GILA

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Teman saya kehilangan sepeda motornya. Dicuri. Tidak ada lima menit dia parkir di depan rumahnya. Dikunci pula. Eh, amblas. Zaman makin modern, segala sesuatu makin canggih. Maling juga.

Dia mau ngurus asuransi. Dia perlu surat blokir STNK. Dia banyak mendengar urusan demikian kalau dijalani dengan cara lurus, akan sangat melelahkan; salah-salah malah tidak akan pernah beres. Tetapi dia mau mencoba. 

Dia harus lapor dulu ke Polsek, terus lapor ke Polda, terakhir ke Samsat. Setiap kali lapor dia harus melewati beberapa meja; meja ini daftar, meja itu tanda tangan, meja ini cap, meja itu entah apa lagi. Dan di setiap meja, baru bisa lancar kalau dalam map ada selipan uang minimal 20 ribu-an. Terakhir sekali, dia diminta membayar 15 persen dari harga sepeda motor yang diasuransinya. 

Dia menceritakan pengalamannya sambil tertawa dan geleng-geleng kepala. Dia bilang. Oomnya mengatai dia, "Kamu sih gila. Mau jadi orang waras di tengah birokrasi dan budaya yang tidak waras." 

Lantas saja saya teringat cerita ini. Konon, di sebuah desa ada seorang kakek yang hidup sendiri. Dia tinggal di tepi sungai di pinggir desa. Suatu hari kakek mendapat wangsit, hujan akan turun mencemari sungai; setiap orang yang minum dari sungai itu akan menjadi gila. Dia beritahukan wangsit itu kepada penduduk desa. Tidak ada yang percaya. Bahkan dia jadi bahan tertawaan. 

"Toh, aku sudah memberitahu mereka," katanya dalam hati menghibur diri. Dia mengumpulkan air untuk persediaan dirinya.

Hujan turun. Dan benar, setiap orang yang minum air sungai langsung menjadi gila. Alhasil, semua penduduk desa itu menjadi gila. Sungai itu memang satu-satu sumber air para penduduk. Hanya Si Kakek sendiri yang waras, karena dia punya persediaan air minum sendiri.

Seminggu dua minggu berjalan, lama-lama dia menjadi sepi. Bayangkan, menjadi satu-satunya orang waras ditengah semua orang gila. Sungguh tidak nyaman. Maka dia memutuskan untuk minum air sungai itu, dan menjadi gila seperti para penduduk desa lainnya.

Begitulah, di antara warna buram kusam, setitik warna putih memang akan terasa berbeda. Hidup juga demikian. Menjadi "berbeda" itulah yang kerap membuat seseorang menjadi tidak tahan. Seperti Si kakek tadi. Syukur, selalu ada orang yang berani memilih untuk berani berbeda. Walau harga yang harus dibayar mahal. Tetapi, martabat memang tidak ada yang murah, bukan?.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."