• PDF

MEMBELI CINTA

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:55
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
  • Sudah dibaca: 2209 kali
Cerita ini saya baca 12-13 tahun yang lalu, waktu saya masih kuliah. Jadi detailnya sudah agak lupa. Judulnya Buying Love, membeli cinta. Sebuah cerita dari Tiongkok. Inti ceritanya begini. 

Di sebuah daerah tinggal seorang saudagar kaya raya. Dia mempunyai seorang batur (baca: hamba sahaya) yang sangat lugu – begitu lugu, hingga orang-orang menyebutnya si bodoh.

Suatu kali sang tuan menyuruh si bodoh pergi ke sebuah perkampungan miskin untuk menagih hutang para penduduk di sana. “Hutang mereka sudah jatuh tempo,” kata sang tuan.

“Baik, Tuan,” sahut si bodoh. “Tetapi nanti uangnya mau diapakan?”

“Belikan sesuatu yang aku belum punyai,” jawab sang tuan.

Maka pergilah si bodoh ke perkampungan yang dimaksud. Cukup kerepotan juga si bodoh menjalankan tugasnya; mengumpulkan receh demi receh uang hutang dari para penduduk kampung itu. Para penduduk itu memang sangat miskin, dan pula ketika itu tengah terjadi kemarau panjang.

Akhirnya si bodoh berhasil juga menyelesaikan tugasnya. Tetapi dalam perjalanan pulang ia teringat pesan tuannya, “Belikan sesuatu yang belum aku miliki.”

“Apa, ya?” tanya si bodoh dalam hati. “Tuanku sangat kaya, apa lagi yang belum dia punyai?”

Setelah berpikir agak lama, si bodoh pun menemukan jawabannya. Dia kembali ke perkampungan miskin tadi. Lalu dia bagikan lagi uang yang sudah dikumpulkannya tadi kepada para penduduk.

“Tuanku, memberikan uang ini kepada kalian,” katanya.

Para penduduk sangat gembira. Mereka memuji kemurahan hati sang tuan. Ketika si bodoh pulang dan melaporkan apa yang telah dilakukannya, sang tuan geleng-geleng kepala. “Benar-benar bodoh,” omelnya.

Waktu berlalu. Terjadilah hal yang tidak disangka-sangka; pergantian pemimpin karena pemberontakan membuat usaha sang tuan tidak semulus dulu. Belum lagi bencana banjir yang menghabiskan semua harta bendanya. Pendek kata sang tuan jatuh bangkrut dan melarat.

Dia terlunta meninggalkan rumahnya. Hanya si bodoh yang ikut serta. Ketika tiba di sebuah kampung, entah mengapa para penduduknya menyambut mereka dengan riang dan hangat; mereka menyediakan tumpangan dan makanan buat sang tuan.

“Siapakah para penduduk kampung itu, dan mengapa mereka sampai mau berbaik hati menolongku?” tanya sang tuan. 

“Dulu tuan pernah menyuruh saya menagih hutang kepada para penduduk miskin kampung ini,” jawab si bodoh. “Tuan berpesan agar uang yang terkumpul saya belikan sesuatu yang belum tuan punyai. Ketika itu saya berpikir, tuan sudah memiliki segala sesuatu. Satu-satunya hal yang belum tuanku punyai adalah cinta di hati mereka. Maka saya membagikan uang itu kepada mereka atas nama tuan. Sekarang tuan menuai cinta mereka.”

Kita berhenti dengan kisah ini. Mari kita bicara tentang Tommy Soeharto. Andai saja dulu ketika masih jaya dia mempergunakan uang dan pengaruhnya untuk menebar cinta kasih, mungkin nasibnya tidak akan setragis sekarang – di kelilingi cemoohan dan cibiran, bahkan juga cercaan. Tidak percaya?! Cobalah sesekali Anda ngobrol di warung kopi, kampus, kantor atau di mana saja. 

Jangan lihat sikap “para petinggi” yang dengan hangat memeluk dan menciumnya – bak menyambut si anak hilang – ketika dia tertangkap setelah sekitar setahun menjadi buron. Jangan lihat sikap para aparat dalam memperlakukannya sebagai tersangka dalam kasus berat; pembunuhan Hakim Agung dan peledakan bom di beberapa tempat. Jangan juga lihat dan dengar sikap dan omongan para pengacaranya. 

Semoga orang-orang yang punya kekayaan dan pengaruh dapat belajar dari kisah tadi, dan kisah Tommy; bahwa kekayaan dan pengaruh baru akan sangat berguna kalau dipergunakan untuk menebar cinta kasih. Sebab, seperti kata penulis Amsal “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dan dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.”
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."