NASIB

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Ada sebuah pepatah Cina, "Nasib baik, nasib buruk siapa tahu." Pepatah itu mau mengatakan, apa yang sekarang tampaknya keberuntungan belum tentu seterusnya menjadi keberuntungan; salah-salah malah bisa menjadi bencana. Sebaliknya apa yang sekarang tampaknya bencana, belum tentu seterusnya menjadi bencana; bisa-bisa malah menjadi keberuntungan. 

Perjalanan hidup Joseph Estrada dan Megawati hingga sekarang ini bisa mewakili kebenaran pepatah itu. Estrada, mantan Presiden Filipina, ditangkap. Setelah sebelumnya Sandiganbayan (Pengadilan Antikorupsi di Filipina, yang peresmian pembangunan gedungnya dilakukan oleh Estrada sendiri) menyatakan dia bersalah, telah melakukan tindak korupsi selama menjadi presiden. 

Untuk kejahatannya itu dia diancam hukuman mati. Foto wajah Estrada yang kuyu dan lelah terpampang di koran; tak ubahnya pengedar narkoba atau penjahat yang tertangkap. Berbeda sekali dengan tiga tahun lalu ketika dia terpilih menjadi Presiden Filipina, menggantikan Fidel Ramos; ada lambaian tangan sukacita, ada senyum kemenangan. Siapa tahu justru jabatannya itulah yang mengiringkannya ke penjara. Andai dia tidak menjadi presiden, barangkali ceritanya akan berbeda.

Sebaliknya dengan Megawati. Ia kerap menjadi bulan-bulanan ketika Soeharto masih jaya. Apalagi ketika ia berani menyatakan kesediaannya menjadi presiden. Saat itu bicara soal presiden diluar Soeharto memang sangat ditabukan. Puncaknya peristiwa 27 Juli 1996, yang hampir-hampir menenggelamkan Jakarta ke dalam kerusuhan. Sejak itu sampai beberapa bulan kemudian, ia dan para pembelanya menjadi sasaran teror rezim Orde Baru. 

Siapa menduga, justru peristiwa itulah yang menaikkan popularitas Megawati di mata rakyat, paling tidak begitulah pendapat banyak orang (Ben Anderson, ahli tentang Indonesia asal Amerika, mengatakan peristiwa 27 Juli 1996 adalah blunder paling fatal yang pernah dilakukan Soeharto). Megawati menjadi personifikasi kaum tertindas dan kesewenang-wenangan rezim Orde Baru. Maka simpati pun mengalir kepadanya. Banyak pengamat setuju; kemenangan partainya dalam pemilu lalu lebih karena simpati ini, dan bukan karena kapasitasnya. 

Sampai saat ini lakon Estrada dan Megawati memang masih belum berakhir. Kita masih menunggu keberuntungan dan bencana apa kira-kira yang akan mengiringi langkah hidup mereka. Yang pasti buat kita; nasib baik, nasib buruk siapa tahu. Betapa tipisnya batas antara tawa dan air mata, keberuntungan dan bencana. 

Maka memang jangan pongah kalau nasib baik sedang menghampiri, sebab siapa tahu justru itulah yang akan membawa bencana. Sebaliknya jangan patah hati ketika nasib buruk menjemput, sebab siapa tahu justru itulah yang membawa keberuntungan buat kita. Mawas diri dan senantiasa sadar bahwa ada Tuhan di atas sana, itulah langkah terbaik.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."