• PDF

ANAK

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 13:55
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
  • Sudah dibaca: 1849 kali
Seorang teman yang baru saja mempunyai anak pernah bilang, "Punya anak itu repot!". Waktu itu saya cuma tertawa. Tempo hari saya bertemu lagi dengan teman saya itu, saya bilang padanya, "Betul kamu dulu, punya anak itu repot!" Dia tertawa. "Rasain, Lu," candanya.

Memang, kehidupan sontak berubah dengan lahirnya anak. Bahwa sukacita itu ada, jelas tidak terbantah. Hidup rasanya terasa lebih berwarna. Tetapi bahwa kerepotan demi kerepotan datang, juga tidak dapat dipungkiri. Bulan-bulan pertama jam tidur berubah; siang jadi petang, petang jadi pagi, pagi jadi malam. Membaca, bekerja, bepergian tak lagi bebas. Belum lagi tangisnya, atau pipisnya, atau pupnya. Menggendongnya, terlebih memandikannya, harus ekstra hati-hati. Pendek kata segenap energi perlu dikerahkan untuk menanganinya.

Bulan-bulan selanjutnya, ketika semua itu sudah mulai terbiasa, kerepotan tak lantas berkurang. Apalagi kalau anak itu sudah bisa gulang-guling. Lengah sedikit, dia bisa jatuh menggelinding ke bawah ranjang. Dan memang pernah terjadi. Atau tahu-tahu dia memasukkan apa ke mulutnya. Malah lebih repot. Yang "menyiksa" kalau dia sakit; gelisah dan menangis sepanjang malam. Ada perasaan tidak tega, tetapi mau berbuat apa juga tidak berdaya. Duh, rasanya lebih baik kalau saya saja yang sakit. 

Dalam kerepotan mengurus anak, saya jadi lebih memahami "ketangguhan" dan "keteguhan" wanita. Bahkan di tengah rasa kantuk dan lelah, dia bisa tetap sabar dan telaten. Terus terang, saya tidak sanggup. Ditambah perjuangannya saat melahirkan, saya jadi semakin tidak keberatan dengan pepatah, "Surga berada di bawah telapak kaki ibu." Dulu, saya pikir pepatah itu tidak adil; kalau di bawah telapak kaki ibu surga, memang di bawah telapak kaki bapak apa?

Saya juga jadi teringat ayah dan ibu saya. Tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang paling berhutang. Terutama ketika ingat kebandelan saya, pemberontakan saya, perilaku-perilaku buruk saya. Mengingat itu, rasanya ingin sekali saya memeluk dan mencium kaki mereka. "Ayah, Ibu, inilah anakmu!"
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."