Ayub Yahya

adalah pribadi dengan kombinasi yang harmonis. Ia seorang pendeta yang harus memiliki kemampuan orang (berbahasa lisan), sekaligus pribadi yang menyukai dunia tulis-menulis. Hasilnya, ia banyak menulis di media massa umum dan gerejawi (rohani).

Lahir dan besar, sampai selesai STM, ditempuhnya di Bandung. Lalu melanjutkan ke Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Fakultas Teologia. Kala SD punya cita-cita ingin jadi insinyur, sesudah remaja berubah ingin adi wartawan perang. Tapi keduanya tidak kesampaian. Keinginannya sekarang, cukuplah jadi berguna bagi orang lain.

Menulis, katanya, hanyalah salah satu kesukaannya. Itu pun tidak tentu, bisa seharian menulis, bisa berbulan-bulan tidak menulis. Tapi kehadiran kolomnya di GloriaNet memaksanya untuk disiplin menulis setiap minggu.

Kesukaan lain, berada di tengah tumpukan buku bacaan (rasanya tenteram, katanya), nonton, pakai rompi, menelepon, bawa-bawa tas.

Buku-bukunya yang sudah terbit, antara lain: Penyuap-penyuap Cilik, Pengalaman di Desa Terpencil, Goji, Akhir Sebuah Perjuangan, Mendung Tak Lagi Menggantung, Rangga Bocah Ajaib, Sebarkan Wartanya, Surya Pagi, dan Pelangi Kasih.

Buku barunya yang segera menyusul, diterbitkan Yayasan Gloria, adalah:
1. Bila Orang Baik Menderita
2. Di Antara Dua Rasa
3. Menghitung Hari
4. Musuh Terakhir

  • PDF
  • Cetak

Faktor X

  • Jumat, 17 April 2009 12:48
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Di Piala Dunia 2002 Perancis dan Argentina benar-benar terluka. Mereka harus menerima kenyataan tersingkir di babak awal. Kesedihan Zidane dan derita Batistusta berbaur dengan tangisan ribuan suporter, membuat luka itu semakin perih.

Selanjutnya: Faktor X

  • PDF
  • Cetak

Refreshing

  • Jumat, 17 April 2009 12:49
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Saya benar-benar habis akal, hilang daya untuk merangkai kata. Ibarat lidah yang kelu, tak sejumput pun suara di sana. Sementara dunia terus bergulir. Peristiwa demi peristiwa terus mengalir, dari yang biasa sampai yang luar biasa. Bagai kerumunan ikan yang berkeriapan di air jernih.

Selanjutnya: Refreshing

  • PDF
  • Cetak

Irak

  • Jumat, 17 April 2009 12:49
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Gambar itu begitu buram. Sesosok anak menatap nanar, di antara puing-puing reruntuhan; di antara beberapa anak lain yang terbaring pasrah, dengan sekujur tubuh biru lebam berbalut perban dan infus; di antara para orang tua yang meratap tanpa daya. Pedih dan perih begitu menggigit. 

Selanjutnya: Irak

  • PDF
  • Cetak

Komentar

  • Jumat, 17 April 2009 12:49
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Ada saat saya tergoda untuk berpikir begini: buat apa saya berlelah-lelah melakukan ini dan itu - menulis artikel, misalnya, atau belajar - toh saya tidak selamanya ada di dunia ini; cepat atau lambat saya akan mati, meninggalkan semua itu. Tidakkah lebih baik saya ikuti saja suasana dan maunya hati; "mengalir" mengikuti kemana saja arus kehidupan berhembus?!

Selanjutnya: Komentar

  • PDF
  • Cetak

Yang Tak Sempat Terucap Kesan-Pesan Dalam Rangka HUT 60 Tahun Pdt Eka Darmaputera PhD

  • Jumat, 17 April 2009 12:50
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Grogi. Saya grogi ketika diminta Pak Santo (MC), ke depan, dan ditanya tentang kesan saya terhadap tulisan-tulisan Pak Eka. Itu sungguh di luar dugaan. Tidak ada dalam skenario.

Sempat memang terpikir mau bicara apa, tetapi segera saya ingat waktu yang sangat ketat. Acara perayaan ulang tahun Pak Eka--setelah ibadah setengah jam; yang ditandai dengan potong kue, nyanyi "Happy Birthday", dan serah terima buku ke beberapa orang--lalu dilanjutkan dengan apresiasi buku-buku Pak Eka direncanakan tidak lebih dari satu jam.

Selanjutnya: Yang Tak Sempat Terucap Kesan-Pesan Dalam Rangka HUT 60 Tahun Pdt Eka Darmaputera PhD

Selanjutnya...

Halaman 6 dari 18