• PDF

Mitos Pernikahan

Penilaian Pengunjung: / 8
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:21
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
  • Sudah dibaca: 4836 kali
Mitos tuh sesuatu yang nggak benar, tapi kerap sudah dianggap benar. Dalam bahasa Inggris kata myth bisa diterjemahkan pula: isapan jempol, cerita yang dibuat-buat. Istilah kerennya, urban legend. Artinya, cerita yang nggak ada dasar faktanya. Pada tahun 1999 ada film berjudul sama, yang dibintangi Tara Reid dan Joshua Jackson. Ceritanya tentang mitos-mitos yang menjadi kenyataan.

   

        Banyak loh mitos di seputar kehidupan kita. Contohnya, bahwa wanita itu sudah kodratnya melayani suami. Ini mitos. Tugas wanita melayani suami itu bukan kodrat. Tapi konstruksi sosial. Bikinan masyarakat. Yang betul, tugas melayani bukan hanya ada di pundak wanita, tapi di pundak laki-laki juga. Jadi saling melayani gitulah. Perbedaan kodrat wanita dengan laki-laki hanya pada dua hal ini: melahirkan dan menyusui anak.

            Contoh lain, bahwa siklus hidup manusia katanya: lahir – kawin – mati. Ini juga mitos. Yang betul, lahir dan mati itu hak prerogatif Tuhan. Sesuatu yang sudah pasti. Tidak bisa kita tolak. Sedang kawin itu soal pilihan. Dengan alasan tertentu, kita bisa toh memilih untuk nggak kawin.

*

            Dalam pernikahan juga ada mitos-mitos. Salah satu mitos itu, bahwa pernikahan yang baik dan sehat harus bebas dari konflik. Seumpama jalan, lurus dan mulus. Adem ayem. Nggak ada kerikil sebiji pun. Karena itu konflik harus dihindari jauh-jauh. Nggak boleh ada dalam kehidupan pernikahan. Tabu.

            Anggapan ini keliru. Mana mungkin kan dalam kehidupan keluarga nggak ada berbeda pendapat. Selalu rukun; aman, tentram, loh jinawi. Nggak mungkinlah dua pribadi yang berbeda — latar belakang, pola pikir, pola rasa, karakter — dapat seia sekata dalam segala hal; serba seragam dalam semua aspek. Nggak mungkinlah sebuah pernikahan berjalan tanpa konflik sama sekali, bagai sungai tanpa riak.

            Seumpama tubuh kita saja deh. Sedisiplin dan setelaten apapun kita menjaga kebugaran dan kesehatan, pastilah ada saatnya kita sakit. Sesekali ya, ambruk juga. Serukun dan semesra apapun sebuah rumah tangga, pastilah ada saatnya cekcok. Nggak selalu cocok.

            Dan konflik dalam hidup pernikahan tuh wajar koq. Bahkan sebetulnya sejauh dapat dikendalikan, konflik justru bisa menghasilkan banyak hal yang baik. Pasti ada pembelajaran di balik sebuah konflik.

            Yang penting sebetulnya bukan konfliknya, tapi bagaimana kita menanganinya. Apa pun yang dikonflikin, nggak soal. Yang penting, bisa nggak kita menyikapinya dengan bijak dan bajik?! Sebuah konflik akan produktif atau kontraproduktif, itu sangat tergantung cara kita mengelolanya.

*

            Nah, bagaimana kita menangani konflik dengan baik?

