• PDF

Pemerintah Fasik, Rakyat Berkeluhkesah

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 11:41
  • Ditulis oleh Augustinus Simanjuntak
  • Sudah dibaca: 3825 kali
(Amsal 29:2)

Rakyat berkeluhkesah. Itulah realitas kehidupan bangsa kita akhir-akhir ini. Sejak krisis ekonomi melanda negeri ini sejak tahun 1997 lalu sebagian besar rakyat diperhadapkan dengan berbagai derita maupun situasi yang tak menentu disertai oleh musibah demi musibah atau bencana demi bencana yang datang silih berganti, seolah tak ada hentinya.

Akibat krisis ekonomi yang dibarengi krisis di berbagai bidang lainnya, rakyat sudah tak hentinya berkeluhkesah tentang tingginya harga kebutuhan pokok, sulitnya mencari pekerjaan, tingginya biaya pendidikan dan kesehatan, serta lambannya pelayanan birokrasi. Lihat saja, hampir tiap hari kita disuguhi oleh media massa dengan berita-berita tentang keluh-kesah rakyat.

Derita rakyat itu ternyata kian memuncak di awal bulan Oktober lalu ketika harga BBM naik melebihi 80% dari harga semula. Kenaikan ini pun langsung diikuti oleh naiknya harga kebutuhan primer dan sekunder rakyat. Akibatnya, keluh kesah rakyat pun kian bertambah. Seolah rakyat kita sedang dilatih terus-menerus untuk menderita hingga akhirnya pasrah dengan keadaan.

Keluhan pun muncul ketika penyaluran subsidi langsung BBM bagi kalangan miskin. Di mana-mana timbul protes karena data aparat RT atau kelurahan dianggap tak tepat sasaran. Bahkan penyalurannya pun telah memakan korban jiwa karena harus antri berjam-jam, ada pula ketua RT yang hampir bunuh diri karena stres menghadapi protes warganya.

Ironisnya, di saat rakyat sedang berkeluh kesah akibat situasi krisis, musibah demi musibah terjadi di negeri ini. Tak akan hilang dari ingatan kita tragedi tsunami yang menghantam wilayah Aceh dan Nias, tragedi kecelakaan angkutan darat maupun udara, tragedi tanah longsor, banjir bandang, wabah penyakit, tragedi bom Bali I dan II, dan sebagainya. Semua tragedi itu telah menimbulkan banyak korban jiwa, sehingga keluh kesah rakyat pun kian sempurna akibat duka yang mendalam.

Itulah keluh kesah rakyat yang sulit rasanya bisa dimengerti oleh sebagian besar petinggi maupun wakil rakyat di negeri ini karena mereka tidak ikut merasakannya. Malah anggota DPR/ DPRD masih tega-teganya menuntut kenaikan gaji atau berbagai jenis tunjangan di saat rakyat sedang tak henti-hentinya berkeluh kesah. Ironis memang, gaya hidup mewah para pejabat acapkali dipertontonkan kepada rakyat yang sedang berkeluhkesah. Feodalis-borjuis!

Mengapa rakyat berkeluh kesah, sedangkan para pejabat (eksekutif, legislatif, judisiil) tidak? Jawaban orang awam tidak lain karena kebutuhan para pejabat memang sangat terpenuhi, sedangkan rakyatnya banyak yang sangat berkesusahan. Tetapi, jawaban ini bukanlah faktor yang terpenting.

Derita dan keluh kesah rakyat timbul bukan karena soal pemenuhan kebutuhan yang senjang antara para pejabat dengan rakyat, melainkan akibat kefasikan (dosa) pemerintahan. Fasik artinya, pemerintah dan aparat-aparatnya sering berbohong atau tidak jujur kepada rakyat, melakukan kejahatan (korupsi dan pelanggaran HAM), dan rakyat dijadikan sebagai objek yang bisa dipermainkan.

Korelasi antara dosa-dosa pemerintahan dengan derita atau keluh kesah rakyat ini telah diungkapkan oleh Raja Salomo dalam Kitab Amsal 29:2 yang berkata: "Jika orang benar bertambah, bersukacitalah rakyat, tetapi jika orang fasik memerintah, berkeluhkesahlah rakyat."

Apa yang dikatakan oleh Raja Salomo di atas tidak main-main. Tidak bisa tidak, bahwa suasana cemas dan keluh kesah rakyat tidak bisa dilepaskan dari kefasikan para pejabat negara di suatu negara.

Hal di atas pun bisa dijelaskan sesuai dengan adigium yang mengatakan: "kebenaran akan selalu berbuahkan kebaikan dan kedamaian, sedangkan kejahatan (kefasikan) akan selalu berujung pada malapetaka."

Kemudian malapetaka yang timbul akibat kefasikan penguasa (yang diikuti oleh sebagian rakyatnya) akan selalu membuahkan keluh kesah bagi banyak orang meskipun sebenarnya malapetaka itu sebagai konsekuensi atas kefasikan berkelompok yang dilakukan secara sistematis.

