Ayub Yahya

adalah pribadi dengan kombinasi yang harmonis. Ia seorang pendeta yang harus memiliki kemampuan orang (berbahasa lisan), sekaligus pribadi yang menyukai dunia tulis-menulis. Hasilnya, ia banyak menulis di media massa umum dan gerejawi (rohani).

Lahir dan besar, sampai selesai STM, ditempuhnya di Bandung. Lalu melanjutkan ke Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Fakultas Teologia. Kala SD punya cita-cita ingin jadi insinyur, sesudah remaja berubah ingin adi wartawan perang. Tapi keduanya tidak kesampaian. Keinginannya sekarang, cukuplah jadi berguna bagi orang lain.

Menulis, katanya, hanyalah salah satu kesukaannya. Itu pun tidak tentu, bisa seharian menulis, bisa berbulan-bulan tidak menulis. Tapi kehadiran kolomnya di GloriaNet memaksanya untuk disiplin menulis setiap minggu.

Kesukaan lain, berada di tengah tumpukan buku bacaan (rasanya tenteram, katanya), nonton, pakai rompi, menelepon, bawa-bawa tas.

Buku-bukunya yang sudah terbit, antara lain: Penyuap-penyuap Cilik, Pengalaman di Desa Terpencil, Goji, Akhir Sebuah Perjuangan, Mendung Tak Lagi Menggantung, Rangga Bocah Ajaib, Sebarkan Wartanya, Surya Pagi, dan Pelangi Kasih.

Buku barunya yang segera menyusul, diterbitkan Yayasan Gloria, adalah:
1. Bila Orang Baik Menderita
2. Di Antara Dua Rasa
3. Menghitung Hari
4. Musuh Terakhir

  • PDF
  • Cetak

Pornopikir

  • Jumat, 17 April 2009 12:24
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
  Dari buku lawas yang ditulis oleh Anthony de Mello SJ, Burung Berkicau, saya membaca cerita ini. Judulnya Rahib dan Wanita:

Dua orang rahib Buddha, dalam perjalanan pulang kembali ke biara, bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik jelita di tepi sungai. Seperti mereka wanita itu pun ingin menyebrangi sungai. Sayang, airnya terlalu tinggi. Maka salah seorang rahib menggendongnya sampai di sebrang.

Selanjutnya: Pornopikir

  • PDF
  • Cetak

Kerilumologi Natal

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:24
  • Ditulis oleh Ayub Yahya

Tidak salah, seperti disinyalir oleh Jaya Suprana, manusia serba bisa, pencetus kelirumologi, bahwa di dunia ini ada banyak sekali kekeliruan. Tetapi karena sudah terlanjur biasa diucapkan dan didengar, atau terlanjur sering dipakai sehingga lalu tidak lagi dirasakan sebagai kekeliruan.

           

Selanjutnya: Kerilumologi Natal

  • PDF
  • Cetak

Tujuh Kebiasaan Jomblo Yang Tidak Efektif (2)

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:25
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Lima: Hanyut terbawa perasaan.
Nelangsa. Merasa kasihan pada diri sendiri. Seakan dengan ke-jomblo-an itu, dia menjadi orang yang paling malang di dunia. Makan jadi nggak enak (apalagi sayurnya sudah basi, kurang garam pula), tidur nggak nyenyak (AC mati nggak ada listrik, banyak nyamuk lagi).

Selanjutnya: Tujuh Kebiasaan Jomblo Yang Tidak Efektif (2)

  • PDF
  • Cetak

Tujuh Kebiasaan Jomblo Yang Tidak Efektif

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:26
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Satu: Negatif thinking.
Misalnya, kalau pas lagi jalan sendiri, lalu ada yang tanya (teman gereja atau teman sekampus lain jurusan), "Koq sendiri?" Langsung deh reaksinya seperti ini: "Sudah tahu sendiri, pakai tanya-tanya. Mentang-mentang gua jomblo. Ngenye, ya."

Selanjutnya: Tujuh Kebiasaan Jomblo Yang Tidak Efektif

  • PDF
  • Cetak

Katakan Jomblo Sejujurnya

  • Jumat, 17 April 2009 12:26
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Ada banyak alasan kenapa orang ngejomblo. Ada yang karena memang sudah pilihan. Jadi kesempatan sih ada. Kesiapan mental, spiritual dan material juga oke. Cuma ya, nggak mau saja. No way-lah.

Selanjutnya: Katakan Jomblo Sejujurnya

Selanjutnya...

Halaman 3 dari 18