Ayub Yahya

adalah pribadi dengan kombinasi yang harmonis. Ia seorang pendeta yang harus memiliki kemampuan orang (berbahasa lisan), sekaligus pribadi yang menyukai dunia tulis-menulis. Hasilnya, ia banyak menulis di media massa umum dan gerejawi (rohani).

Lahir dan besar, sampai selesai STM, ditempuhnya di Bandung. Lalu melanjutkan ke Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Fakultas Teologia. Kala SD punya cita-cita ingin jadi insinyur, sesudah remaja berubah ingin adi wartawan perang. Tapi keduanya tidak kesampaian. Keinginannya sekarang, cukuplah jadi berguna bagi orang lain.

Menulis, katanya, hanyalah salah satu kesukaannya. Itu pun tidak tentu, bisa seharian menulis, bisa berbulan-bulan tidak menulis. Tapi kehadiran kolomnya di GloriaNet memaksanya untuk disiplin menulis setiap minggu.

Kesukaan lain, berada di tengah tumpukan buku bacaan (rasanya tenteram, katanya), nonton, pakai rompi, menelepon, bawa-bawa tas.

Buku-bukunya yang sudah terbit, antara lain: Penyuap-penyuap Cilik, Pengalaman di Desa Terpencil, Goji, Akhir Sebuah Perjuangan, Mendung Tak Lagi Menggantung, Rangga Bocah Ajaib, Sebarkan Wartanya, Surya Pagi, dan Pelangi Kasih.

Buku barunya yang segera menyusul, diterbitkan Yayasan Gloria, adalah:
1. Bila Orang Baik Menderita
2. Di Antara Dua Rasa
3. Menghitung Hari
4. Musuh Terakhir

  • PDF
  • Cetak

TUN

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:59
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
"Saya menyesal, Pak, menyesal…. menyesal.…," katanya berulang kali sambil terus menangis. "Kalau tahu begini jadinya, saya tidak akan pernah mau menikah. Tidak akan pernah, Pak."

Sejak menikah, sekitar enam bulan lalu,

Selanjutnya: TUN

  • PDF
  • Cetak

BOM

  • Jumat, 17 April 2009 13:01
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Hari Minggu, 22 Juli 2001. Pagi, menjelang siang. Sesudah bubaran kebaktian, di salah satu ruangan sebuah gereja. Terjadi obrolan ini:

"Gereja Santa Anna di bom!"

"Kapan?"

Selanjutnya: BOM

  • PDF
  • Cetak

Wakil

  • Jumat, 17 April 2009 13:01
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Yang namanya wakil harusnya tidak lebih tinggi dari yang diwakilinya; apalagi kalau dia juga digaji, disediakan segala fasilitas oleh yang diwakilinya. Wakil harusnya membawa aspirasi dan keinginan yang diwakilinya; bukan aspirasi dan keinginan pribadi atau kelompoknya.

Selanjutnya: Wakil

  • PDF
  • Cetak

Budaya

  • Jumat, 17 April 2009 13:01
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Ada sebuah permainan, begini. Kalau kita ditanya, dan kita akan menjawab iya; biasanya kita menganggukkan kepala. Sedang kalau kita akan menjawab tidak, biasanya kita menggelengkan kepala. Nah, sekarang dibalik, kalau kita menjawab iya; gelengkan kepala. Dan kalau kita menjawab tidak; anggukkan kepala.

Selanjutnya: Budaya

  • PDF
  • Cetak

Dendam

  • Jumat, 17 April 2009 13:02
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Relasi antar manusia kerapkali diwarnai dendam; pukul ganti pukul, darah ganti darah, cacian ganti cacian. Padahal sejarah telah membuktikan, dendam tidak pernah menyelesaikan masalah. Dendam berbalas dendam justru akan menimbulkan masalah baru. Tetapi manusia tidak juga belajar dari sejarah. Deretan korban akibat dendam pun terus bertambah panjang. Dan sepertinya masih akan terus bertambah.

Selanjutnya: Dendam

Selanjutnya...

Halaman 10 dari 18