Ayub Yahya

adalah pribadi dengan kombinasi yang harmonis. Ia seorang pendeta yang harus memiliki kemampuan orang (berbahasa lisan), sekaligus pribadi yang menyukai dunia tulis-menulis. Hasilnya, ia banyak menulis di media massa umum dan gerejawi (rohani).

Lahir dan besar, sampai selesai STM, ditempuhnya di Bandung. Lalu melanjutkan ke Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Fakultas Teologia. Kala SD punya cita-cita ingin jadi insinyur, sesudah remaja berubah ingin adi wartawan perang. Tapi keduanya tidak kesampaian. Keinginannya sekarang, cukuplah jadi berguna bagi orang lain.

Menulis, katanya, hanyalah salah satu kesukaannya. Itu pun tidak tentu, bisa seharian menulis, bisa berbulan-bulan tidak menulis. Tapi kehadiran kolomnya di GloriaNet memaksanya untuk disiplin menulis setiap minggu.

Kesukaan lain, berada di tengah tumpukan buku bacaan (rasanya tenteram, katanya), nonton, pakai rompi, menelepon, bawa-bawa tas.

Buku-bukunya yang sudah terbit, antara lain: Penyuap-penyuap Cilik, Pengalaman di Desa Terpencil, Goji, Akhir Sebuah Perjuangan, Mendung Tak Lagi Menggantung, Rangga Bocah Ajaib, Sebarkan Wartanya, Surya Pagi, dan Pelangi Kasih.

Buku barunya yang segera menyusul, diterbitkan Yayasan Gloria, adalah:
1. Bila Orang Baik Menderita
2. Di Antara Dua Rasa
3. Menghitung Hari
4. Musuh Terakhir

  • PDF
  • Cetak

GILA

  • Jumat, 17 April 2009 13:02
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Teman saya kehilangan sepeda motornya. Dicuri. Tidak ada lima menit dia parkir di depan rumahnya. Dikunci pula. Eh, amblas. Zaman makin modern, segala sesuatu makin canggih. Maling juga.

Dia mau ngurus asuransi. Dia perlu surat blokir STNK. Dia banyak mendengar urusan demikian kalau dijalani dengan cara lurus, akan sangat melelahkan; salah-salah malah tidak akan pernah beres. Tetapi dia mau mencoba. 

Selanjutnya: GILA

  • PDF
  • Cetak

KENANGAN

  • Jumat, 17 April 2009 13:03
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Malam ini hujan. Cukup deras. Saya duduk di teras depan rumah. Sendiri. Belum seminggu saya pindah rumah; masih sangat berantakan, dan banyak debu. Anak-anak dan istri saya masih tinggal sementara di rumah mertua. Rencananya setelah semuanya beres mereka baru menyusul. 

Selanjutnya: KENANGAN

  • PDF
  • Cetak

KAREN

  • Jumat, 17 April 2009 13:03
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
13 Juni 2001, pk. 07.40, lewat operasi caesar, Karen lahir. Sehat walafiat. Bahwa Karen bahagia terlahir ke dalam dunia; hanya ia dan Tuhan yang tahu. Tetapi yang pasti kami, saya dan istri, bahagia. Dan lega pula. Terutama kalau ingat kembali jejak langkah sembilan bulan yang lalu.

Selanjutnya: KAREN

  • PDF
  • Cetak

ISU

  • Jumat, 17 April 2009 13:04
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Di tengah masyarakat yang resah dan bingung, isu bisa menjadi subur. Sebuah dugaan, sebuah penafsiran, bahkan sebuah kabar burung, bisa ditangkap sebagai sebuah kebenaran. Maka, ibarat sebuah bola salju, dia akan terus menggelinding, semakin lama semakin besar; meninggalkan jejak, tanpa orang tahu lagi bentuk aslinya.

Selanjutnya: ISU

  • PDF
  • Cetak

BUNG KARNO

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 13:04
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Saya tidak tahu banyak tentang Bung Karno. Saya lahir ketika masa Bung Karno sudah selesai. Lebih dari itu, saya besar di zaman di mana segala sesuatu yang berkaitan dengan Bung Karno disingkirkan secara sistematis. Bahkan jasa dan perjuangannya mengantar bangsa Indonesia ke gerbang kemerdekaan; seakan sebuah angin lalu, sepoi bertiup, ada, terburai, lalu tiada.

Selanjutnya: BUNG KARNO

Selanjutnya...

Halaman 11 dari 18