• PDF

Resolusi, Resolusi!

Penilaian Pengunjung: / 7
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 04 Desember 2009 10:38
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
  • Sudah dibaca: 5049 kali

Apa resolusi Anda? Begitu pertanyaan wajib yang biasa muncul di setiap awal tahun baru. Dan orang bisa punya beragam jawab.

Bu Miranda, misalnya. Ia punya resolusi luhur: memberi kesempatan suaminya, Pak Miranda — demikian “beliau” biasa disebut oleh rekan-rekannya — lebih banyak mengambil keputusan dibanding dirinya. Atau Pak Anggono, mantan petinggi KPK (Komisi Penyalur   Kakaktua), ia punya resolusi: berhenti merokok total-tal. Dan Minur, gadis remaja berbadan subur berlesung pipit kayak penyanyi ngetop Afgan dalam format cewek, resolusinya: 2010 ia akan rutin berfitnes ria demi memenuhi kerinduannya bertahun-tahun lalu untuk mengapai body singset ala Krisdayanti.

Tradisi resolusi tahun baru sebetulnya bukan “produk baru”. Sejarahnya sudah terdeteksi sejak tahun 153 SM. Ketika itu Bangsa Romawi, untuk menghormati Janus, yang dalam mitologi Romawi dikenal sebagai ”Dewa Permulaan dan Akhir” atau ”Penjaga Pintu dan Gerbang”, menamai bulan pertama: Januari. Janus dipercaya mempunyai dua wajah; satu melihat ke masa lalu, satunya lagi memandang ke masa depan. Orang-orang Romawi bila ingin melakukan permulaan suatu pekerjaan biasanya memohon pertolongan kepada Janus.

Sejak itu, Janus menjadi ikon kepercayaan kuno tentang resolusi. Bangsa Romawi kerap menjadikan awal tahun baru sebagai ajang perdamaian. Masa dimana permusuhan berakhir. Lawan dirangkul. Damai disebar. Pokoknya, memasuki tahun baru dengan hati adem pikiran tentrem. Biasanya juga ada tradisi tuker-kado antar teman dan kerabat. Kadonya? Ya, namanya juga jaman baheula, isi kadonya ranting daun dari pohon suci, atau biji-bijian. Terakhir koin bergambar wajah Janus menjadi hadiah populer masa itu.

Tahun baru sendiri tidak mutlak dimulai ketika kalender menunjukkan tanggal 1 Januari.  Tergantung kalender mana yang dipakai. Nah, ngomongin tentang kalender alias penanggalan ini memang sedikit ribet. Gonta-ganti. Maklum, masa itu hal-hal baru terus ditemukan.

Ada penanggalan ala Romawi. Satu tahun ada 10 bulan. 304 hari. Mulainya bulan Maret. Sistim penanggalan ini tidak terlepas oleh gaya suka-suka para Kaisar Romawi. Mereka senang mengubah-ubah sistim penanggalan demi memperpanjang masa pemerintahan mereka.

Ada juga penanggalan ala Julian. Dari namanya, pencetusnya memang pahlawan bangsa Romawi yang termasyur, Julius Caesar. Satu tahun ada 365 ¼ hari. Dihitung dari waktu yang diperlukan bumi untuk mengelilingi matahari. Setiap 4 tahun sekali ada tahun kabisat.

Ada penanggalan ala Gregorian. Bermula ketika tahun 1582 terjadilah titik equinox—siang dan malam sama lamanya—dan baru ketahuan kalau penanggalan ala Julian tidak akurat. Tidak tanggung-tanggung kurang 10 hari. Kwakkk! Paus Gregorius XIII turun tangan dan mengeluarkan maklumat pada Konsili Nicea I, bahwa gereja menambahkan 10 hari pada penanggalan yang ada. Dari situlah bermulanya kalender Gregorian yang kita gunakan sampai sekarang (kalender international).

Lebih jauh sistim penanggalan juga terus berkembang. Ada sistim penanggalan Hijriyah atau Anno Hegirae (A.E). Ada juga sistim penanggalan China; sistim penghitungannya bukan berdasarkan matahari (solar calendar), tetapi berdasarkan bulan (lunar calendar).

Tidak heran kalau yang namanya tahun baru pun tidak satu. Di Indonesia sendiri, selain tahun baru masehi atau tahun baru internasional, ada tahun baru untuk Islam yang dikenal dengan tahun baru Hijriah (1 Muharam), tahun baru China (Imlek), dan tahun baru Hindu yang diawali dengan tradisi Nyepi.

Namun kapan pun tanggal tahun baru itu, sebenarnya tidak terlalu penting. Jauh lebih penting makna di balik setiap perayaan itu, bahwa ada saat dimana kita perlu sejenak berdiam diri; menengok ke belakang, kepada kehidupan yang sudah kita jalani, sambil kemudian kita menata diri untuk melangkah ke depan, kepada kehidupan yang akan kita jalani. Momen untuk beresolusi.

Resolusi adalah ketetapan hati. Seumpama target yang kita set di awal langkah, untuk kemudian kelak diakhir langkah kita evaluasi. Bisa juga dibilang koridor atau pagar bagi langkah kita, supaya jelas arah tujuan; tidak terombang-ambing seperti layangan putus.

Betul, untuk membuat resolusi tidak perlu menunggu awal tahun baru. Akan tetapi tidak ada salahnya juga awal tahun dijadikan awal momentum. Malah bagus juga. Sebab bagaimana pun momen itu penting sebagai titik pijak. Saat untuk mengibarkan bendera start. Mengangkat sauh. Meniup peluit kick-off. Membentangkan layar. Pokoknya, momen untuk mulai.

Dan yang penting pula adalah adanya tekad untuk melaksanakan resolusi itu. Sebab sebaik apa pun resolusi kita, kalau itu tidak dibarengi tekad dan dispilin kuat untuk melaksanakannya, maka jadinya omdo alias omong doang. Selamat beresolusi. Semoga selamat sampai tujuan!

 

 

***

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Henry Sujaya  - Resolusi itu perlu   |192.33.238.xxx |07-12-2009 20:33:49
Tulisan yang bagus, pak Ayub. kiranya Tuhan menuntun resolusi kita, selamat
datang kembali btw
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."