Ayub Yahya

adalah pribadi dengan kombinasi yang harmonis. Ia seorang pendeta yang harus memiliki kemampuan orang (berbahasa lisan), sekaligus pribadi yang menyukai dunia tulis-menulis. Hasilnya, ia banyak menulis di media massa umum dan gerejawi (rohani).

Lahir dan besar, sampai selesai STM, ditempuhnya di Bandung. Lalu melanjutkan ke Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Fakultas Teologia. Kala SD punya cita-cita ingin jadi insinyur, sesudah remaja berubah ingin adi wartawan perang. Tapi keduanya tidak kesampaian. Keinginannya sekarang, cukuplah jadi berguna bagi orang lain.

Menulis, katanya, hanyalah salah satu kesukaannya. Itu pun tidak tentu, bisa seharian menulis, bisa berbulan-bulan tidak menulis. Tapi kehadiran kolomnya di GloriaNet memaksanya untuk disiplin menulis setiap minggu.

Kesukaan lain, berada di tengah tumpukan buku bacaan (rasanya tenteram, katanya), nonton, pakai rompi, menelepon, bawa-bawa tas.

Buku-bukunya yang sudah terbit, antara lain: Penyuap-penyuap Cilik, Pengalaman di Desa Terpencil, Goji, Akhir Sebuah Perjuangan, Mendung Tak Lagi Menggantung, Rangga Bocah Ajaib, Sebarkan Wartanya, Surya Pagi, dan Pelangi Kasih.

Buku barunya yang segera menyusul, diterbitkan Yayasan Gloria, adalah:
1. Bila Orang Baik Menderita
2. Di Antara Dua Rasa
3. Menghitung Hari
4. Musuh Terakhir

  • PDF
  • Cetak

HEBOH TOMMY

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:54
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
"Si Tommy tertangkap, Pak!" kata Inem ketika saya baru saja membuka sepatu setiba di rumah malam-malam.

"Tommy siapa?" tanya saya sambil lalu.

"Tommy Soehartolah, habis Tommy siapa lagi."

"Ah, yang benar luh?" tanya saya lagi masih sambil lalu. Lagian, siapa pula yang mikirin Tommy Soeharto.

Selanjutnya: HEBOH TOMMY

  • PDF
  • Cetak

SUDUT PANDANG

  • Jumat, 17 April 2009 12:55
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Tidak salah, baik buruknya sebuah kejadian kerap tidak ditentukan oleh kejadian itu sendiri, tetapi oleh bagaimana cara kita memandangnya; sudut pandang mana yang kita pakai.

Seperti dalam cerita ini. Dua orang salesman sebuah pabrik sepatu ditugaskan oleh atasannya untuk menjajaki kemungkinan pemasaran sepatu di sebuah daerah yang sedang berkembang. Mereka pergi ke daerah itu, dan melihat ternyata para penduduk di daerah itu tidak ada yang memakai sepatu. Maka kedua salesman itu pulang memberi laporan.

Selanjutnya: SUDUT PANDANG

  • PDF
  • Cetak

MEMBELI CINTA

  • Jumat, 17 April 2009 12:55
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Cerita ini saya baca 12-13 tahun yang lalu, waktu saya masih kuliah. Jadi detailnya sudah agak lupa. Judulnya Buying Love, membeli cinta. Sebuah cerita dari Tiongkok. Inti ceritanya begini. 

Di sebuah daerah tinggal seorang saudagar kaya raya. Dia mempunyai seorang batur (baca: hamba sahaya) yang sangat lugu – begitu lugu, hingga orang-orang menyebutnya si bodoh.

Selanjutnya: MEMBELI CINTA

  • PDF
  • Cetak

MISSION

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:56
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
"Apa tujuan hidup Anda? Untuk apa Anda hidup?" Pernahkah Anda memikirkan pertanyaan itu? Kalau belum, barang sejenak cobalah Anda menyediakan waktu untuk memikirkan, merenungkan, dan menggumulinya.

Sebab itu penting. Penting, agar hidup Anda tidak lantas menjadi seperti layangan putus; terombang-ambing terbawa hembusan angin yang bertiup. Betapa akan hambar dan rapuhnya.

Selanjutnya: MISSION

  • PDF
  • Cetak

NATAL PAK KUIN

  • Jumat, 17 April 2009 12:56
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Hari ini Hari Natal. Tetapi bagi Pak Kuin, Hari Natal atau bukan, sama saja. Tidak ada bedanya dengan hari-hari lain. Di rumah petaknya yang beratap seng dan berdinding tripleks, tidak ada asesoris Natal. Jangankan mikir pernak-pernik Natal, untuk hidup sehari-hari saja susah.

Dan pula, toh ia tetap harus bekerja; bergelut dengan debu dan terik matahari atau hujan. Apalagi Cantel, 14 tahun, anak bungsunya, sedang dirawat di rumah sakit. Sakit maag akut. Mana bisa dia berleha-leha?!

Selanjutnya: NATAL PAK KUIN

Selanjutnya...

Halaman 8 dari 18