• PDF

Dua Wajah Televisi

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:22
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
  • Sudah dibaca: 3118 kali
   Televisi berwajah ganda. Satu sisi ia memberi informasi dan menambah wawasan. Kita bisa tahu keadaan negara lain atau daerah lain dengan nonton televisi. Kita bisa tahu perkembangan mulai dari musik, mode, olah raga dan film, sampai politik dan ilmu pengetahuan lewat televisi.

 

     Pendek kata, televisi bisa membuat kita tidak terlalu kuper alias kurang pergaulan. Jadi kalau, misalnya, orang-orang lagi pada ngomongin aksi David Beckham di lapangan sepak bola, gaya panggung Kris Dayanti dalam konser tunggalnya, atau model rambutnya F-4, kita gak akan terlalu kayak kambing congek, gak tahu apa-apa sama sekali.

            Memang bisa juga sih kita dapetin info seputar hal-hal itu dengan membaca koran, majalah atau surfing internet. Tetapi apa yang disajikan televisi tetap berbeda. Kalau di koran, majalah, dan internet kita hanya membaca berita serunya pertandingan LA Lakers melawan San Antonio Spur atau hebohnya goyang ngebor Inul, misalnya. Lewat televisi kita bisa lihat sendiri serunya pertandingan LA Lakers melawan San Antonio Spur tuh kayak gimana. Atau, goyang ngebor Inul yang diributkan itu ternyata ya cuma begitu-begitu doang.

Lebih lagi, televisi juga bisa menyajikan acara secara langsung – entah lokal macam acara tutup tahun di Monas, maupun mancanegara macam siaran sepakbola atau tinju dunia. Jadi kita yang nonton pun rasanya bisa ikut terlibat.

            Disamping itu televisi juga menghibur. Opa oma di Panti Jompo, atau yang tengah sendirian di rumah, pasti merasakan betul manfaat televisi. Begitu juga orang yang sedang kesepian, be te, bosan. Ibaratnya hidup segan mati gak mau. Kayak kita saja deh. Tengah malam tahu-tahu terbangun, mau tidur lagi gak bisa. Yang bisa dikerjakan juga gak ada. Nah, dalam situasi demikian, televisi bisa menjadi teman “pembunuh waktu” yang ampuh. Apalagi sekarang kan televisi 24 jam.

            Namun hati-hati, di sisi lain televisi juga bisa meracuni; memberi info yang keliru, menggiring kita pada tindakan dan pola pikir yang merugikan. Contohnya, iklan yang memang dibikin semenarik dan semenggoda mungkin; kalau dituruti bisa mendorong kita untuk kepengen ini kepengen itu. Yang gak kita perluin pun bisa-bisa kita beli juga. Jadi boros kan .

            Atau juga dengan film-film kekerasan. Bagi orang dewasa yang sudah bisa membedakan mana kejadian yang sebenarnya mana kejadian yang sekadar rekaan mungkin tidak begitu berpengaruh. Tetapi bagi anak-anak, atau remaja-remaja tanggung salah didikan, yang main tiru dan telan bulat-bulat apa yang ditontonnya, bisa celaka tiga belas. Sampai pernah ada anak yang luka parah gara-gara niru Superman; pakai kain sarung yang diikatkan di belakang leher, lalu loncat dari pohon tinggi. 

Jeleknya lagi televisi, ia memang diprogram untuk bikin kita kecanduan. Entah lewat iming-iming hadiah kuis, entah juga lewat iklan mengenai acara-acara yang akan diputar. Misalnya, sore nanti telenovela apa, tengah malam ini film apa, lalu besok sinteron berjudul apa, dan lusa siaran sepakbola antara apa lawan apa. Tentunya lengkap dengan segala daya tariknya yang dilebih-lebihkan.

Repotnya pula, tanpa sadar tidak sedikit orang yang membiarkan hidupnya dikontrol oleh televisi. Ada loh ibu-ibu yang cepet-cepet menutup tokonya, karena mau nonton bagian terakhir Maria Mercedes, telenovela yang beberapa tahun lalu sempat sangat populer. Ada juga bapak-bapak yang sampai ngebela-belain tidur sore supaya tengah malam menjelang subuh bisa bangun karena pengen nonton Ronaldo, Zidane, Figo, Raul, dan Beckham dengan Real Madridnya dalam siaran langsung sepakbola Liga Spanyol.

Padahal, coba deh pikir, kalaulah kita sudah nonton telenovela itu atau siaran langsung sepakbola itu, lalu apa hidup kita menjadi lebih baik atau lebih indah? Gak kan ? Kalau sudah nonton, ya sudah sampai di situ. Titik. Besok-lusa sudah lupa. Jadi buat apa sih sampai harus ngorbanin ini dan itu untuk sesuatu yang – meminjam sebuah ungkapan orang bijak – “sia-sia di antara segala kesia-siaan”.

Oleh karena itu kita perlu kritis dan selektif dalam menonton televisi. Kritis artinya, tidak asal “telan” atau terima apa saja yang ditonton. Pikirkan baik-baik. Pakai akal sehat. Sebab, sekali lagi, tidak semua loh yang disajikan televisi itu benar, apa adanya dan bisa dipercaya. Tidak jarang malah mengaburkan dan menyesatkan kenyataan yang sebenarnya.

Selektif artnya, pilih-pilih jangan asal tonton, sebab juga tidak semua acara televisi itu berguna buat kita. Banyak malah yang kalau nonton gak ada untungnya, gak nonton juga gak ada ruginya. Cuma wasting time-lah. Padahal sayang kan waktu dibuang-buang.

Maka, baik juga kalau sebelum nyetel televisi kita tahu dulu tujuan kita nyetel televisi itu untuk apa; apa sekadar ngisi waktu senggang, atau mencari informasi tentang sesuatu. Supaya kita tidak kebablasan; keenakan nonton televisi malah jadi lupa yang lain-lainnya.

Kalau diumpamakan makanan, televisi itu sebetulnya cuma camilan. Ia bukan menu utama. Lha, yang namanya camilan, ada boleh, gak ada juga gak apa-apa kan . Dan pula, camilan dimana-mana juga tidak boleh menggantikan menu utama. Gak sehat. Bisa diare tuh.

 

Ayub Yahya
http://ayubyahya.blogspot.com


Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."