• PDF

SUDUT PANDANG

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:55
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
  • Sudah dibaca: 2032 kali
Tidak salah, baik buruknya sebuah kejadian kerap tidak ditentukan oleh kejadian itu sendiri, tetapi oleh bagaimana cara kita memandangnya; sudut pandang mana yang kita pakai.

Seperti dalam cerita ini. Dua orang salesman sebuah pabrik sepatu ditugaskan oleh atasannya untuk menjajaki kemungkinan pemasaran sepatu di sebuah daerah yang sedang berkembang. Mereka pergi ke daerah itu, dan melihat ternyata para penduduk di daerah itu tidak ada yang memakai sepatu. Maka kedua salesman itu pulang memberi laporan.

Laporan salesman pertama: "Pak, di sana tidak ada orang yang memakai sepatu, jadi percuma memasarkan sepatu; siapa yang mau membeli?!"

Sedang salesman kedua melaporkan: "Pak, di sana tidak ada orang yang memakai sepatu, ini kesempatan bagi kita memasarkan sepatu di sana; kita bisa menciptakan pasar!"

Sebuah kenyataan yang sama, dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda; yang satu melihatnya sebagai hambatan, yang satu lagi melihat sebagai kesempatan. Hasilnya tentu berbeda; positif dan negatif.

Contoh lain. Dua pria separuh baya sama-sama sakit, dirawat di rumah sakit yang sama, dan di kamar yang sama pula. Bedanya, pria pertama melihat penyakitnya sebagai musibah. Karenanya ia begitu sedih dan menyesalinya. Hatinya dipenuhi protes, "Mengapa saya harus mengalami sakit seperti ini, Tuhan?!"

Sedang pria kedua, melihat penyakitnya sebagai bagian dari rencana Tuhan dalam hidupnya dan keluarganya. Apa rencana Tuhan di balik sakitnya itu? Mungkin ia sendiri tidak tahu. Hanya ia yakin, Tuhan tidak mungkin mengizinkan sesuatu terjadi padanya dengan maksud buruk. Karenanya ia dapat menjalani masa-masa sakitnya dengan hati berserah. Sekalipun rasa sakit mendera tubuhnya, ia tidak kekurangan kegembiraan dan rasa syukur. Sehingga ia juga dapat menikmati hari-harinya. Kalau pun ada pertanyaan yang muncul dalam hatinya adalah, "Apa maunya Tuhan dengan mengizinkan ia sakit seperti itu?!"

Maka, ketika kita begitu sedih dengan kesusahan, begitu marah dengan kegagalan dan begitu gelisah dengan problem hidup yang terus mendera; jangan-jangan yang harus kita lakukan hanya--ya, hanya--merubah sudut pandang kita. Benar, seperti kata Doug Hooper, seorang penulis kolom surat kabar terkenal dari Amerika, "Kita adalah apa yang kita pikirkan."
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."