• PDF

Paradoks Teknologi

Penilaian Pengunjung: / 5
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:19
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
  • Sudah dibaca: 3518 kali

Misi di Berlin. Lindsey Ferris tertangkap gembong senjata pemusnah massal, Owen Davian. Upaya penyelamatan pun digagas. Tapi gagal. Ferris tewas. Nggak lama setelah itu, kolega Ferris menerima sepucuk kartu pos. Bukan kartu pos biasa. Di bawah perangkonya ada microdot. Penerimanya adalah Ethan Hunt, agen IMF, Impossible Mission Force. Itu satu cuplikan adegan pembuka Mission Impossible III yang dibintangi Tom Cruise. Fiksi?

Nggak. Teknologi microdot bukan fiksi. Di Australia dan Afrika Selatan saat ini, dipakai untuk meminimalisir kasus pencurian kendaraan. Kehadirannya bikin teknologi GPS (Global Positioning System) terasa jadi out of date.

Gordan Moore, salah satu pendiri Intel bahkan bilang kemampuan prosesor komputer bertambah dua kali lipat tiap 18 bulan. Bayangkan, kalo begitu terus, tahun 2030, ukuran transistornya hanya akan menjadi sebesar atom hidrogen!

Konon, di Amerika saja pada tahun 2005 saja ada 30 juta unit komputer yang dibuang karena nggak kompatibel lagi. Konon, di seluruh dunia, tiap bulan ada 40 juta sambungan baru handphone. Dengan 2,5 miliar ponsel aktif. Konon, tiap tahun 50 juta mobil diproduksi di seluruh dunia. Konon, benda paling primitif yang masih dipake manusia saat ini hanyalah api. Selebihnya udah jadi penghuni museum or jadi memorabilia hard rock café and planet hollywood.

Sekarang memang era digital. Era X-Men yang bikin Matrix jadi usang. Saat dimana Roger Moore nggak pantes jadi James Bond yang naik BMW Z8 yang canggih tapi Pierce Brosnan. Kala ukuran handphone makin lama makin menyusut jadi lebih kecil dari telapak tangan. Waktu dimana mesin cuci, kulkas dan AC jadi syarat standar sebuah apartment.

Berbahagialah kita yang hidup di zaman penuh kemudahan ini. Benarkah? Nggak juga. Dalam sebuah penelitian tentang tingkat kebahagiaan. Ternyata kita yang hidup di tahun milenium nggak lebih bahagia dibanding kakek nenek kita yang bangga nyebut diri mereka sebagai flower generation di tahun 1950an. Artinya, bahwa teknologi dan kemajuan yang dicapai manusia zaman sekarang ini nggak menambah kebahagiaan pada manusia.

*

            Teknologi bagai madu dan racun. Kadang malah buah simalakama. Diturutin salah, nggak diikutin ribet. Ada tiga ironi teknologi dalam keseharian kita. Pertama, mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Dengan orang-orang yang “jauh” kita jadi “dekat”. Kita bisa asyik chatting, ikut milis, posting-postingan komen di threads, blogwalking, surfer segala informasi di search engine, bahkan terkoneksi dengan orang-orang-orang lewat friendster. Dunia jadi boarderless. Singapore serasa sepelemparan batu dengan Amerika.

Tapi, sebaliknya, dengan orang-orang yang dekat, malah jadi jauh. Saking asyiknya, kerap malah kita abai terhadap keluarga. Lupa sahabat, lupa bersosialisasi dengan tetangga apartment kita. Ada loh penelitian di Amerika dan Inggris yang bilang bahwa, chatting di internet tuh jadi salah satu pemicu perceraian or putus pacar. Nah loh!

Kedua, kemajuan teknologi, beriringan pula dengan kemunduran. Teknologi dipake juga sama para penjahat. Kayak cybercrime yang mewabah. Or handphone yang ternyata ga cuma alat komunikasi tapi juga pemicu timer bom. Belum teknologi senjata, penipuan kartu kredit, dan lain-lain.

Nggak itu saja, teknologi juga bikin orang jadi manja. Dulu katanya pemain bulutangkis di Indonesia tuh masih naik turun tangga. Stamina ikut terlatih. Tubuh jadi fit. Sekarang, pake lift. Jangan-jangan lift ikut berperan terhadap kemerosotan prestasi pebulutangkis ya :). Televisi bukan hanya makin menarik, tapi juga makin marak. Masyarakat betul-betul dimanjakan dengan acara televisi. Tapi akibatnya budaya baca pun tergerus. Mana ada bangsa yang “maju” tanpa budaya baca kan ?!

