• PDF

The Passion, Pemilu, dan Aedes Aegepty

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 18 April 2009 12:52
  • Ditulis oleh Jonathan Goeij
  • Sudah dibaca: 2911 kali
Film The Passion of The Christ telah diputar beberapa minggu lamanya, tetapi gaung pembicaraan tentang film ini tak kunjung pudar. Sekilas menurut berita AOL News film ini telah meraup US$350 million hanya sampai perputaran minggu ketiga dan tentu masih akan meraup lebih banyak lagi uang pada minggu-minggu berikutnya, mungkin sampai sekian tahun lagi tidak akan ada film yang mencapai sukses The Passion. Dunia perfilman di Hollywood gempar, rasa-rasanya - demikian dugaanku -segera akan menyusul berbagai produksi film yang bertema keagamaan. Sayangnya film ini kelihatannya tidak akan diputar di Indonesia, tetapi VCD dan DVDnya sudah banyak beredar dan bisa disewa diberbagai video rental, hal yang ajaib sekali karena di Los Angeles bahkan di Blockbuster yang biasanya paling cepat menyewakan DVD baru film ini belum ada disana, betapa kreatifnya orang-orang Indonesia. Sementara dana kampanye Presiden Bush yang dikumpulkan selama sekian tahun seperti yang diberitakan KTLA 5 baru mencapai jumlah $110 million, hanya sekitar sepertiga perolehan The Passion yang hanya tiga minggu lamanya. Apalagi kalau dibandingkan dana kampanye John Kerry sang calon presiden dari partai Democrat yang hanya sebesar $3 million.

Di layar lebar itu aku melihat Kayafas dan rombongan Majelis Ulama membawa Yesus yang telah dipukuli dan disiksa sebelumnya kehadapan Pontius Pilatus agar diadili dan disalibkan. Kayafas dan kelompok Majelis Ulama-nya menganggap Yesus sesat, mengajarkan doktrin yang salah, dan karenanya pantas dihukum mati. Kelompok Majelis Ulama ini ingin menggunakan tangan pemerintah, Pilatus, sang gubernur jendral. Edward M. Kennedy ketika berbicara tentang pluralism dan separation between church and state berkata: "The real transgression occurs when religion wants government to tell citizens how to live uniquely personal parts of their lives." Dan disini, difilm ini, aku melihat betapa agama - yang diwakili oleh Majelis Ulama - memaksakan kehendaknya melalui tangan pemerintah. Dan inilah real transgression yang dimaksudkan oleh Kennedy. Dan hasilnya kita telah tahu, Yesus yang sama sekali tidak bersalah, tidak ada sama sekali kejahatan pidana ataupun perdata harus disiksa sedemikian rupa dan akhirnya disalibkan, kemanusiaan - hak-hak asasi manusia - telah diinjak-injak dan dihilangkan sedemikian rupa atas nama agama. Agama yang seharusnya menjunjung kemanusiaan justru telah membunuh kemanusiaan itu sendiri.

Layar lebar dimataku ikut berputar film The Passion versiku sendiri. Kulihat sekian tahun yang lalu agama juga telah memanfaatkan tangan dewi keadilan dalam menghukum Arswendo dalam kasus majalah Monitor, bahkan majalah itu mungkin saat ini telah banyak yang melupakan namanya. Belum begitu lama agama bahkan menggunakan tangan demokrasi, mengatas namakan mayoritas, membuat undang-undang yang melanggar HAM, UU Sisdiknas, dan mengabaikan sama sekali suara masyarakat yang menentangnya. Padahal demokrasi tidaklah boleh melanggar HAM. Dan itulah pula demokrasi yang dilakukan Kayafas ketika mempengaruhi orang banyak itu agar memilih menyalibkan Yesus dan membebaskan Barabas. Demokrasi yang menyalibkan HAM. Dan agama yang menggunakan tangan demokrasi itu untuk memaksakan kehendaknya itu akan berulang didalam RUU KUB seandainya demokrasi tidak membebaskan dirinya dari cengkeraman agama.

