• PDF

Kennedy dan Bhinneka Tunggal Ika

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 18 April 2009 12:47
  • Ditulis oleh Jonathan Goeij
  • Sudah dibaca: 1972 kali
Pagi hari itu aku mendapat kesempatan berharga sekali bisa mendapatkan dan melihat dokumentari video pidato Edward M. Kennedy di Liberty Baptist College, aku terkejut sekali mendapatkan betapa tepatnya isi pidato itu dengan kondisi Indonesia saat ini "I am an American and a Catholic; I love my country and treasure my faith." Suatu pernyataan iman dan juga ucapan nasionalis sejati, mencintai negara dan menjunjung tinggi iman kepercayaannya. "But I do not assume that my conception of patriotism or policy is invariably correct, or that my convictions about religion should command any greater respect than any other faith in this pluralistic society." Luar biasa sekali, aku terpaku ditempat dudukku, jendela pemahaman akan kemajemukan didalam masyarakat mulai terbuka. "I believe there surely is such a thing as truth, but who among us can claim a monopoly on it?"
-
Pikiranku melayang jauh, kubayangkan diriku berada disamping Bung Karno di Pura Ubud dipulau para dewata, Bali. Kulihat kidalang Nyoman Granyam memainkan kakawin Sutasoma penggalan karya Mpu Tantular. Sutasoma sang Raja Hastina menyediakan diri untuk disantap Batara Kala. "Nanging ana pamintaku, uripana sahananing ratu kabeh." (Tapi ada permohonanku, hidupkanlah para raja itu semuanya) kata Sutasoma kepada raksasa Porusada yang telah menangkap 100 raja-raja untuk dipersembahkan kepada Batara Kala. Pengorbanan diri Sang Sutasoma ini menyentuh hati Batara Siwa yang menitis pada Porusada, tahulah Batara Siwa ini betapa Sutasoma adalah Sang Budha sendiri, ditinggalkannya tubuh raksasa Porusada dan kembali ke kahyangan. Mangka Jinatwa lawan Siwatatwa tunggal, Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa, atau didalam bahasa kita sehari-hari dapat diartikan: "Berbeda-beda dalam keyakinan, bersatu didalam perbedaan, menuju kepada kemajuan bangsa."

Muhammad Yamin mengusulkan Bhinneka Tunggal Ika kepada Bung Karno dan juga para founding fathers yang lain sebagai lambang persatuan Indonesia. Para pendiri bangsa ini tersenyum simpul dan mengangguk menyetujui usul Muhammad Yamin ini. Bangsa Indonesia memang terpisah didalam ribuan pulau, terdiri dari bermacam kelompok etnis, bermacam keyakinan agama, bermacam ragam budaya, multi-etnisitas, multi-agamis, multi-kulturalis. Jelas sangat berbeda sekali satu sama lain, dan hal itu jelas-jelas disadari oleh para bapak pendiri bangsa ini. Tepatlah sudah lambang persatuan Indonesia ini, Bhinneka Tunggal Ika, Bersatu Dalam Perbedaan. Tepat seperti permintaan Sutasoma ketika merelakan dirinya disantap Sang Batara Kala "Nanging ana pamintaku, uripana sahananing ratu kabeh." Biarlah keseratus raja itu hidup, biarlah ada kemajemukan itu didalam masyarakat biarlah keberagaman itu hidup, biarlah perbedaan itu memperkaya bangsa ini.
-
Kennedy kemudian mengutarakan para penyusun kerangka konstitusi yang berbeda-beda dalam keyakinan keagamaan, betapa mereka memegang teguh imannya, tetapi toh mereka meletakkan Religious Freedom didalam First Amendment, pasal pertama didalam Bill of Rights. Visi didalam Freedom of Religion sangatlah jelas: "The God who gave us life gave us liberty at the same time."
-
Sila pertama didalam Pancasila pun menyiratkan hal yang sama, Ketuhanan Yang Maha Esa, yang diartikan sebagai kebebasan untuk memeluk agama masing-masing. Tepat sekali apa yang dikatakan Kennedy, Tuhan yang telah memberi kita kehidupan juga memberi kita kemerdekaan pada saat yang sama. Untuk mewujudkannya ada tiga nilai yang bisa digunakan: kebebasan, kesetaraan, dan toleransi. Setiap warga negara mempunyai kebebasan untuk memilih dan memeluk agama/keyakinannya masing-masing, setiap agama/keyakinan adalah setara didalam kehidupan bernegara, dan toleransi antar umat beragama, toleransi bukan hanya berarti kelompok minoritas memberikan toleransinya kepada mayoritas tetapi juga kelompok mayoritas memberikan toleransinya kepada minoritas. Aku meyakini kebenaran didalam keyakinanku, tetapi tentu aku tidak dapat memaksakan keyakinanku didalam kehidupan bernegara. "I believe there surely is such a thing as truth, but who among us can claim a monopoly on it?"

"Pluralism obviously does not and cannot mean that all of them are right; but it does mean that there are areas where government cannot and should not decide what it is wrong to believe, to think, to read, and to do." Demikian Kennedy melanjutkan pidatonya. Memang benar pluralisme bukan berarti dan dapat berarti bahwa kesemuanya benar atau bahkan kesemuanya salah, tetapi ini berarti adalah ada sebuah wilayah didalam privacy manusia (hak-hak asasi manusia) dimana pemerintah (baik itu eksekutif, legislative, yudikatif, ataupun gabungan kesemuanya itu) tidak bisa ikut campur didalamnya. Pemerintah tidak bisa mengharuskan ataupun melarang setiap individu didalam keyakinannya. "The real transgression occurs when religion wants government to tell citizens how to live uniquely personal parts of their lives."

Kennedy mengakhiri pidatonya dengan mengutip surat Rasul Paulus kepada jemaat dikota Roma: "If it be possible, as much as it lieth in you, live peaceable with all men."

Jonathan Goeij, 241103

West Covina - California, USA
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."