Api, Museum, dan Mesin Waktu

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Sudah sekitar 2-3 hari ini rasanya setiap kali melihat berita selalu kebakaran muncul dilayar kaca, sepanjang kaki bukit pegunungan San Bernardino penuh lautan api. Dari Rancho Cucamonga memanjang terus ke San Bernardino barisan api membakar pepohonan dan semak-semak, ribuan penduduk terpaksa mengungsi dan sampai berita terakhir jam 10 tadi sudah lebih dari 200 rumah yang terbakar dan kebakaran masih mengancam ribuan rumah lainnya. Tapi syukurlah sampai sekarang ini tidak ada korban jiwa akibat kebakaran.

Rumah-rumah yang terbakar tentu tidak begitu masalah karena pihak asuransi kebakaran pasti akan menggantinya, tetapi biarpun sedikit tentu ada juga rumah yang tidak diasuransikan, ya, tidak tahulah bagaimana nasib mereka yang tidak mengasuransikan rumahnya. Sementara setelah ini premi asuransi kebakaran kemungkinan besar akan melonjak drastic dan mungkin juga akan banyak perusahaan asuransi kebakaran yang gulung tikar. Juga sebagai orang yang bergerak dibidang real estate aku secara otomatis memperkirakan betapa market rumah dikawasan itu akan drop cukup banyak padahal sebelum ini sementara ahli memperkirakan perkembangan San Bernardino sangatlah tinggi bahkan lebih tinggi dari kawasan Los Angeles.

Kamera menyorot sebuah rumah yang habis terbakar, tinggal tersisa fondasi dan puing-puing berserakan sementara sisa-sisa api menggerogoti puing yang tersisa. Dan rumah itu ternyata milik seorang petugas pemadam kebakaran yang sepanjang hari itu berjuang sekuat tenaga memadamkan api dan menolong puluhan rumah lainnya, sementara rumahnya sendiri habis terbakar. Suatu sikap yang mendahulukan tugas dan kewajiban, mendahulukan kepentingan orang lain diatas kepentingan diri sendiri. Luar biasa.

Malam ini petunjuk waktu akan berputar kembali satu jam kebelakang, nanti sebelum tidur aku akan memutar jam beker diatas ranjang supaya besok tidak usah kepagian pergi ke gereja. Lumayan juga rasanya waktu untuk tidur bertambah satu jam. Jam beker memang gampang bisa saja diputar kebelakang, jam 2 kembali jadi jam 1, tetapi apakah waktu yang sebenarnya bisa juga diputar kebelakang? Seandainya bisa, aku membayangkan, apakah sang petugas pemadam kebakaran akan tetap pergi menjalankan tugasnya menyelamatkan puluhan rumah dan membiarkan rumahnya sendiri terbakar habis? Tentu akan sukar sekali dijawab.

Tempo hari aku baru saja merasakan waktu yang berputar kembali kebelakang, menengok kembali perjalanan sejarah. Di Museum of Tolerance jarum jam Millennium Machine bergerak kebelakang menatap kembali peristiwa-peristiwa pelanggaran kemanusian pada dewasa ini, ada tayangan kembali rubuhnya Twin Tower di New York, suicide bomber di Israel, dan berbagai macam tragedy yang lain, eh ada juga Indonesia disana, ada tragedy Mey '98, ada bom Bali, ada bom Mariot. Indonesia saat ini benar-benar terkenal didunia, tapi ya… itulah, terkenal karena terorisnya.

Disebuah layar raksasa di tembok berputar kembali momen bersejarah saat Martin luther King Jr. menyampaikan pidatonya yang fenomenal, I have a dream, pidato yang mengubah wajah Amerika bahkan wajah dunia. Tampak juga wajah bopeng Amerika waktu itu, wajah yang mengenakan make-up politik segregasi, diskriminasi berdasarkan warna kulit. Diberbagai tempat ada tanda pemisah white dan black/Niger.

Mesin waktu terus berjalan, kali ini aku memasuki Holocaust Exhibit, ditempat ini mesin waktu membawaku kedalam masa sebelum perang dunia dua. Waktu berputar kebelakang kemasa Hitler masih no body dan berjuang menjadi orang yang paling berkuasa didunia waktu itu. Betapa Hitler dengan partainya Nazi memenangkan pemilihan umum yang diselenggarakan secara demokrasi, suara narrator menerangkan Hitler sebagai pemimpin baru harus bekerja dengan militer yang dibentuk oleh rejim yang lama.

Waktu itu krisis ekonomi melanda Jerman, mungkin sama dengan krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada penghujung tahun 90an, dan Hitler melimpahkan kesalahan kepundak orang-orang Yahudi padahal populasi Yahudi di Jerman tidak sampai 1 persen, luar biasa. Pikiranku terbang kembali kemasa tahun 96-98, betapa keruntuhan ekonomi Indonesia dikambing hitamkan kepundak masyarakat Tionghoa yang populasinya hanya sekitar 3 persen, betapa miripnya. Berbagai undang-undang dan peraturan yang sangat diskriminatif sekali membatasi ruang gerak Yahudi mulai dibuat, sampai dengan keputusan untuk melenyapkan Yahudi dari bumi Eropah. Dan hebatnya keputusan itu dibuat oleh konferensi para pimpinan Nazi, Wannsee Conference, melalui proses yang demokrasi.

Aku terus berjalan sampai pada kamp kamp konsentrasi, dimana para tawanan Yahudi dipisah-pisahkan. Laki-laki ditempatkan sendiri sementara wanita dan anak-anak pada kelompok yang lain. Para laki-laki itu, tua dan muda berbaris dengan tertib, disuruh membuka bajunya sampai telanjang bulat. Barang-barang berharga ditumpuk membukit. Barisan telanjang itu pintu ruang gas tertutup itu, untuk tidak keluar kembali. Tumpukan bukit mayat telanjang bagaikan tumpukan ikan sarden didalam jala. Wanita dan anak-anak juga mendapat perlakuan yang sama. Dari sekitar 10 juta populasi Yahudi di Eropah, sekitar 5 juta orang menjadi korban dalam Holocaust itu.

Hitler disini dipilih secara demokrasi melalui pemilihan umum, undang-undang dan peraturan yang dikeluarkan juga dihasilkan melalui proses yang demokrasi. Tetapi…. hasilnya adalah ethnic cleansing, human rights abusing, holocaust. Apakah demokrasi itu salah, apakah demokrasi itu tidak perlu? Tentu saja tidak, demokrasi sangat diperlukan. Tetapi dalam demokrasi, biar bagaimanapun banyaknya mayoritas menghendaki, demokrasi tidaklah boleh melanggar hak-hak asasi manusia, minority rights haruslah dilindungi sama sekali tidak boleh dilibas atas nama mayoritas. Dan celakanya, saat ini, demokrasi model Hitler itulah yang saat ini akan dijalankan di Indonesia. Mulai dengan munculnya berbagai UU dan RUU yang favor kemayoritas dan mulai mengeliminasi minority rights dan hak asasi manusia.

Pada akhir exhibit, tour guide bertanya siapakah yang paling bersalah dalam holocaust tsb., sebenarnya pertanyaan sederhana sekali anak SD pun akan bisa berteriak Hitler yang bersalah. Tetapi suasana menjadi hening untuk kemudian salah seorang menjawab "setiap orang yang berdiam diri dan membiarkan holocaust itu terjadi".

Jonathan Goeij, 281003

West Covina - California, USA
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."