• PDF

HEBOH TOMMY

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:54
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
  • Sudah dibaca: 2046 kali
"Si Tommy tertangkap, Pak!" kata Inem ketika saya baru saja membuka sepatu setiba di rumah malam-malam.

"Tommy siapa?" tanya saya sambil lalu.

"Tommy Soehartolah, habis Tommy siapa lagi."

"Ah, yang benar luh?" tanya saya lagi masih sambil lalu. Lagian, siapa pula yang mikirin Tommy Soeharto.

"Yee, si Bapak kok nggak percaya, orang diberitakan di tivi." 

Dalam hati saya, hebat betul nih Mas Tommy; sampai seorang Inem saja tahu beritanya. Inem ini, sudah hampir empat tahun kerja di rumah, paling tidak suka nonton televisi. Kalau pun nonton, paling dangdut atau acara-acara ringan dan lucu macam Bagito dan Asal. Itu pun jarang.

Sambil makan malam, saya nyetel televisi. Benar saja, hampir semua stasiun tivi sedang "heboh" memberitakan soal tertangkapnya Tommy. Dari mulai yang sekilas info sampai berita panjang lebar; lengkap dengan wawancara si Polan dan si Pulen. Baik yang senang, maupun yang tidak senang, dan yang tidak peduli.

Mendengar dan menonton berita Tommy tertangkap, terus terang, yang segera muncul dalam benak saya adalah sebuah pertanyaan, "Sandiwara apa lagi ini?!" Apalagi ketika di televisi saya lihat Mas Tommy yang buronan kelas satu itu disambut peluk cium Pak Kapolda, dan teman-teman. Alamak.

Dan ternyata saya tidak sendirian. Ketika kebetulan malam itu ada seorang teman yang menelepon, saya sedikit singgung soal tertangkapnya Tommy. Dia hanya tertawa kecil. "Politiklah itu!" katanya enteng. "Sebentar lagi, coba saja, akan ada heboh susulan untuk menutupi kasus Tommy ini," sambungnya - Dan teman saya itu benar. Kini orang heboh dengan kisah Bang Akbar dengan Bulogatenya. Tommy bisa sedikit menarik napas lega. Nanti-nanti entah berita heboh lagi yang mau dibikin.

Besok paginya, saya ngobrol dengan tetangga sebelah rumah. Komentarnya sama saja, "Sudah tidak ada lagi berita heboh yang bisa dibikin untuk menutupi borok-borok kali," begitu katanya.

Ya, di negeri dimana sandiwara sudah menjadi budaya - para aktornya bisa aparat keamanan, elite politik, dan tokoh agama; atributnya bisa Jenderal, bisa Profesor Doktor; doktornya bisa asli, bisa juga hasil tukar guling - segala peristiwa yang terjadi, terutama yang menyangkut orang gedean, rasanya sulit sekali dilepaskan dari anggapan rekayasa atau sandiwara.

Bukankah justru ini problem utama bangsa kita: kepercayaan?! 32 tahun masa Orde Baru ditambah lagi tiga tahun Orde Campur Aduk, masyarakat kita rupanya sudah terlalu kenyang disuguhi kebohongan demi kebohongan. Maka, jangan salahkan mereka kalau sampai tidak percaya lagi kepada pemimpinnya, tidak percaya lagi kepada aparat keamanannya.

Dalam sejarah tidak ada negara yang bisa jaya, tanpa kepercayaan rakyat kepada para pemimpinnya. Dulu sekali, Sang Suhu Kung (Confusius) pernah mengatakan, bahwa ada tiga hal penting yang menjadi pra-syarat berdirinya sebuah negara nan jaya. Ketiga hal itu adalah senjata, makanan, dan kepercayaan rakyat. Dan di antara ketiganya, yang pertama dan terutama adalah kepercayaan rakyat.

Maka, ketika negeri ini tidak juga mampu bangkit dari keterpurukannya; bergelut tiada henti dengan krisisnya, mungkin yang pertama perlu kita lakukan adalah memasang iklan demikian: Dicari Seorang Pemimpin Sejati. Klasifikasi: Dapat Dipercaya; Satu Kata Satu Perbuatan. Segera!!
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."