Ayub Yahya

adalah pribadi dengan kombinasi yang harmonis. Ia seorang pendeta yang harus memiliki kemampuan orang (berbahasa lisan), sekaligus pribadi yang menyukai dunia tulis-menulis. Hasilnya, ia banyak menulis di media massa umum dan gerejawi (rohani).

Lahir dan besar, sampai selesai STM, ditempuhnya di Bandung. Lalu melanjutkan ke Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Fakultas Teologia. Kala SD punya cita-cita ingin jadi insinyur, sesudah remaja berubah ingin adi wartawan perang. Tapi keduanya tidak kesampaian. Keinginannya sekarang, cukuplah jadi berguna bagi orang lain.

Menulis, katanya, hanyalah salah satu kesukaannya. Itu pun tidak tentu, bisa seharian menulis, bisa berbulan-bulan tidak menulis. Tapi kehadiran kolomnya di GloriaNet memaksanya untuk disiplin menulis setiap minggu.

Kesukaan lain, berada di tengah tumpukan buku bacaan (rasanya tenteram, katanya), nonton, pakai rompi, menelepon, bawa-bawa tas.

Buku-bukunya yang sudah terbit, antara lain: Penyuap-penyuap Cilik, Pengalaman di Desa Terpencil, Goji, Akhir Sebuah Perjuangan, Mendung Tak Lagi Menggantung, Rangga Bocah Ajaib, Sebarkan Wartanya, Surya Pagi, dan Pelangi Kasih.

Buku barunya yang segera menyusul, diterbitkan Yayasan Gloria, adalah:
1. Bila Orang Baik Menderita
2. Di Antara Dua Rasa
3. Menghitung Hari
4. Musuh Terakhir

  • PDF
  • Cetak

RIYANTO

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 13:52
  • Ditulis oleh Ayub Yahya

Konon, kalau mau mengetahui sifat atau karakter asli seseorang, lihat saja reaksi spontannya ketika menghadapi suatu kejadian mendadak dan mengejutkan. Misalnya, kendaraan di depan dia tiba-tiba menyalib atau mengerem mendadak; segera sumpah serapah berhamburan dari mulutnya, atau dia cuma melotot dan mengelus dada tetapi tetap berdiam diri. Atau di tengah keramaian orang lalu lalang, tiba-tiba dia melihat seekor ular berbahaya; segera ngacir menyelamatkan diri, atau dia mencari cara untuk mengamankan itu ular. 

Selanjutnya: RIYANTO

  • PDF
  • Cetak

PENAMPAKAN

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 13:54
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Sampai tulisan ini dibuat, geger soal penampakan Tuhan Yesus di tembok salah satu rumah di Jl. Kramat V belum juga reda. Pro dan kontra terus berlanjut. Cerita dari orang-orang yang katanya sempat pergi melihat ke tempat itu pun simpang siur. Bisa jadi karena sudah bercampur dengan penafsiran atau bahkan imajinasi sendiri. Kabar terakhir yang saya dengar, kejadian itu sudah menjadi ajang pertikaian di kalangan orang-orang Kristen sendiri dan bahan olok-olok masyarakat sekitar.

Selanjutnya: PENAMPAKAN

  • PDF
  • Cetak

KEKUASAAN

  • Jumat, 17 April 2009 13:54
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Tentang kekuasaan; sejarah mencatat, penguasa satu turun (dan hilang ditelan zaman) penguasa lain muncul, hasilnya hampir selalu sama: tirani. Baik tirani dalam arti penindasan terhadap martabat manusia dan pembunuhan massal ala Lenin, Pinochet, dan Pol Pot, maupun tirani dalam arti penyalahgunaan kekuasaan dan pemaksaan kehendak demi kepentingan pribadi dan kroni ala Mobutu, Marcos, dan Soeharto.

Selanjutnya: KEKUASAAN

  • PDF
  • Cetak

ANAK

  • Jumat, 17 April 2009 13:55
  • Ditulis oleh Ayub Yahya
Seorang teman yang baru saja mempunyai anak pernah bilang, "Punya anak itu repot!". Waktu itu saya cuma tertawa. Tempo hari saya bertemu lagi dengan teman saya itu, saya bilang padanya, "Betul kamu dulu, punya anak itu repot!" Dia tertawa. "Rasain, Lu," candanya.

Selanjutnya: ANAK

Halaman 18 dari 18