• PDF

KAREN

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 13:03
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
  • Sudah dibaca: 1421 kali
13 Juni 2001, pk. 07.40, lewat operasi caesar, Karen lahir. Sehat walafiat. Bahwa Karen bahagia terlahir ke dalam dunia; hanya ia dan Tuhan yang tahu. Tetapi yang pasti kami, saya dan istri, bahagia. Dan lega pula. Terutama kalau ingat kembali jejak langkah sembilan bulan yang lalu.

Lima bulan Karen dalam kandungan, istri saya sakit; suhu badannya meninggi, ketika reda keluar bercak-bercak merah sekujur tubuhnya. Dokter satu bilang, itu sejenis virus campak. Dokter lain bilang, itu sejenis demam berdarah. Terus terang, ketika itu ada rasa gentar di hati; bagaimana dengan Karen?!

Tidak sampai dua minggu istri saya sembuh. Lalu semuanya berlalu biasa saja. Sampai menjelang sembilan bulan usia kandungan; kami bertiga, saya, istri, dan Kezia, kakak Karen, usianya hampir dua tahun, terkena flu dan batuk. Cukup berat pula. Bersama-sama kami ke dokter.

Sementara itu kami juga harus pindahan rumah; dan tugas rutin tetap menyerbu seperti biasa; perkunjungan, mempersiapkan khotbah, rapat-rapat, juga menulis. Di sini saya melihat ketangguhan seorang istri, sekaligus merasakan keteduhan cinta kasih ayah dan ibu. 

Dua atau tiga minggu sebelum perkiraan waktu melahirkan, dokter kandungan istri saya sakit. Tanpa alternatif. Setiap kali kami datang atau telepon untuk check-up, perawat yang berjaga mengatakan, "Pak Dokter sakit." Lantas kami berinisiatif mencari dokter pengganti. Dapat.

Dan, dua hari sebelum saya mengantar istri saya untuk operasi, satu-satunya pembantu di rumah minta berhenti. Lengkap sudah.

Maka, ketika saya mendengar tangisan Karen. Lalu dokter keluar ruang operasi dan mengatakan semuanya berjalan dengan baik, anak dan ibunya sehat; saya seumpama seorang pendaki gunung yang tiba di puncak setelah melalui jalanan terjal berliku, dan melihat awan-awan berarak di bawah. Lega. Hanya satu kalimat yang terucap, "Tuhan, terima kasih!" Doa kami terwujud sudah. 

Doa kami sekarang, "Tuhan, jadikan kami alat-Mu untuk menyalurkan kasih dan sayang-Mu kepada Kezia, dan kepada Karen. Ajar kami, dan kalau perlu hajar kami, supaya kami jangan hanya mampu menghadirkan Kezia dan Karen ke dalam dunia, tetapi juga mampu memelihara dan menjaga mereka, serta membimbing mereka kepada-Mu. Sebab mereka adalah titipan-Mu. Mereka juga adalah milik-Mu."
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."