• PDF

Bluffing

Penilaian Pengunjung: / 5
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:20
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
  • Sudah dibaca: 4567 kali

“Ini sih gue kenal baik, temannya adik ipar paman gue,” kata Miss Anu ketika melihat foto selebritis terkenal di sebuah majalah. Kalimat yang biasa. Wajar kan ada orang yang punya hubungan dengan orang ngetop. Masalahnya, kalau kalimat sejenis itu kerap kita dengar dari orang yang sama. Mulai dari neneknya yang masih saudara dekat Sri Sultan; kerabatnya yang koleksi mobil mewah; oom-nya yang nikah dengan artis terkenal; sampe barang-barang berharga yang disimpan di brankas rumahnya. Minta ampun deh.

Atau Bu Anu yang katanya pernah beberapa kali sekamar sama mamanya Agnes Monica. Sering fitnes bareng Inul Daratista. Pergi belanja berdua Meriam Bellina. Dan pernah ke rumah Dorce dibonceng sepeda motor Glenn Fredly. O ya, itu belum seberapa. Ia juga kerap telpon-telponan dengan Sutiyoso. Disambut ramah di rumah Jusuf  Kalla. Dan beberapa kali diundang ke perhelatan di kediaman SBY. Di sana ia duduk semeja dengan Mbak Mega dan Taufik Kiemas. Semua itu katanya. Hebat, kan?

Ada lagi kisah versi Pak Anu. Ia ngakunya punya mobil jaguar biru metalik. Motor Harley Davidson dua biji. Bisnisnya maju sampe setiap minggu bolak-balik luar negeri. Dan tentu saja, dengan penerbangan first class. Apartemen dan ruko atas namanya nyaris ada di tiap lokasi emas, mulai dari kepala naga sampai ekor naga. Ia penggemar karya seni tingkat dunia, sehingga rutin ikut acara di balai lelang Christie. Ruaarr biasa.

Atau Mas Anu. Konon, kata ia, semua teman wanita di kantornya dulu pernah patah hati sama ia. Promosi jabatan di kantornya sekarang sering banget dilakukan, dan ia selalu kebagian jatah. Dulu nilai kuliahnya hampir semua A. Kecuali katanya, skripsi ia. Cuma dapat B. Tapi itu karena dosen pengujinya sentimen sama ia. Nyaris semua cafe anak gaul di Jakarta pernah disambanginya. Itu karena ia kenal dengan nyaris separuh dari preman Jakarta . Wow, keren!

*

            Mungkin kita pernah ketemu dengan orang seperti itu. Para pembual. Suka ngomong gede. Hiperboliswan-hiperboliswati. Jauh fakta dari kata. Biasanya mereka nggak mau kalah. Seolah orang mahapenting nan hebat nian. Bluffer.

Mulai dari yang nge-bluff  kecil-kecilan. Kenyataan dua dibilang tiga. Punya tiga ngakunya empat. Sampai yang high-class. Ngaku kaya. Berlagak selebritis. Punya koneksi para pejabat, dan lain-lain.

            Dalam permainan poker ada istilah bluffing. Ini merujuk pada strategi pemain untuk menggertak lawan demi memperoleh kemenangan. Dengan bertingkah dan bertindak seolah-olah kartu yang dipegangnya “ciamik” dan pasti menang. Lawan yang kalah gertak akan termakan umpan. Lalu pilih menyerah.

            Dalam teknik negosiasi juga ada bluffing. Ini taktik klasik yang sering digunakan oleh para negosiator. Tujuannya untuk mengelabui lawan berunding. Caranya dengan membuat distorsi fakta yang ada. Lalu membangun suatu gambaran yang tidak benar, tapi seolah benar.

            Sebagai bagian dari strategi permainan poker atau negosiasi bluffing is oke-oke saja. Tapi nge-bluff dalam kehidupan nyata sehari-hari adalah kesalahan fatal. Super blooper. Sebab sekali kita ketangkap basah nge-bluff. Saat itu juga kita kehilangan semua kepercayaan dan kredibilitas. Kita akan berubah dari angsa cantik nan anggun, menjadi the ugly duck.

*

Lalu kenapa orang nge-bluff? Walau orang yang suka nge-bluff itu kelihatannya sangat percaya diri. Pe-de habis. Punya nyali selangit untuk menceritakan fantasi dan bualan mereka. Tapi sebetulnya sikap demikian biasanya berakar pada ketidakpercayaan diri. Ada rasa minder yang terselubung. Dan kemudian mencoba menutupinya dengan bluffing. Membual.

Mereka ingin mendapatkan pengakuan dengan cara yang keliru. Ingin diakui dan diterima dalam sebuah komunitas dengan cara-cara yang mereka pikir tepat, padahal itu tindakan dungu. Blunder. Mengharap simpati, malah menuai antipati. Mengharap respek dan hormat, malah menuai gunjingan dan olok-olok. Penghargaan orang nggak akan bisa kita menangkan dengan “bergaya seolah selebritis”.

Celakanya, ada saja orang yang menganggap dirinya hanya akan dipandang dan dianggap kalau ia punya modal. Entah kekayaan atau popularitas. Sehingga mereka rela melakukan apa saja demi meraihnya. Termasuk mempermalukan diri sendiri dengan cara nge-bluff.

Orang seperti itu kasihan sebetulnya. Mereka bagai hidup di dua dunia. Dunia nyata dan dunia mimpi. Dunia nyata yang tanpa sadar, mau mereka sangkali. Dunia mimpi yang tanpa sadar, mau mereka junjung. Poorest bluffer!

So, buat bluffing-mania, bertobatlah! Apa adanya itu indah loh.

 

http://ayubyahya.blogspot.com

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Anna   |203.161.24.xxx |26-05-2010 15:45:00
se7
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."