan menderita hingga
    mati di kayu salib adalah untuk KESELAMATAN jiwa manusia berdosa. Dia
    datang untuk menebus setiap dosa yang beriman kepadaNya.

Dengan demikian, mujizat terbesar dalam hidup Kristen ialah ketika kita telah diperdamaikan dengan Allah Bapa di sorga dan mengenal DIA yang telah mati bagi penebusan dosa manusia. Iman sejati akan berkata: ”Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami yang berdosa ini”. Amin.

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
suparman simamora   |125.165.32.xxx |02-08-2009 05:15:22
bagus sekali refleksinya. Memang benar bahwa muzijat bukan tujuan Yesus, namun
sebagai tanda yang menyertai kehadiran kerajaan-Nya di bumi.
Anonymous   |110.139.91.xxx |16-02-2011 23:26:51
Yesus putra Daud....kasihanilah kami orang yang berdosa ini....
Anonymous   |118.96.131.xxx |16-06-2011 21:47:17
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."