Iklan kampanye pemilu kelihatannya telah memasuki Amerika. Sedikitnya aku telah melihat iklan Partai Damai Sejahtera dimajalah Spirit dan iklan Partai Demokrat dimajalah Indonesia Media. Pemilu yang diadakan setiap lima tahun sekali merupakan ajang bagi rakyat untuk melaksanakan hak dan kewajibannya, untuk ikut serta memerintah negara, bersama seluruh rakyat Indonesia mengatur dirinya sendiri. Demokrasi pada dasarnya adalah rakyat yang memerintah negara, dan untuk melakukan ini saat dan tempat yang diatur melalui konstitusi adalah pada saat pemilihan umum ini. Manfaatkanlah kesempatan ini dengan memilih wakil dan juga partai yang sesuai dengan suara hati. Tunjukkanlah bahwa rakyat memang berkuasa dan ikut memerintah negeri ini. Jangan biarkan sekelompok orang mengatas namakan apapun menggunakan hak yang seharusnya milik rakyat didalam berdemokrasi, menggunakannya hanya untuk kepentingan kantong sendiri, kepentingan kelompok sendiri dengan mengabaikan hak kelompok minoritas bahkan membelenggu HAM. Dengan melaksanakan demokrasi secara semestinya barulah negara ini bisa pulih.

Eka yang datang kekantorku bertanya: "kapan dan gimana ya caranya mendaftar jadi pemilih?" Aku terhenyak kaget, bukankah seharusnya pendaftaran pemilih telah selesai dilakukan dan bahkan kampanye telah dimulai. Tetapi, benar-benar aneh, karena hanya sedikit sekali orang di LA sini yang mengetahuinya.

Korban gigitan nyamuk Aedes Aegepty makin bertambah banyak, menurut harian Suara Pembaruan tanggal 16 Maret 2004 telah ditemukan 35.166 kasus penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan korban meninggal sebanyak 455 orang. Suatu jumlah yang banyak sekali dan masih akan terus bertambah. Pak Yohannes yang baru pulang dari liburannya ke Indonesia bercerita: "selokan-selokan dipinggir jalan memang digali, tetapi kotorannya hanya ditimbun dipinggir selokan." Ya, jadilah air diselokan mengalir sesaat. Setelah turun hujan timbunan dipinggir selokan akan masuk kembali kedalam selokan, mapet lagi, air tergenang, dan pada air yang tergenang inilah Aedes Aegepty menemukan habitatnya untuk berkembang biak. Belum lagi kalau hujan turun agak lama sedikit, jadilah rutinitas tahunan dimusim hujan. Banjir.

Harian Kompas dan Suara Pembaruan mengangkat berita yang menyayat hati tentang keluarga Bustomi (terima kasih untuk Pak Slamet yang telah memforwadkan berita ini), betapa keluarga ini harus kehilangan ibu yang terkasih dan seorang anak yang menjadi buah hati. Sayang sungguh sangat disayangkan karena mereka tidak sempat mendapat perawatan secara semestinya karena pihak rumah sakit menolak untuk merawat.

Siang tadi aku mengantar tante Twan kerumah sakit USC hospital didowntown Los Angeles, setelah menunggu agak lama tibalah giliran tante Twan untuk diperiksa. Dr. Jenny Chang menyambut kedatangan tante Twan dengan sapaan ramah, senyuman lebar, dan pelukan hangat. Dengan sabar dan penuh perhatian Dr. Chang menanyakan kondisi tante Twan, sakit yang diderita, gejala-gejalanya. Dengan sikap professional sebagai tenaga medis Dr. Chang melayani tante Twan, dan mengatur waktu pertemuan berikutnya untuk melakukan semacam surgery. Setelah selesai pemeriksaan kami menuju farmasi dirumah sakit itu untuk mengambil obat. Dan untuk kesemua pelayanan kelas satu itu tidak ada satu senpun yang dikeluarkan tante Twan. Oh, seandainya Indonesia bisa seperti ini. Mungkin tidak akan ada nasib malang yang dialami keluarga Bustomi.

Jonathan Goeij, 220304

West Covina - California, USA
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."