• PDF

SMS Part One

Penilaian Pengunjung: / 5
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:19
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
  • Sudah dibaca: 5041 kali

Pada mulanya adalah Matti Makkonen. Ia adalah seorang insinyur belia berusia 30 tahun yang bekerja pada perusahaan telekomunikasi Finnish, di Finland. Tahun 1982 ia melontarkan ide tentang text messaging melalui jaringan telepon selular berbasis GSM (Global System for Mobile Communications). What an idea!

 

Tetapi pada saat itu nggak terlintas sedikit pun dalam benaknya, bahwa ia baru saja melontarkan sebuah ide revolusioner. Ide yang kemudian mampu mengubah dunia telekomunikasi. Dan merembet ke nyaris semua aspek kehidupan manusia; ekonomi, politik, sosial, budaya, agama, pendidikan. Bahkan relasi antar manusia.

Ide tersebut dimatangkan oleh para pakar telekomunikasi GSM dunia. Dibahas berulang-ulang. Tanpa satu pun di antara mereka yang menduga, bahwa Short Messaging Service, atau yang populer dengan SMS, akan menjadi sebuah mesin uang baru di masa depan. Dan akan sanggup berkembang dengan pesat.

Setelah penyempurnaan di sana-sini, pada tanggal 3 Desember 1992 akhirnya sebuah SMS pertama di dunia dikirimkan. SMS “coba-coba” ini dikirim oleh Neil Papworth dari Sema Group, perusahaan konsultan IT di Inggris (sekarang salah satu unit dari Schlumberger Limited) melalui komputernya. Penerimanya Richard Jarvis dari perusahaan telekomunikasi Vodafone Inggris di telepon selulernya. Isi pesannya: Merry Christmas. Pesan visioner yang “pas” untuk menandai kelahiran sesuatu yang fenomenal.

Perkembangan selanjutnya nggak langsung boom “melesat lari”. Tapi mirip bayi yang baru belajar berjalan. Tertatih dan terseok. Ketika pertama kali diperkenalkan, SMS mencatat angka pesimistik. Masyakarat nggak ngerespons. Para petinggi telekomunikasi nyaris putus asa. Sampai tahun 1995 rata-rata satu pelanggan GSM hanya mengirim 0,4 pesan per bulan. Nggak sampai satu SMS sebulan. Sampai tahun 2000 di Eropa angkanya masih jauh dari menggembirakan. Hanya 35 SMS per pelanggan per bulan.

            Tetapi itu 5-10 tahun lalu. Lain dulu lain sekarang. Zaman telah berganti. Orang telah berubah kiblat. Sekarang SMS bagai primadona. Dan operator GSM di seluruh dunia kini tengah menuai apa yang mereka tabur. Konon di dunia sekarang ada sekitar 1,4 miliar pengguna telepon selular. Dapat dipastikan 85% dari jumlah itu menggunakan fasilitas SMS setiap hari.

            Di Indonesia booming SMS terjadi sejak tahun 2002. Ketika itu setiap hari ada sekitar 10 juta SMS yang terkirim. Setahun berarti ada 3,65 miliar SMS. Itu hanya di Indonesia. Sebuah angka yang fantastis. Lain Indonesia, lain China. Tahun 2002 ada 206 juta pengguna telepon selular di negara tirai bambu itu. Angka yang wajar kalau dilihat dari jumlah penduduknya. Dan dalam setahun ada 90 Miliar SMS berseliweran antar handphone di China .

            Mari berhitung. Di Indonesia anggap saja harga satu SMS Rp. 250 per sekali kirim, maka ada uang senilai 900 milyar rupiah lebih setahun. Di China biaya kirim SMS 0,10 yuan. Jadi nilai semua SMS di sana sembilan milyar yuan setahun atau lebih dari 2,5 trilyun rupiah. Itu hanya tahun 2002. Dan hanya di dua negara. Gimana kalau di seluruh dunia kan?

            Padahal itu baru tahun awal kebangkitan SMS di seluruh dunia. Tahun-tahun selanjutnya, angka-angka tadi meningkat sangat fantastik. Misalnya tahun 2004 di Indonesia tiap hari pengguna telepon seluler mengirimkan 20 juta SMS. Dan itu hanya untuk satu operator. Padahal di Indonesia ada lebih dari 5 operator selular. Apalagi kalau hari raya. Kayak Natal, Lebaran, dan tahun baru. Angkanya bisa naik berlipat-lipat. Wuiihh!

            Sampai pertengahan 2004, di seluruh dunia ada sekitar 500 milyar SMS yang berseliweran antar pengguna telepon selular dalam setahunnya. Angka yang luar biasa. Dihitung-hitung kalau Matti Makkonen, si pencetus ide SMS, menerima 0,1 persen dari total pendapatan yang dihasilkan oleh SMS di seluruh dunia, ia akan menjadi milyuner dengan pendapatan EUR 50 juta per tahun.

Lalu kenapa namanya nggak tercantum di daftar orang kaya dunia versi Forbes? Jawabannya sungguh ironi. Karena ternyata Makkonen nggak menerima satu sen pun dari ide SMS-nya yang brilyan itu. Sebab nggak ada paten atas ide itu. Ide yang terlontar di sebuah Pizeria di Copenhagen, Denmark itu dianggap sebagai “kewajiban” bagi seorang karyawan untuk memberi ide kepada perusahaan.

