Ayub Yahya

adalah pribadi dengan kombinasi yang harmonis. Ia seorang pendeta yang harus memiliki kemampuan orang (berbahasa lisan), sekaligus pribadi yang menyukai dunia tulis-menulis. Hasilnya, ia banyak menulis di media massa umum dan gerejawi (rohani).

Lahir dan besar, sampai selesai STM, ditempuhnya di Bandung. Lalu melanjutkan ke Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Fakultas Teologia. Kala SD punya cita-cita ingin jadi insinyur, sesudah remaja berubah ingin adi wartawan perang. Tapi keduanya tidak kesampaian. Keinginannya sekarang, cukuplah jadi berguna bagi orang lain.

Menulis, katanya, hanyalah salah satu kesukaannya. Itu pun tidak tentu, bisa seharian menulis, bisa berbulan-bulan tidak menulis. Tapi kehadiran kolomnya di GloriaNet memaksanya untuk disiplin menulis setiap minggu.

Kesukaan lain, berada di tengah tumpukan buku bacaan (rasanya tenteram, katanya), nonton, pakai rompi, menelepon, bawa-bawa tas.

Buku-bukunya yang sudah terbit, antara lain: Penyuap-penyuap Cilik, Pengalaman di Desa Terpencil, Goji, Akhir Sebuah Perjuangan, Mendung Tak Lagi Menggantung, Rangga Bocah Ajaib, Sebarkan Wartanya, Surya Pagi, dan Pelangi Kasih.

Buku barunya yang segera menyusul, diterbitkan Yayasan Gloria, adalah:
1. Bila Orang Baik Menderita
2. Di Antara Dua Rasa
3. Menghitung Hari
4. Musuh Terakhir

  • PDF
  • Cetak

Mitos Pernikahan

Penilaian Pengunjung: / 8
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:21
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Mitos tuh sesuatu yang nggak benar, tapi kerap sudah dianggap benar. Dalam bahasa Inggris kata myth bisa diterjemahkan pula: isapan jempol, cerita yang dibuat-buat. Istilah kerennya, urban legend. Artinya, cerita yang nggak ada dasar faktanya. Pada tahun 1999 ada film berjudul sama, yang dibintangi Tara Reid dan Joshua Jackson. Ceritanya tentang mitos-mitos yang menjadi kenyataan.

   

Selanjutnya: Mitos Pernikahan

  • PDF
  • Cetak

Phobia Pernikahan

Penilaian Pengunjung: / 4
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:21
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
   Segala sesuatu yang berlebihan itu pasti nggak baik. Contohnya: jujur. Jujur itu baik. Siapa yang bantah kan?! Tapi kalau terlalu jujur, ya bodoh. Seperti tampak pada cerita ini. Tiga orang ibu mengunjungi seorang bapak yang tengah dirawat di rumah sakit. Bapak itu mau operasi karena ada masalah dengan jantungnya.

Selanjutnya: Phobia Pernikahan

  • PDF
  • Cetak

Dua Wajah Televisi

  • Jumat, 17 April 2009 12:22
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
   Televisi berwajah ganda. Satu sisi ia memberi informasi dan menambah wawasan. Kita bisa tahu keadaan negara lain atau daerah lain dengan nonton televisi. Kita bisa tahu perkembangan mulai dari musik, mode, olah raga dan film, sampai politik dan ilmu pengetahuan lewat televisi.

 

Selanjutnya: Dua Wajah Televisi

  • PDF
  • Cetak

Rayap-Rayap Pernikahan

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 12:23
  • Ditulis oleh Ayub Yahya

Coptotermes dan Sedotermes. Nama yang keren? Huss, nanti dulu. Jangan deh berpikir untuk menjadikan itu nama anak Anda. Itu adalah dua jenis rayap yang paling cepat menyerang bangunan. Nggak semua orang kenal dengan jenis serangga perusak bangunan ini. Tapi, akhir bulan Maret 2006 binatang kecil dari ordo Isoptera ini mendadak ngetop. Jadi headline koran-koran ibukota. Nggak kalah dengan berita selebritis yang lagi bermasalah di acara infoteiment.

