• PDF

BUNG KARNO

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 13:04
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
  • Sudah dibaca: 2126 kali
Saya tidak tahu banyak tentang Bung Karno. Saya lahir ketika masa Bung Karno sudah selesai. Lebih dari itu, saya besar di zaman di mana segala sesuatu yang berkaitan dengan Bung Karno disingkirkan secara sistematis. Bahkan jasa dan perjuangannya mengantar bangsa Indonesia ke gerbang kemerdekaan; seakan sebuah angin lalu, sepoi bertiup, ada, terburai, lalu tiada.

Maka, selain atribut-atribut macam proklamator dan orator hebat (itu pun semula hanya katanya, karena saya belum pernah mendengar pidatonya; baru kemarin-kemarin ini di televisi saya lihat kebenaran atribut itu), saya hanya tahu Bung Karno sebagai pejuang yang gigih dan berani (berulang kali masuk penjara tidak melemahkan semangat perjuangannya); sebagai tokoh pemersatu bangsa, tetapi juga "lemah" terhadap wanita (dalam dua hal ini, Bung Karno barangkali dapat disejajarkan dengan Raja Daud dalam Perjanjian Lama).

Seiring jatuhnya rezim Orde Baru, runtuh pula teralis yang memasung nama Si Bung. Presiden Habibie mengijinkan pendirian Universitas Bung Karno. Lalu Presiden Abdurrahman Wahid menyetujui perubahan nama Istora Senayan menjadi Gelora Bung Karno. Orang tak perlu lagi sungkan atau takut mengumandangkan kekaguman dan rasa hormat terhadap Si Bung.

Menyambut peringatan 100 tahun kelahiran Bung Karno, 6 Juni 2001, koran dan televisi gencar mengangkat berita seputar Bung Karno. Toko buku memajang puluhan buku tentang Bung Karno. Nama Si Bung seakan bangkit dari kubur. Sebuah fenomena yang tidak pernah ada selama 32 tahun masa Orde Baru. 

Sebuah arus-balik? Bisa jadi. Sejarah, bukankah kerap bagai perputaran sebuah siklus? Jatuh dan bangun, datang dan pergi. Begitu silih berganti. Seumpama jalan yang melingkar; tanpa awal, tanpa akhir.

Perjalanan hidup Bung Karno adalah peringatan bagi para penguasa di mana pun; bahwa, kekuasaan apabila tidak bijak disikapi dan pandai-pandai diemban akan berbalik menghancurkan diri sendiri; mereka yang berkuasa sesungguhnya sedang berdiri di tanah licin. Perjalanan hidup Bung Karno adalah juga cermin bagi para politikus yang sedang berada di atas angin, agar tidak meninggalkan hati nurani dalam memperlakukan lawan politik; sebab, cepat atau lambat angin bisa berbalik arah.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."