• PDF

NATAL PAK KUIN

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:56
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
  • Sudah dibaca: 2039 kali
Hari ini Hari Natal. Tetapi bagi Pak Kuin, Hari Natal atau bukan, sama saja. Tidak ada bedanya dengan hari-hari lain. Di rumah petaknya yang beratap seng dan berdinding tripleks, tidak ada asesoris Natal. Jangankan mikir pernak-pernik Natal, untuk hidup sehari-hari saja susah.

Dan pula, toh ia tetap harus bekerja; bergelut dengan debu dan terik matahari atau hujan. Apalagi Cantel, 14 tahun, anak bungsunya, sedang dirawat di rumah sakit. Sakit maag akut. Mana bisa dia berleha-leha?!

"Memangnya uang bisa jatuh dari langit?!" sahutnya sambil tertawa kecil, ketika saya tanya anak sakit kok masih bekerja.

Kalau dia bekerja--di perempatan Kelapa Gading, Jakarta; ngelapin mobil-mobil yang antre saat lampu merah dengan kemoceng--sehari setidaknya ia bisa dapat 10 ribu atau 15 ribu rupiah. Lumayan. Apalagi kalau ada yang berbaik hati dengan memberinya lembaran gopekan atau secengan, bukan recehan cepekan.

Satu-satunya hal yang membuat Hari Natal terasa agak berbeda baginya; sekitar seminggu lalu--katanya dalam rangka Natal--beberapa pemuda gereja menghampiri dan mengajaknya berbincang sebentar, dan memberinya bungkusan kado. Isinya, seperangkat alat mandi, setengah dus mie instan, dua kilogram beras, selembar kain sarung, dan kaos oblong.

"Bapak senang?" tanya saya.

"Bukan senang lagi, Oom," jawabnya--walau usinya hampir sebaya dengan ayah saya, Pak Kuin manggil saya Oom--"Senangnya mungkin seperti para gembala ketika mendapat kabar dari Malaikat bahwa Bayi Yesus telah lahir," sambungnya seraya tertawa ringan.

Pak Kuin bukan seorang Kristen, tetapi ia cukup akrab dengan cerita-cerita Natal di Alkitab. Dulu, katanya, semasa kecil sampai remaja--sebelum ia hijrah ke Jakarta--di daerah asalnya--sekitar Kopeng, Salatiga--ia suka ikut-ikutan Natalan dengan tetangganya yang Kristen.

"Di daerah saya dulu, Oom, orang kalau Natalan ikut Natalan, kalau lebaran ikut lebaran. Akur. Nggak ada itu berantem-beranteman."

"Bapak tidak ingin ikutan Natalan juga sekarang di gereja?"

"Wah, malulah, Oom, di Jakarta gereja besar-besar. Orangnya keren-keren, pakai mobil. Bukan untuk orang macam saya. Tetapi ya, saya sudah sangat senanglah ada dari gereja para pemuda yang datengin saya, ngasih hadiah Natal." Ada binar cerah di wajah Pak Kiun ketika berkata begitu.

Andai saja Natal tidak hanya jadi kosmetik, atau sekadar ramai-ramai perayaan tanpa makna. Andai Natal betul-betul menjadi sebuah momen untuk peduli dan berbagi; terutama dengan mereka yang kurang beruntung dan terpinggirkan--sebagaimana Natal pertama dalam Alkitab-- betapa akan lebih banyak lagi binar cerah seperti di wajah Pak Kuin. Maka, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri: adakah binar cerah yang telah kita bawa di wajah seseorang pada Natal Tahun ini?
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."