Selanjutnya: Rayap-Rayap Pernikahan

  • PDF
  • Cetak

Khotbah

  • Jumat, 17 April 2009 12:23
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Kemaren nonton Crash. Film yang dibintangi antara lain Sandra Bullock, Matt Dillon, dan Brendan Fraser. Tadinya saya pikir itu film mirip-mirip Speed. Tapi koq dapet Oscar sebagai film terbaik. Mana ada kan film “ringan” macam Speed dapet film terbaik Oscar?

            Dan benar, ja uh dari model Speed. Nggak “ringan”. Nontonnya kudu perhatiin benar. Sedikit kelewat dialognya, buyar deh.

            Dari segi penyajian sih film itu sangat oke-lah. Pemain-pemainnya juga bagus.

Cuma alur ceritanya nggak menarik. Ngebosenin. Nggak ada klimaksnya. Nggak ada kesimpulannya. Malah kayaknya nggak ada pemain utamanya pula. Semuanya pemain dapat porsi relatif sama.

            Bercerita tentang rasialisme di tengah keseharian masyarakat Amerika. Tapi penggambarannya kayak potongan-potongan puzzle. Setiap potongan punya cerita sendiri-sendiri. Dan setiap bagian cerita itu kemudian berkaitan secara kebetulan. Cuma dibikin begitu rupa sehingga nggak kayak kebetulan.

            Saya coba ringkas ni ya.

            Tokoh-tokohnya: Sepasang suami (a) istri (b) kulit putih. Sang suami seorang pengacara sibuk. Sang istri kesepian. Dua orang pemuda berandalan kulit hitam (c) (d). Sepasang suami (e) istri (f) kulit hitam. Hubungan mereka tengah bermasalah. Dua orang polisi kulit putih (g) (h). (g) tengah menghadapi masalah dengan asuransi kesehatan ayahnya yang sakit-sakitan. (h) seorang polisi idealis.

            Seorang detektif kulit hitam (i) dengan kekasihnya seorang gadis Mexciko (j). Satu keluarga Persia: suami (k), istri, dan anak gadisnya. Mereka punya toko kelontong. Seorang tukang kunci jujur (l) dengan istri dan anaknya yang masih kecil. Karena warna kulit ia kerap dicurigai buruk walau sudah bertindak benar. Sepasang suami (m) istri (o) Cina.

            Baru pemetaan tokoh-tokohnya sudah jelimet kan . Ceritanya lebih lagi. Begini potongan intinya. (i) bersama (j) tengah menyidik sebuah kasus pembunuhan. Mobil mereka tabrakan dengan mobil (o). (j) dan (o) bertengkar. Dalam pertengkaran itu soal ras terbawa-bawa.

            (e) dan (f) kena tilang karena berbuat tidak senonoh di dalam mobil. (g) yang menilang melecehkan (e). ketika pelecehan itu terjadi (f) hanya diam saja. (e) marah kepada (f). (f) tidak terima disalahkan. Mereka bertengkar hebat. Hubungan mereka pun retak. (h) tidak terima (g) berbuat begitu.

            (c) dan (d) merampas mobil (a) dan (b). Saat melarikan mobil itu tanpa sengaja mereka melindas (m). (f) mengalami kecelakaan mobil. (g) yang kebetulan ada di situ menyelamatkan nyawa (g). Sempat terjadi ketegangan. (f) menolak diselamatkan (g). Ia teringat peristiwa pelecehan dirinya oleh (g).  

            (l) membetulkan kunci pintu toko (k). (k) nggak puas dengan pekerjaan (l). Ia marah-marah. Besoknya tokonya habis dijarah maling. Ia menuduh (l). Lalu dengan sepucuk pistol ia mendatangi rumah (l). Terjadilah adegan sangat mengharukan. Hampir (k) membunuh anak (l) yang masih kecil.