Ketiga, makin canggih teknologi, orang jadi makin tergantung. Ada loh orang yang nggak jadi naik ke lantai dua pusat perbelanjaan karena eskalatornya under-repaired. Sekarang banyak loh orang yang rela turun dari MRT dan balik ke rumah karena HP ketinggalan. Nggak bawa hp rasanya ada yang kurang aja. Padahal dulu kan, life goes on without it. Konon di Indonesia, tukang ojek en tukang sayur aja punya hp. Demi kelancaran bisnis :).

Hidup jadi nggak lengkap tanpa itu semua. Jadi tergantung. Bukan kita yang memiliki benda itu tapi benda itu yang memiliki kita. Akhirnya, kita jadi nggak “merdeka”. Terikat dan terbelenggu olehnya.

Padahal, dalam hidup ini, banyak hal yang nggak bisa digantikan dengan teknologi secanggih apa pun. Misalnya, kasih sayang orang tua kepada anak nggak bisa digantikan oleh playstation 2 atau gadget termodern sekalipun kan.

Budaya dongeng sebelum tidur nggak bisa digantikan dengan channel televisi terbaik atau VCD pendidikan tercanggih. Pendampingan kepada anak secara fisik penting untuk menciptakan bonding dan mengajarkan nilai-nilai hidup. Dan itu nggak bisa dipercayakan kepada sesame street or seekor tikur sengetop Mickey Mouse sekalipun kan.

Atau, bukan berarti dengan menonton siaran kanal TV TBN, kita serasa udah ke gereja. Gereja nggak bisa digantikan dengan “gereja televisi”, walau pengkhotbahnya adalah pendeta or penginjil tersohor sekalipun. Ada aspek persekutuan yang hanya bisa dipenuhi dengan kehadiran kita di gereja. Ikatan persekutuan dan persaudaraan yang saling menguatkan dan mendoakan hanya bisa tumbuh subur secara maksimal dengan pertemuan.

Teknologi memang penting. Memang dibutuhkan. Tapi, jadikan ia “pelayan” dan bukan “tuan” atas hidup kita. Hadir untuk memudahkan hidup kita demi mendatangkan kebaikan, bukan untuk membuat kita nggak bisa hidup tanpanya.

http://ayubyahya.blogspot.com

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
victor87   |Registered |29-01-2010 14:55:44
Semua hal duniawi pasti selalu punya dua sisi. Ada sisi baik dan buruk. Tapi
bukan berarti teknologi gak bisa dimanfaatkan untuk kemuliaan Tuhan. Seperti
sekarang teknologi LCD proyektor yang ada di gereja-gereja. Membuat suasana
lebih "hidup".
Tapi, ada juga sisi jeleknya. Jemaat jadi individualis.
Dulu, sebelum ada LCD di gereja, pada waktu nyanyi atau baca alkitab, kalau ada
jemaat yang gak bawa apa-apa, bisa 'nebeng' jemaat sebelahnya. Kadang malah
bisa jadi kenal dan akrab. Sekarang hal itu udah jarang dilihat >>> jemaat
bertegur sapa dengan sebelahnya. Dan yang buat saya gak habis pikir sampai
sekarang, ada liturgi "Salam Damai" di GKI.

Jemaat GKI kalo gak
disuruh salaman, gak bakal salaman soalnya
sandra  - paradoks teknologi   |Registered |23-03-2010 04:59:48
teknologi ibarat sebilah pisau di tangan kita, dapat dimanfaatkan untuk yg baik,
bs juga dimanfaatkan untuk yg tidak baik. perlu hikmat untuk dapat menempatkan
teknologi pada tempatnya. sehingga hal-hal yang baik (misalnya budaya membaca
atau belajar)tetap terpelihara dlm kehidupan kita, bahkan hal-hal yang baik
tersebut dapat kita lakukan dengan lebih baik lagi dengan adanya teknologi.
dengan kemajuan teknologi yg pesat sebenarnya merupakan anugerah Tuhan. jadi
kita harus memanfaatkannya untuk kemuliaan nama Tuhan. jangan malah salah
mempergunakannya. butuh hikmat dan takut akan Tuhan.
BILLY  - paradoks teknologi   |125.167.134.xxx |18-10-2010 21:11:41
Menghadapi teknologi selain melihat sisi baik dan keuntungannya serta takut akan
Tuhan kita perlu menambahkan minta Hikmat Tuhan agar tipu muslihat setan tdk
menggaburkan arti kebaikan teknologi,seperti handphone menjadi andalan kita
(kalau ketinggalan hp seperti dunia menjadi kiamat) ataupun keluar rumah yang
dipikirkan uang harus disaku/dompet bukan mengandalkan Tuhan atau jika kita
sakit yang dipikirkan pertama adalah dokter dan obat bukan mengandalkan Tuhan
baru obat n dokter. Semua direkayasa iblis sehingga tanpa kita sadar, kita
terjerumus pada berhala baru. Jadi sekali lagi setelah meminta Hikmat dan Takut
akan Tuhan baru melangkah memanfaatkan kebaikan teknologi.
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."