• PDF

Piring-piring perak

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 18 April 2009 12:27
  • Ditulis oleh Jonathan Goeij
  • Sudah dibaca: 1981 kali
Badanku gemetar ketika paderi tua itu datang memasuki pintu kantor polisi, aku tak berdaya mengangkat kepalaku memandang wajah tua itu. Rasa malu dan takut menerpaku. Aku telah mencuri barang-barang paderi tua itu, dan kini, pasti dia marah sekali. Sepatah kata saja darinya membenarkan bahwa aku mencuri barang-barang berharga itu akan membuatku kembali masuk penjara selama bertahun-tahun. Memang sepantasnya bila paderi itu marah, akupun akan marah besar bila barang-barang berhargaku yang kusimpan bertahun-tahun sebagai barang pusaka dicuri orang.

Dulu ... sembilan belas tahun yang lalu, waktu itu aku baru saja meninggalkan masa remaja, aku mencuri roti untuk adik-adikku yang kelaparan. Kami hidup sangat miskin sekali, telah dua hari kami belum makan sepotong rotipun. Sebenarnya aku tidak apa-apa kelaparan, aku masih bisa menahannya. Tapi adik-adikku itu, aku tidak tahan melihat tubuh mereka gemetar, bibir yang pucat, mata yang membesar dengan pandangan kosong.

Roti di etalase toko itu menarik sekali, toko itu begitu besar dan ramai. Pembelinya begitu banyak, untuk membayarpun orang harus antre terlebih dahulu. Sedang adik-adikku badannya panas dan gemetaran karena kelaparan, sepotong roti akan membuat adik-adikku sehat dan bertenaga kembali. Kehilangan sepotong roti juga tidak ada artinya bagi toko sebesar itu. 

Kuselipkan roti tawar di balik bajuku, perlahan aku berjalan ke arah pintu keluar ... Tapi, oh, kurasa tarikan pada bajuku. Rupanya pegawai toko itu melihatku. Dan sebagai akibatnya aku harus mendekam selama sembilan belas tahun di dalam penjara.

Kini, aku tidak tahu, berapa puluh tahun lagi aku akan mendekam kembali didalam penjara. Kali ini bukan hanya roti yang kucuri, tetapi piring-piring perak simpanan si paderi tua. Piring-piring perak itu harganya sangat mahal sekali.

Telah beberapa saat aku menginap dirumah sipaderi tua, sebenarnya sipaderi tua itu baik sekali. Aku diberinya makan, makanan yang terenak yang pernah kumakan dalam hidupku. Bukan itu saja, bahkan makanan itu disuguhkan dengan piring perak dan nyala lilin dengan tempatnya yang terbuat dari perak juga. Aku benar-benar diperlakukan sebagai orang terhormat, seperti bangsawan saja layaknya. Dan sebagai balasannya ... piring-piring perak itu kucuri.

"Jean, Val Jean," kudengar suara sipaderi tua itu memanggilku. Aku tertunduk, kepalaku seakan lunglai tak berdaya. Sipaderi tua sebenarnya berkata dengan lembut, tetapi aku merasa seperti dibentak dengan keras. Ya, sebentar lagi aku akan kembali ke penjara. Hidupku akan selalu berpindah dari penjara satu ke penjara lainnya.

"Jean, engkau ketinggalan tempat lilinnya." Kata paderi tua itu sambil menyodorkan tempat lilin perak itu kepadaku. "Kenapa dengan sahabatku ini Pak Polisi? Piring-piring perak itu memang pemberianku kepadanya."

Aku terpana, lidahku kelu. Hatiku serasa seperti disiram dengan air dingin. Menyegarkan, menghidupkan. Tunas disanubariku yang telah mengering menjadi segar kembali.

Jonathan Goeij, 05 Oktober 2002
West Covina - California, USA
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
uum  - huh   |120.160.114.xxx |05-12-2009 17:18:56
ini apa an?
saya ga ngerti?
kan nyari nya piring perak....
kok kelur nya
beginian...
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."