• PDF

Rayap-Rayap Pernikahan

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:23
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
  • Sudah dibaca: 3531 kali

Coptotermes dan Sedotermes. Nama yang keren? Huss, nanti dulu. Jangan deh berpikir untuk menjadikan itu nama anak Anda. Itu adalah dua jenis rayap yang paling cepat menyerang bangunan. Nggak semua orang kenal dengan jenis serangga perusak bangunan ini. Tapi, akhir bulan Maret 2006 binatang kecil dari ordo Isoptera ini mendadak ngetop. Jadi headline koran-koran ibukota. Nggak kalah dengan berita selebritis yang lagi bermasalah di acara infoteiment.

Apa pasal? Karena kali ini rupanya si rayap pintar memilih tempat. Nggak tanggung-tanggung, ia ketauan merusak Istana Negara dan Istana Merdeka! Sontak deh rayap mendadak jadi masalah nasional. Pejabat negara ikutan kebakaran jenggot. Menteri Pekerjaan Umum jadi punya tugas tambahan. Para pakar rayap Indonesia, ikut sibuk. Wajar saja, karena rayap ternyata bisa membahayakan keselamatan Presiden SBY. Seperti teroris. Weleh, weleh!

Di Indonesia, masalah rayap bukan hal baru. Para pakar mengklaim 50% gedung di Jakarta telah diserang rayap. Tiap tahun kerugian akibat serangan rayap tercatat mencapai sekitar 224 miliar sampai 238 miliar rupiah. Sebuah jumlah yang fantastis untuk ukuran hewan seimut rayap.

            Gerogotan rayap memang bisa membahayakan. Pelan tapi pasti, bangunan semegah apapun, bisa hancur secara gara-gara rayap. Rayap sanggup menembus penghalang fisik. Bahkan gedung dengan struktur yang sangat kokoh pun tidak bebas rayap. Jadi, satu-satunya cara adalah dengan melakukan pencegahan dan perawatan. Harus ada antisipasi.

*

            Demikian juga dengan hidup pernikahan. Sebuah pernikahan yang dibangun di atas cinta yang menggebu. Di atas komitmen yang begitu kuat sekalipun. Tidak lantas imun dari “rayap-rayap”. Maka, adalah baik dan perlu kita mengantisipasinya. Minimal mengenalinya.

            Berikut beberapa “rayap” berbahaya yang bisa menggerogoti dan menghancurkan hidup pernikahan kita adalah:

            Pertama, harapan yang tidak realistis. Itu loh, cinta romantis ala dongeng pengantar tidur seperti Cinderella, Putri Salju, Beauty and the Beast. Yang ending-nya selalu indah: And they lived happily ever after. Seakan-akan pernikahan isinya melulu kebahagiaan. Tanpa masalah. Hanya ada keajaiban. Penuh bunga. Kemesraan yang tidak pernah berlalu.

            Padahal, jelas tidak begitu kan. Pernikahan tidak melulu berisi bunga. Kadang juga berisi kerikil. Atau, kalau pun berisi bunga; bunga bangkai berduri. Jadi sudah bangkai, berduri pula. Pernikahan juga tidak selalu berselimut kemesraan. Kadang juga ada kebosanan, tangisan, keruwetan.

            Kedua, berkurangnya sikap saling mengerti. Seupil kesalahan bisa bikin ledakan emosi mahahebat. Herannya, waktu pacaran pengertian bisa terjembatani begitu mulus. Berjalan dengan begitu kuat. Tapi setelah menikah, tingkat pengertian kerap bagai terjun bebas ke titik nadir. Toleransi menjadi rendah sesudah menikah.

            Waktu pacaran, kakinya doi terantuk batu saja langsung heboh. Seolah mendadak ada gempa bumi. Kaki doi dipijit, diusap-usap, disayang-sayang. Si batu kena getahnya. Dituduh, disumpahi. Care banget, deh. Tapi coba, kalau kejadian yang sama — dengan batu yang sama — terulang setelah menikah. Keadaan bisa terbalik 180 derajat tuh. Sang istri yang matanya dari dulu nggak pernah pindah tempat, malah ditanyain, ”Matamu kemana sih?” Giliran si batu yang bengong hehehehe.

Ketiga, berkurangnya tekad untuk mempertahankan pernikahan. Menganggap pernikahan seolah sesuatu yang sekali pakai lalu buang. Berantem dikit, pengen cerai. Kesal dikit, bilangnya, “Sudah deh, kembalikan aku ke rumah orang tuaku!” Bila badai mengguncang biduk rumah tangga, kita lekas putus asa. Nggak punya daya juang untuk mempertahankan. Gampang menyerah.

*

Lalu bagaimana dong kita menangani “rayap-rayap” penggerogot itu, sehingga pernikahan kita tetap kokoh kuat?

Yaitu, dengan membangun sikap positif. Mikha 6:8, “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

Konteks ayat ini adalah umat Tuhan yang sudah terjebak dalam ibadah yang legalistis. Tuhan ingin umat-Nya itu tidak hanya terpaku pada aturan-aturan formal keagamaan, tapi juga memperhatikan hidup sehari-hari. Sebab ibadah kepada Tuhan tidak hanya soal kultus, tapi juga soal etis.

Namun ayat ini juga bisa dikenakan dalam konteks hidup pernikahan, khususnya dalam “membasmi rayap-rayap penggerogot” tadi. Adil, mencintai kesetiaan, dan rendah hati.

Adil artinya, apa yang kita ingin pasangan kita lakukan kepada kita, lakukan lebih dahulu kepadanya. Kalau kita ingin pasangan kita menghargai kita, hargailah ia lebih dulu. Kalau kita ingin pasangan kita bersikap baik kepada kita, bersikap baiklah lebih dulu kepada ia. Dst.

Mencintai kesetiaan, teguh pada janji, komit dengan tanggung jawab. Nggak suka nyeleweng, lalu cari-cari alasan pembenaran. Setia kepada sesama, setia kepada Tuhan. Kesetiaan harus dimulai dari perkara-perkara sederhana. "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." (Lukas 16:10). Jadi jangan harap kita bisa setia dalam hidup pernikahan kita, kalau janji mau nonton saja, misalnya, kerap diingkari.

Rendah hati tumbuh dari kesadaran bahwa kita membutuhkan pasangan kita. Kita ini seumpama burung dengan satu sayap. Pasangan kita punya sebelah sayap yang lain. Kita hanya bisa terbang kalau menggunakan kedua sayap tersebut. Rendah hati juga berarti, kesediaan untuk meminta maaf, kalau salah. Kesediaan memberi maaf dan memahami bahwa pasangan kita pun bisa khilaf. Rendah hati juga membuat mulut kita ringan dan tulus mengucapkan terima kasih.

 

Ayub Yahya
http://ayubyahya.blogspot.com


Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."