Ayub Yahya

adalah pribadi dengan kombinasi yang harmonis. Ia seorang pendeta yang harus memiliki kemampuan orang (berbahasa lisan), sekaligus pribadi yang menyukai dunia tulis-menulis. Hasilnya, ia banyak menulis di media massa umum dan gerejawi (rohani).

Lahir dan besar, sampai selesai STM, ditempuhnya di Bandung. Lalu melanjutkan ke Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Fakultas Teologia. Kala SD punya cita-cita ingin jadi insinyur, sesudah remaja berubah ingin adi wartawan perang. Tapi keduanya tidak kesampaian. Keinginannya sekarang, cukuplah jadi berguna bagi orang lain.

Menulis, katanya, hanyalah salah satu kesukaannya. Itu pun tidak tentu, bisa seharian menulis, bisa berbulan-bulan tidak menulis. Tapi kehadiran kolomnya di GloriaNet memaksanya untuk disiplin menulis setiap minggu.

Kesukaan lain, berada di tengah tumpukan buku bacaan (rasanya tenteram, katanya), nonton, pakai rompi, menelepon, bawa-bawa tas.

Buku-bukunya yang sudah terbit, antara lain: Penyuap-penyuap Cilik, Pengalaman di Desa Terpencil, Goji, Akhir Sebuah Perjuangan, Mendung Tak Lagi Menggantung, Rangga Bocah Ajaib, Sebarkan Wartanya, Surya Pagi, dan Pelangi Kasih.

Buku barunya yang segera menyusul, diterbitkan Yayasan Gloria, adalah:
1. Bila Orang Baik Menderita
2. Di Antara Dua Rasa
3. Menghitung Hari
4. Musuh Terakhir

  • PDF
  • Cetak

ODANG

  • Jumat, 17 April 2009 13:41
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Bubur ayam dagangannya memang terkenal, paling tidak di sekitar tempat mertua saya tinggal; selain karena bersih dan rasanya cukup enak harganya juga relatif murah, semangkuk Rp. 1.500,- 

Mungkin agak berlebihan kalau dibilang, tiap pagi banyak orang yang menunggu dia. Tetapi kenyataannya, di atas pukul 10-an, orang sudah tidak kebagian lagi bubur ayamnya. Habis.

Selanjutnya: ODANG

  • PDF
  • Cetak

JUJUR

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 13:41
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Waktu kecil saya pernah mendengar pepatah, "Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana." Ibu saya juga sering bilang, "Jadi orang itu harus jujur, harus bisa dipercaya orang lain. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk dirimu juga. Supaya hidupmu lebih mudah."

Selanjutnya: JUJUR

  • PDF
  • Cetak

KANTUK

  • Jumat, 17 April 2009 13:42
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Pagi itu saya berada di bis jurusan Sukabumi-Jakarta. Habis mimpin retret sebuah sekolah di Wisma Kinasih, Caringin, Bogor.

Bis penuh sesak. Penumpang berjejal-jejal, sampai untuk berdiri pun susahnya minta ampun. Bau segala macam merasuk ke hidung. Sungguh tidak nyaman. Sebagian besar penumpang yang mendapat tempat duduk, asyik terkantuk-kantuk. Memperhatikan mereka jadi geli juga. Ada yang kepalanya sambil terpuntal-puntal mengikuti ayunan bis. Ada yang mulutnya terbuka, seperti ikan kehabisan air.

Selanjutnya: KANTUK

  • PDF
  • Cetak

KARET GELANG

  • Jumat, 17 April 2009 13:48
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Suatu kali saya membutuhkan karet gelang. Satu saja. Shampoo yang akan saya bawa tutupnya sudah dol. Harus dibungkus lagi dengan plastik lalu diikat dengan karet gelang. Kalau tidak bisa berabe. Isinya bisa tumpah ruah mengotori seisi tas.

Selanjutnya: KARET GELANG

  • PDF
  • Cetak

NAMA

  • Jumat, 17 April 2009 13:49
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Hampir semua orang kenal Yudas Iskariot. Dia adalah salah seorang dari dua belas murid Tuhan Yesus. Jabatan resminya bendahara. Sepanjang sejarah orang mengingatnya, mengenang ciumannya di Taman Getsemani, dan... mengutuknya sebagai pengkhianat! 

Tetapi tahukah Anda, kenapa Yudas mengkhianati Tuhan Yesus? Jelas bukan karena uang. Sebab kalau karena uang, kenapa dia menghargai-Nya hanya 30 keping uang perak. Kalau mau, tentunya dia bisa meminta harga yang jauh lebih tinggi. Dan pula, setelah mendapatkan uang itu kenapa dia malah membuangnya? 

Selanjutnya: NAMA

Selanjutnya...

Halaman 16 dari 18