Toh kekecewaannya nggak membuat ia berhenti berkarya di dunia telekomunikasi. Setelah sempat berkarir di perusahan negara pos dan telekomunikasi, Posti Finland, Makkonen hingga kini masih tercatat sebagai CEO di Finnet, perusahaan Finland yang juga bergerak di bidang telekomunikasi. Satu-satunya “royalti” yang diterima Makkonen adalah namanya selalu dikaitkan orang dengan penemu SMS. Bahkan ia pun menerima “gelar”: The Father of SMS. Bapak SMS.

*

Kini SMS seolah sudah menjadi “gaya hidup”. Kecepatan perkembangannya nggak bisa dilepas dari “metamorfosa” handphone atau telepon seluler. Dari sebuah produk teknologi canggih dan mahal ke benda super biasa yang bisa terjangkau berbagai kalangan masyarakat.

Lihat saja profil para pengguna handphone sekarang. Mulai dari pekerja rumah tangga, pedagang jamu gendong, tukang ojek, tukang sayur, sampai para eksekutif berdasi. Mulai dari pekerja super sibuk sampai para pengangguran. Mulai dari yang berpendidikan tinggi sampai yang nggak. Mulai usia tua hingga anak-anak. Semua nggak asing dengan handphone.

Handphone murah marak ditawarkan. Lengkap dengan iming-iming hadiah, diskon atau bahkan kredit tanpa bunga. Kartu perdana fasilitas canggih diiklankan dimana-mana. Pulsa murah dan gratis free-talk juga gencar dijadikan alat penarik konsumen.

Pendek kata orang sekarang diberi “doktrin” baru, bahwa sekarang nggak ada alasan untuk nggak punya handphone. Meminjam tag line iklan yang pernah menghias layar kaca televisi di Indonesia, “Hari geneee, nggak punya handphone?”.

Dari sanalah SMS seolah mendapat lahan subur untuk berkembang. Mudah, murah dan cepat. Maka semaraklah SMS. Nggak cuma pesan penting dan genting, tapi juga pesan basa-basi. Sekadar tanya, “pa kbr, bro?”. Atau sekadar jawab, “ok”.

Di kalangan tertentu SMS-an bahkan sudah menjadi hobi. Tiada hari tanpa SMS. Seolah hari terasa nggak lengkap tanpa SMS. Ada loh orang yang menghabiskan uang hingga jutaan rupiah hanya untuk SMS.

Lalu apa itu salah? Salah tentu saja nggak. Toh kita memang butuh sarana komunikasi. Terutama untuk kegiatan yang produktif dan positif. Bagus-bagus saja. Sebagai hobi just fun-fun gitu, oke-oke juga. Tapi kalau kemudian menjadi adiktif terhadapnya. Nggak bisa lepas darinya. Menjadi lupa daratan. Lupa diri karenanya. Ya bahaya. Segala sesuatu yang ekstrim alias berlebihan nggak baik-lah.

Di Jerman ditemukan dua kasus penyimpangan perilaku dari hobi SMS-an yang kebablasan. Kasus pertama, ada seorang remaja pria yang harus membayar tagihan 8.900 Euro (setara $11.010 atau Rp 101.292.000 dengan kurs 9.200)! Kasus kedua, ada satu pasangan suami istri yang segitu tergantungnya pada SMS, mereka mengaku hanya dapat berkomunikasi dengan SMS. Bahkan ketika mereka duduk samping-sampingan.

Bagaimana di Indonesia? Belum dengar sih ada orang yang sampai ngehabisin uang puluhan hingga tembus angka seratus juta-an just for SMS. Juga belum pernah dengar-lah ada suami istri yang sampai hanya bisa saling berkomunikasi lewat SMS. Tapi bahwa SMS sudah jadi semacam “hobi” dan “gaya hidup” baru, rasanya sudah bukan rahasia lagi deh. Ketika ngumpul bareng keluarga, orang bisa tetap asyik SMS-an dengan temannya. Bahkan dalam kebaktian di gereja, walau ada himbauan matikan handphone, tetap saja ada orang yang sempet-sempetnya SMS-an :). Seolah nggak di mana pun dan kapan pun, ngga bisa nggak SMS. Ini bukan joke.

Produk teknologi se-fenomenal dan oke apa pun, hanya akan berguna kalau bisa kita kendalikan. Bukan mengendalikan kita. Segala sesuatu yang nggak terkendali biasanya akan menyusahkan kita.

So, usul neh. Kan ada tuh ajakan “Sehari tanpa televisi, guna meredam pengaruh buruk televisi”, atau “Sehari nggak pakai mobil pribadi, guna mengurangi polusi udara”. Nah, bisa ngga kita juga canangkan sehari tanpa SMS. Biar kita selalu ingat, bahwa SMS tuh bisa jadi candu yang buruk. Without SMS, life must go on toh?!

http://ayubyahya.blogspot.com

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
victor87   |117.103.171.xxx |29-01-2010 16:19:44
iya, saya sering sehari tanpa sms. Pernah malah 3 hari tanpa sms. Tapi buat
orang yang candu sms, sejam tanpa sms, dia kira hapenya rusak
endang triningsih  - SMS part one   |61.8.73.xxx |26-07-2010 23:35:55
Trims artikelnya. Kadang2 saya juga merasa diacuhkan oleh seseorang yang sedang
bicara dengan saya namun langsung mengalihkan perhatiannya ke hapenya karena ada
sms yang masuk. Pesan sms bagi sebagian orang seperti pesan gawat darurat dan
harus segera dibaca dan dijawab -- persis seperti yang Bapak katakan, bisa jadi
candu. Saya sependapat bahwa kitalah yang seharusnya bisa mengendalikan diri ber
sms ria.
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."