            (c) (d) merampas mobil (e). (e) yang lagi stress nekad melawan. (c) dan (d) tak berkutik. Mereka terpisah. (c) melarikan diri sendirian. Sedang (d) ikut (e) yang terus melarikan mobilnya. Mereka dikejar serombongan polisi. (h) yang ikut dalam pengejaran itu berhasil meredakan suasana.

            Malam menjelang. (c) terlunta-lunta mencari tumpangan. (h) mengendari mobil sendirian. Ia memberi tumpangan pada (c). Terjadi salah pengertian. (h) menembak (c) hingga tewas. (c) ternyata adik (i) yang menghilang dari rumahnya dan ditunggu-tunggu sang ibu. Jenazah (c) inilah yang disidik (i) diawal film..             

            Ribet ya? Hehehe itu nggak semuanya terceritakan loh.

            Jadi, bisa dibayangkan jelimet dan ngebingunginnya kan ?!

            Lalu pesannya apa?

            Ya, tentang rasialisme itu. Selebihnya embuh. Teu nyaho teuing abdi. Nggak tahu hehehehe.  

**

            Lain banget dengan film Jet Li, Fearless. Jalan cerita sederhana. Lurus. Mudah ditangkap. Kisah pendekar jagoan yang sombong. Karena kesombongannya ia harus kehilangan orang-orang yang dikasihinya. Ia jadi gila. Lalu sembuh. Dan kemudian jadi pahlawan.

            Pesannya? Jadi orang tuh jangan takabur. Ketakaburan bisa bikin celaka; celaka diri sendiri, celaka orang lain. Rendah hati mendatangkan kehormatan.

            Sebuah pesan yang very simple.

            Dan perlu.

            Asyik lagi nontonnya.

**

            Kita bicara tentang khotbah.

            Khotbah seperti film. Ada khotbah seperti film Crash tadi. Isinya berbobot; baik secara teologis maupun filosofis. Dalam, luas, lebar. Tafsir Alkitabnya pun canggih; entah dengan historis critis, entah dengan tafsir naratif. Atau model tafsiran apa lagi gitu. Pokoknya secara akademis A plus deh.

            Cuma ya, bagi orang kebanyakan jelimet. Ngebingungin. Orang harus mikir dan menebak-nebak. Sudah gitu, masih disuruh nyimpulin sendiri. Ujung-ujungnya kalau orang ditanya, apa pesannya? Jawabnya: Anu. Anu apa? Teu nyaho teuing abdi. Hehehe jadinya kumaha eta???

            Ada khotbah jenis film Fearless. Sederhana. Pesannya jelas. Nggak muter-muter. Nggak diawang-awang. Asyik disimak. Enak gitu didengerinnya. Orang nggak disuruh menebak-nebak. Dari sisi akademis, ya biasalah. Tapi nggak buruk juga loh. Pendek kata orang pulang bawa “sesuatu” yang nempel di benak lekat di hati.

            Selain itu ada juga khotbah bukan tipe Crash. Bukan tipe Fearless. Tapi tipe film Indonesia tempo dulu. Kayak Persaingan Asmara dan Kutukan Nyi Blorong :))

 

**

            Just info, waktu nonton Crash, yang nonton cuma berdua; saya dan istri. Mbak penjaga bioskop sampai tanya, “Filmnya mau tetap diputerin, atau dikembalikan saja uangnnya?” Karena tanggung, saya dan istri pilih lanjut :)). Khotbah ala Crash, ya setali tiga uanglah. Kurang peminat.

            Sedang waktu nonton Fearless, saya sampai dua kali ngantri karena kehabisan karcis. Baru ngantri ketiga dapet. Itu pun dibarisan kedua paling depan. Nah, Kalau khotbah ala Fearless, okelah. Sip. Orang pasti berbondong-bondong mau dengerin. Bisa sampai ngebela-belain loh.

            Lalu bagaimana dengan khotbah ala Persaingan Asmara dan Kutukan Nyi Blorong? Ada juga yang suka sih hehehe :). Buktinya film-film kayak gitu terus dibikin. Tapi apa Anda mau nonton?!!!

 

***

Ayub Yahya
http://ayubyahya.blogspot.com

Selanjutnya...

Halaman 2 dari 18