Ayub Yahya

adalah pribadi dengan kombinasi yang harmonis. Ia seorang pendeta yang harus memiliki kemampuan orang (berbahasa lisan), sekaligus pribadi yang menyukai dunia tulis-menulis. Hasilnya, ia banyak menulis di media massa umum dan gerejawi (rohani).

Lahir dan besar, sampai selesai STM, ditempuhnya di Bandung. Lalu melanjutkan ke Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Fakultas Teologia. Kala SD punya cita-cita ingin jadi insinyur, sesudah remaja berubah ingin adi wartawan perang. Tapi keduanya tidak kesampaian. Keinginannya sekarang, cukuplah jadi berguna bagi orang lain.

Menulis, katanya, hanyalah salah satu kesukaannya. Itu pun tidak tentu, bisa seharian menulis, bisa berbulan-bulan tidak menulis. Tapi kehadiran kolomnya di GloriaNet memaksanya untuk disiplin menulis setiap minggu.

Kesukaan lain, berada di tengah tumpukan buku bacaan (rasanya tenteram, katanya), nonton, pakai rompi, menelepon, bawa-bawa tas.

Buku-bukunya yang sudah terbit, antara lain: Penyuap-penyuap Cilik, Pengalaman di Desa Terpencil, Goji, Akhir Sebuah Perjuangan, Mendung Tak Lagi Menggantung, Rangga Bocah Ajaib, Sebarkan Wartanya, Surya Pagi, dan Pelangi Kasih.

Buku barunya yang segera menyusul, diterbitkan Yayasan Gloria, adalah:
1. Bila Orang Baik Menderita
2. Di Antara Dua Rasa
3. Menghitung Hari
4. Musuh Terakhir

  • PDF
  • Cetak

MALU

  • Jumat, 17 April 2009 13:25
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Kisah ini sangat dikenal. Para ahli Taurat dan orang Farisi membawa kepada Tuhan Yesus seorang perempuan yang ketahuan berzinah. Menurut hukum yang berlaku ketika itu jelas: perzinahan adalah dosa besar, dan vonisnya adalah dirajam dengan batu sampai mati. 

Selanjutnya: MALU

  • PDF
  • Cetak

AGAMA

  • Jumat, 17 April 2009 13:26
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Kalau ada satu bidang dalam kehidupan manusia, yang paling kerap dieksploitasi dan dimanipulasi habis-habisan, maka itu adalah agama. Demi mengejar keuntungan dan kepentingan pribadi, atau meraih ambisi dan tujuan politik tertentu; simbol-simbol agama kerap dikedepankan.

Selanjutnya: AGAMA

  • PDF
  • Cetak

IBU SUWANTI

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 13:26
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Belajar tidak mengenal batas usia. Pepatah ini bukan omong kosong. Kalau tidak percaya, tanyakanlah pada Ibu Suwanti. 

Ibu Suwanti usia 74 tahun. Tinggal di daerah Cilandak. Sampai sekarang tercatat sebagai mahasiswi program strata satu di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara semester tujuh, jurusan teologi.

Selanjutnya: IBU SUWANTI

  • PDF
  • Cetak

STANDAR

  • Jumat, 17 April 2009 13:27
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Saya kagum dengan teman saya itu. Dia pengusaha, bukan pengusaha besar memang, tetapi, paling tidak di mata saya, lumayanlah. Akhir tahun yang lalu badai krismon habis-habisan menerpa usahanya. Tagihannya di sana-sini macet, sementara dia terus diuber tagihan dengan kurs dollar yang gila-gilaan. Perusahaannya yang ia bangun dari bawah benar-benar di ambang kehancuran. Tetapi dia toh tetap tenang-tenang saja. Aktif di gereja seperti biasa. Tertawa dan bersenda gurau seperti biasa. Kalau dia tidak cerita, orang lain juga tidak akan tahu apa yang sedang dihadapinya. 

Selanjutnya: STANDAR

  • PDF
  • Cetak

PAY IT FORWARD

  • Jumat, 17 April 2009 13:28
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Bayangkan begini: Karena sebuah peristiwa, mobil Anda hancur. Di tengah hujan deras. Lalu tiba-tiba muncul orang tidak dikenal, memberikan mobil Jaguarnya kepada Anda. Betul-betul memberikannya! Gratis. Anda pasti menganggap orang itu gila, atau punya maksud apa-apa terhadap Anda. Atau Anda menganggap itu cuma adegan dalam mimpi di siang bolong.

Selanjutnya: PAY IT FORWARD

Selanjutnya...

Halaman 13 dari 18