• PDF

ANAK-ANAK

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 13:23
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
  • Sudah dibaca: 1413 kali
Tulus dan lugu, itulah anak-anak. Lihatlah mereka ketika tengah bermain, atau tatapan mereka ketika sedang mengagumi sesuatu. Juga, rasakanlah sentuhan jemarinya, atau kehangatan pelukannya. Ada damai yang mereka tawarkan. Tidak seperti kita, orang dewasa, yang kerap sudah terlalu banyak diwarnai kecurigaan dan kepalsuan; kata dan perbuatan kerap hanyalah sebagai topeng untuk menyembunyikan maksud hati yang sesungguhnya.

Akan tetapi anak-anak juga lemah dan tiada berdaya. Karenanya tidak jarang mereka mengalami diskriminasi dan kesewenang-wenangan. Di pabrik, di perkebunan, di jermal di tengah laut, dan di tempat kerja lainnya, jutaan anak-anak bekerja; tidak jarang dengan upah dan perlindungan yang sangat minim, serta jam kerja yang tidak manusiawi. Padahal seharusnya mereka tengah senang-senangnya bermain dan belajar; mengenyam bangku sekolah serta dinamikanya.

Di jalanan, terlebih sejak krisis ekonomi berkepanjangan terjadi di negara kita, jutaan anak-anak lainnya terpaksa menceburkan diri ke dalam kerasnya kehidupan; mereka yang menjadi pedagang asongan, penyemir sepatu, pengamen, bahkan pengemis di perempatan-perempatan. Tidak jarang mereka harus menerima pemerasan, pelecehan, bahkan penyiksaan dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Dan seakan tidak ada yang melindungi mereka. Bahkan juga hukum. Padahal seharusnya mereka tengah senang-senangnya menghirup hangatnya kasih sayang keluarga.

Pun di tengah masyarakat dan di rumah-rumah umumnya, tidak jarang terjadi ketidakdilan dan kekerasan tersembunyi terhadap anak-anak; pemaksaan dan penindasan terhadap hak-hak mereka. Sekadar menyebut beberapa contoh: di loket bioskop atau di telepon umum tidak sedikit orang dewasa yang suka menyerobot kalau yang antri di depan mereka anak-anak, di kendaraan umum anak-anak kerap harus menggeser duduk untuk orang dewasa, atau malah dipangku walau sama-sama bayar. 

Yang tidak jarang juga, anak-anak dipaksa mengikuti kemauan orang tua. Demi alasan ekonomi, orang tua memaksa anak-anak mencari nafkah bahkan memakainya sebagai alat untuk mengemis; demi ambisi dan prestise orang tua, anak-anak dipaksa melakukan banyak hal yang bisa jadi justru menyiksanya. Dan mereka tidak bisa protes. Padahal anak-anak itu harusnya tengah senang-senangnya menikmati tumbuh-kembang dunianya. 

Akankah kita membiarkan kalaziman yang tidak adil tersebut?! Lalu apa yang bisa kita lakukan? Barangkali kita tidak perlu menjadi pejuang hak asasi anak-anak penuh waktu, tetapi paling tidak kita bisa mulai dengan bersikap baik dan bersahabat terhadap anak-anak; peka dan peduli terhadap nasib dan hak-hak mereka. 
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."