            Pertama, jangan menutupi masalah dengan cara mendiamkannya. Ada masalah tapi seolah-olah tidak ada masalah. Ini kecenderungan orang yang mau amannya saja. Seakan dengan diam, masalah bisa selesai dengan sendirinya. “Tidak perlu dibahas, nanti juga ia ngerti sendiri.” Atau, “Ngapain dibahas, entar malah tambah panjang masalahnya. Makin ribet dan runyam.” Begitu alasannya. Memang bisa terlihat damai sih, tapi gersang :)

            Dalam hidup pernikahan, komunikasi dan keterbukaan adalah hal yang sangat penting. Maka, bicaralah secara terbuka. Bahas setiap masalah sampai tuntas. Kasarnya jangan tidur dengan masalah. Problems are there to be solved. Dalam rumah tangga kadang diam memang berarti emas. Tapi ada saatnya berbicara itu platina. Yang perlu diperhatikan ketika membahas masalah; bijak-bijaklah memilih cara yang tepat, waktu yang tepat, dan tempat yang tepat.

            Kedua, jangan menumpuk perasaan negatif. Kemarahan, kesedihan, kekecewaan, kekesalan, atau apa pun. Sebaiknya ungkapkan secara terbuka. Cari suasana yang pas. Tentu dengan cara yang pas pula. Sebab kalau terus ditumpuk dan dipendam, hanya akan lebih menyakitkan. Kita bisa stress; uring-uringan sendiri, marah-marah sendiri. Nggak produktif. Bahkan bisa seperti teko tertutup yang terus-menerus dipanaskan, lama-lama: Bomm!! Meledak. Nggak terkendali. Merugikan diri sendiri, merugikan orang lain.

            Seperti kata pepatah, hati boleh panas kepala haruslah tetap dingin. So, buang jauh-jauh prasangka. Jangan bicara atas dasar prasangka. Bahas bersama sebagai dua orang dewasa yang masing-masing menginginkan yang terbaik untuk pasangannya. Rasul Paulus mengatakan; lupakan yang di belakang, arahkan kepada apa yang di hadapan. Itu yang penting. Hidup tidak surut ke belakang, bukan?

            Ketiga, jangan menyerang pribadi pasangan kita. Jangan mengungkit-ungkit keluarganya-lah, pendidikannya-lah, masa lalunya-lah. Bicarakan saja apa inti persoalannya. Tidak usah melebar ke hal-hal yang nggak penting. Apalagi ke sesuatu yang nggak nyambung.

            Contohnya deh. Kalau rumah berantakan, mainan anak-anak berhamburan di mana-mana, pakaian kotor juga berserakan. Daripada ngomong “Kamu koq ga bisa ngatur rumah sih? Rumah jadi kayak kandang aja. Dasar jorok”. Bukankah lebih baik dan elok bilang “kalau rumah berantakan, kan ga enak dilihat. Ga nyaman. Ada baiknya anak-anak diajarin beresin mainan sehabis main. Pakaian cucian, mbok di sediakan tempatnya, biar ga berserakan begini”. Jadi, jangan sekadar menyalahkan atau memojokkan, tapi berikan solusi. Beginilah loh baiknya. Jadinya positif kan . Masalahnya terselesaikan. Komunikasi nggak rusak.

*

            Dan yang penting pula, seperti dikatakan dalam Ibrani 10:24-25, “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi masrilah kita saling menasehati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat”.

            Oh, alangkah indahnya kalau relasi suami–istri didasari dengan sikap saling memperhatikan. Bukan untuk saling mengorek keburukan loh. Tapi untuk saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Sehingga masing-masing bisa saling menjadi berkat. Yang satu nggak lengkap tanpa yang lain. Saling men-support untuk mencapai tingkat hidup rohani dan jasmani yang lebih baik.

Penting juga untuk menyempatkan diri beribadah bersama. Ibadah; baik itu ibadah keluarga maupun ibadah di gereja, akan memperteguh relasi, memperkuat komunikasi, menjaga komitmen. Ibadah bagi keluarga bagai tiang bagi sebuah rumah. Memperindah sekaligus memperkokoh.

 

Ayub Yahya
http://ayubyahya.blogspot.com

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Rimuengtapa     |64.255.180.xxx |16-05-2011 02:29:29
Kata rasul paulus"lupakan yg di belakang arahkan kepada apa yg ada
dibelakang" maksudnya g'boleh sodomi ya?
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."