Ayub Yahya

adalah pribadi dengan kombinasi yang harmonis. Ia seorang pendeta yang harus memiliki kemampuan orang (berbahasa lisan), sekaligus pribadi yang menyukai dunia tulis-menulis. Hasilnya, ia banyak menulis di media massa umum dan gerejawi (rohani).

Lahir dan besar, sampai selesai STM, ditempuhnya di Bandung. Lalu melanjutkan ke Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Fakultas Teologia. Kala SD punya cita-cita ingin jadi insinyur, sesudah remaja berubah ingin adi wartawan perang. Tapi keduanya tidak kesampaian. Keinginannya sekarang, cukuplah jadi berguna bagi orang lain.

Menulis, katanya, hanyalah salah satu kesukaannya. Itu pun tidak tentu, bisa seharian menulis, bisa berbulan-bulan tidak menulis. Tapi kehadiran kolomnya di GloriaNet memaksanya untuk disiplin menulis setiap minggu.

Kesukaan lain, berada di tengah tumpukan buku bacaan (rasanya tenteram, katanya), nonton, pakai rompi, menelepon, bawa-bawa tas.

Buku-bukunya yang sudah terbit, antara lain: Penyuap-penyuap Cilik, Pengalaman di Desa Terpencil, Goji, Akhir Sebuah Perjuangan, Mendung Tak Lagi Menggantung, Rangga Bocah Ajaib, Sebarkan Wartanya, Surya Pagi, dan Pelangi Kasih.

Buku barunya yang segera menyusul, diterbitkan Yayasan Gloria, adalah:
1. Bila Orang Baik Menderita
2. Di Antara Dua Rasa
3. Menghitung Hari
4. Musuh Terakhir

  • PDF
  • Cetak

SABAR

  • Jumat, 17 April 2009 13:37
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Sabar. Bisa jadi ini bukan sikap yang paling menentukan dalam hidup seseorang. Berhasil atau gagal, bahagia atau kecewa, tak selalu berkaitan langsung dengan sikap sabar. Tetapi hampir dapat dipastikan, ketidaksabaran bisa mempersulit diri sendiri. Bahkan juga orang lain. Membuat rumit apa yang sebenarnya sepele. Lihat saja ini, yang terjadi suatu kali di satu sudut Jakarta. Masalah sebenarnya sederhana, sebuah sedan mogok agak ke tengah jalan. Seharusnya itu tidak menjadi soal besar, jalan di kanan dan kiri masih cukup lebar untuk dilalui kendaraan lain. Hanya memang harus perlahan-lahan.

Selanjutnya: SABAR

  • PDF
  • Cetak

PAK HARTO

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 13:37
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Teman saya, dulu, bangga sekali dengan foto itu. Dia pajang di ruang tamu, persis menghadap pintu depan. Foto ukuran 10 R dengan figura dari kayu yang diukir. Foto dia lagi bersalaman dengan Pak Harto pada acara pembukaan salah satu pameran di Istana Negara.

Minggu lalu untuk sebuah urusan saya datang ke rumahnya. Foto itu sudah tidak ada di tempat biasanya. 

Selanjutnya: PAK HARTO

  • PDF
  • Cetak

A. RIYANTO

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 13:38
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Lagu-lagu ciptaan almarhum A. Riyanto selalu menggugah rasa, paling tidak buat saya; bisa lucu, bisa juga nelangsa. Coba simak petikan ini, "Di tamanku tumbuh bunga mawar, kini sedang menyembul kuncupnya. Kunantikan dengan sabar hati, bilakah kuncup mengembang." Atau yang ini, "Kan kucari dalamnya sunyi untuk menghindar darimu. Kuberjanji di dalam hati takkan lagi menjumpaimu."

Selanjutnya: A. RIYANTO

  • PDF
  • Cetak

DEMONSTRASI

  • Jumat, 17 April 2009 13:38
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Tadi siang seorang teman menelepon, "Jangan lewat By Pass, di depan Gedung Bea Cukai lagi ada demonstrasi," katanya.

"Demonstrasi apa?" saya tanya.

"Nggak tahu. Pokoknya jalanan macet total, karena satu arah jalan diblokir para demonstran."

Selanjutnya: DEMONSTRASI

  • PDF
  • Cetak

BERHARGA

  • Jumat, 17 April 2009 13:39
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Ini cerita lama. Saya mengenalnya tidak sengaja. Sekali waktu, saya melihat dia sedang tidur-tiduran di depan pintu kamar kost saya. Kebetulan saya lagi punya makanan sisa, jadi saya kasih dia. Besoknya eh, dia datang lagi. Saya kasih lagi dia makanan. Besoknya lagi begitu juga. Sejak itu, hampir tiap hari dia datang. Kadang-kadang kalau pun saya lagi pergi, dia sudah menunggu di depan pintu kamar.

Selanjutnya: BERHARGA

Selanjutnya...

Halaman 15 dari 18