Ayub Yahya

adalah pribadi dengan kombinasi yang harmonis. Ia seorang pendeta yang harus memiliki kemampuan orang (berbahasa lisan), sekaligus pribadi yang menyukai dunia tulis-menulis. Hasilnya, ia banyak menulis di media massa umum dan gerejawi (rohani).

Lahir dan besar, sampai selesai STM, ditempuhnya di Bandung. Lalu melanjutkan ke Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Fakultas Teologia. Kala SD punya cita-cita ingin jadi insinyur, sesudah remaja berubah ingin adi wartawan perang. Tapi keduanya tidak kesampaian. Keinginannya sekarang, cukuplah jadi berguna bagi orang lain.

Menulis, katanya, hanyalah salah satu kesukaannya. Itu pun tidak tentu, bisa seharian menulis, bisa berbulan-bulan tidak menulis. Tapi kehadiran kolomnya di GloriaNet memaksanya untuk disiplin menulis setiap minggu.

Kesukaan lain, berada di tengah tumpukan buku bacaan (rasanya tenteram, katanya), nonton, pakai rompi, menelepon, bawa-bawa tas.

Buku-bukunya yang sudah terbit, antara lain: Penyuap-penyuap Cilik, Pengalaman di Desa Terpencil, Goji, Akhir Sebuah Perjuangan, Mendung Tak Lagi Menggantung, Rangga Bocah Ajaib, Sebarkan Wartanya, Surya Pagi, dan Pelangi Kasih.

Buku barunya yang segera menyusul, diterbitkan Yayasan Gloria, adalah:
1. Bila Orang Baik Menderita
2. Di Antara Dua Rasa
3. Menghitung Hari
4. Musuh Terakhir

  • PDF
  • Cetak

MELI

  • Jumat, 17 April 2009 13:05
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Usianya sekitar 50 tahun. Penampilannya bersih, dan cukup rapi, kesannya juga cukup intelek. Menurut pengakuannya, ia lancar berbahasa Inggris dan Mandarin. Ia juga bisa nyetir mobil.

Selanjutnya: MELI

  • PDF
  • Cetak

SUPORTER

  • Jumat, 17 April 2009 13:05
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Bayern Munchen juara Piala Champion Eropa, setelah 25 tahun tidak pernah lagi merebut gelar terhormat itu. Di final mereka melibas Valencia lewat adu penalti. Ribuan suporter klub Jerman itu tumpah ruah ke jalan: menari, bernyanyi, bersorak. Semua larut dalam satu kata: sukacita!

Selanjutnya: SUPORTER

  • PDF
  • Cetak

ANAK-ANAK

  • Jumat, 17 April 2009 13:23
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Tulus dan lugu, itulah anak-anak. Lihatlah mereka ketika tengah bermain, atau tatapan mereka ketika sedang mengagumi sesuatu. Juga, rasakanlah sentuhan jemarinya, atau kehangatan pelukannya. Ada damai yang mereka tawarkan. Tidak seperti kita, orang dewasa, yang kerap sudah terlalu banyak diwarnai kecurigaan dan kepalsuan; kata dan perbuatan kerap hanyalah sebagai topeng untuk menyembunyikan maksud hati yang sesungguhnya.

Selanjutnya: ANAK-ANAK

  • PDF
  • Cetak

KENANGAN MEI: ATIKAH

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 13:24
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Dia lahir dan besar di Pontianak, Kalimantan Barat. Keluarga, teman-temannya di sekolah, juga para tetangganya memanggil dia Acui. No problem. Orang tuanya memang memberinya nama Siau Tjui. Sebuah nama biasa. Orang-orang di sekitarnya; entah yang Melayu, Jawa, Batak atau Madura juga tidak pernah menganggap nama itu sebagai nama asing. Karenanya dia tidak pernah merasa berbeda, apalagi dibedakan dengan, misalnya Masaroh, atau Tarmini, atau Jubaedah. Mereka berteman biasa saja. Tanpa ada sekat atau jurang pemisah. 

Selanjutnya: KENANGAN MEI: ATIKAH

  • PDF
  • Cetak

NASIB

  • Jumat, 17 April 2009 13:25
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Ada sebuah pepatah Cina, "Nasib baik, nasib buruk siapa tahu." Pepatah itu mau mengatakan, apa yang sekarang tampaknya keberuntungan belum tentu seterusnya menjadi keberuntungan; salah-salah malah bisa menjadi bencana. Sebaliknya apa yang sekarang tampaknya bencana, belum tentu seterusnya menjadi bencana; bisa-bisa malah menjadi keberuntungan. 

Selanjutnya: NASIB

Selanjutnya...

Halaman 12 dari 18