Namun yang menjadi korban adalah rakyat. Konkritnya, apa yang bisa ditauladani rakyat dari para pemimpin yang fasik? Bisakah rakyat hidup puas dengan pemerintahan yang tidak jujur? Dalam suatu sistem pemerintahan yang didominasi oleh orang tak jujur, bukankah kebohongan akan berbuahkan kebohongan? Inilah sumber keluh kesah rakyat.

Malapetaka atau musibah memang tidak memandang kelas, jabatan, atau kekayaan. Siapa pun bisa terkena musibah. Akan tetapi, dalam konteks ini, berhubung rakyat dalam posisi yang lemah alias tak berdaya maka rakyatlah yang paling banyak berkeluh kesah atau menjadi korban. Para elit masih bisa hidup tenang di tengah kekuatan uang, kedudukan, tempat dan fasilitas yang memadai yang jauh dari bahaya bencana alam maupun krisis ekonomi. Sedangkan rakyat banyak yang terpaksa bermukim di wilayah rawan bencana dengan fasilitas apa adanya.

Namun perlu diingat, bagi para penipu rakyat atau para koruptor yang masih merasa nyaman di negeri ini mulai sekarang perlu menyadari bahwa Tuhan tidak akan tinggal diam melihat perbuatan mereka yang fasik. Apabila para pengelola negara tidak peduli dengan segala pertanda berupa bencana dan kerusakan lingkungan maka musibah demi musibah akan terjadi, tinggal menunggu waktu. Ini menjadi peringatan bagi seluruh umat manusia.

Jadi, keluh kesah rakyat dan musibah yang terjadi silih berganti di negara kita ini tidak bisa lepas dari berbagai bentuk kefasikan di tubuh pemerintahan, di lembaga perwakilan rakyat, maupun di badan peradilan. Rakyat hanyalah korban ketidakberesan dalam pengelolaan negara. Rakyat tidak akan bisa hidup nyaman dan tenteram di tengah suasana sistem politik dan hukum yang penuh dengan kebohongan dan kenistaan.

Oleh karena itu, untuk menyelesaikan keluh kesah rakyat, pemerintah dan seluruh aparaturnya harus memulai suatu tugas dan tanggungjawab yang mulia dan terhormat dengan berbicara jujur dan transparan di hadapan masyarakat. Segudang kasus di negeri ini yang hingga kini masih "gelap" harus segera diselesaikan secara jujur. Kalau kasus-kasus itu tidak diungkap secara tuntas, jujur, dan adil maka itu akan terus menjadi aib yang bisa berdampak buruk bagi masa depan bangsa Indonesia.

Misalnya saja, siapa sebenarnya dalang di balik kasus menguapnya dana BLBI yang berjumlah ratusan triliun rupiah, dan siapa sebenarnya pelaku utama kasus pembunuhan pejuang HAM Munir, serta siapa pula di balik kasus pembobolan BNI yang berjumlah triliunan rupiah itu? Bagaimana dengan dalang kasus korupsi di BUMN-BUMN? Bagaimana dengan kasus suap di lembaga-lembaga penegak hukum? Dan masih banyak lagi kasus-kasus lain yang belum dituntaskan secara jujur. Ketidakjujuran adalah fasik.

Bentuk-bentuk kefasikan itulah sumber keluh kesah rakyat selama ini. Keluh kesah di sini bukan hanya akibat dampak material yang menimbulkan musibah atau krisis ekonomi, akan tetapi lebih jauh lagi ialah dampak secara spiritual terhadap kehidupan sosial yang menimbulkan keluh kesah secara bathiniah bagi rakyat.

Untuk mengobati keluh kesah rakyat, pemerintah tidak bisa hanya berpatokan pada angka-angka pertumbuhan ekonomi, apalagi kalau angka-angka itu diraih dengan pola gambling ala utilitarian yang menghalalkan segala cara untuk kemanfaatan terbesar bagi jumlah terbesar orang. Perlu diingat bahwa kepuasan rakyat tidak hanya terletak pada pemenuhan kebutuhan pokok, akan tetapi jauh lebih penting dari itu ialah nilai aksiologis dari sebuah tontonan kinerja para pejabat publik maupun aparat penegak hukum yang penuh disiplin, integritas moral dan pengabdian.

Kiranya kebenaran dan keadilan ditegakkan di Indonesia. Semoga Tuhan menolong kita dalam mewujudkan hal itu di masa-masa mendatang. Amin.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
AdhY  - korupsi     |125.163.251.xxx |18-11-2009 16:43:46
erwin simanjuntak  - white or black   |222.124.8.xxx |02-01-2012 21:18:58
white and black adalah dua warna yang berlawanan atau sering juga disebut dengan
antonim.Dengan politik pun demikian ada politik yang membangun untuk
kesejahteraan rakyat dan ada pula politik yang"membunuh" rakyat. Bahkan
penganut politik hitam dengan berkedok politik putih mereka (para
politikus)berusaha untuk mengambil hati rakyat,padahal tujuan mereka adalah
untuk melukai rakyat.Sadis. Kejam.Mereka egois.
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."