• PDF

Arnold, Calon Presiden, dan HIV

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 18 April 2009 12:53
  • Ditulis oleh Jonathan Goeij
  • Sudah dibaca: 2811 kali
“Arnold punya keberanian”, kata John Wuo kepadaku saat kami ngobrol-ngobrol sambil berdiri dipekarangan dalam rumah Dr. Irawan. John Wuo adalah mantan mayor (walikota) Arcadia, sekarang menjabat sebagai City Council. John Wuo adalah salah seorang dari para imigran Asia yang mengabdikan diri melayani kepentingan masyarakat, dan merupakan salah seorang pejabat favoritku. Kami kongkow-kongkow dengan bebas sekali tanpa jarak, jauh sekali bedanya bila dibandingkan dengan para pejabat Indonesia.

Baru saja bulan Maret yang lalu dengan tegas dan berani Arnold membawa preposition 57 dan 58 kepada publik karena legislative menolak untuk me-refinance state’s debt. Dengan membawa prep. 57 & 58 kedalam ballot untuk dipilih voters, Arnold telah membawa masyarakat untuk ikut memerintah. Dan masyarakat mendukung Arnold dengan memilih Yes untuk kedua preposition itu. Suatu kiat jitu untuk menghadapi para politisi busuk yang saat ini banyak bercokol di legislative.

Para politisi busuk memang cukup banyak bercokol di California ini. Seperti misalnya kebijaksanaan untuk tidak menarik pajak kasino-kasino di Indian Reservation diseantero California, dan ternyata mereka menjadi sumber dana kampanye bagi Gray Davis dan Bustamante si mantan gubernur dan wakilnya. Luar biasa bisnis billionan dolar tanpa pajak dan hanya share ala kadarnya untuk kegiatan social, benar-benar suatu permainan politik yang luar biasa. Mungkin kurang lebih sama dengan yang dilakukan Akbar Tanjung yang mengeruk Bulog untuk mengumpulkan dana kampanye Partai Golkar. Sama-sama politisi busuk. “Arnold tidak perlu dirty money seperti itu” lanjut John Wuo. Dan memang benar, cukup dengan main film Terminator IV maka Arnold sudah akan dapat mengantongi puluhan bahkan mungkin ratusan juta dollar.

Pemilu legislative di Indonesia baru saja berlalu, terkecuali PDI-P, maka hasil yang diperoleh para partai besar itu kurang lebih sama dengan pemilu 1999 hampir tidak berubah sama sekali. PDI-P yang pada pemilu 1999 berhasil menjadi pemenang dengan jumlah suara sekitar 34% pada pemilu kali ini merosot ketempat kedua dengan jumlah suara sekitar 19%, kehilangan sekitar 15% suara. Kelihatannya suara PDI-P yang hilang itu sebagian besar masuk kedalam dua partai baru, PD dan PKS, yang mendadak sontak masuk kedalam jajaran partai-partai besar.

Suatu kejutan terjadi, Wiranto berhasil memenangkan konvensi Partai Golkar dengan menjadi capres tunggal partai itu. Dengan demikian akan terjadi persaingan ketat antara Megawati, Wiranto, dan Susilo Bambang Yudhoyono dalam perebutan kursi kepresidenan. Secara umum masyarakat merasa kecewa dengan kinerja kepemimpinan Megawati selama ini, sementara Wiranto biar bagaimanapun terlibat dalam kasus pelanggaran HAM di Timor Timur bahkan dicekal untuk memasuki Amerika Serikat dan diduga kuat terlibat dalam kasus tragedy Mei 98. Tinggal SBY yang menjadi pilihan terbaik diantara yang buruk, apalagi berpasangan dengan Jusuf Kalla yang terkenal tegas dan bersih dan berhasil dalam tugasnya sebagai juru damai di Poso. Para ahli dan berbagai lembagai surveypun memperkirakan pasangan SBY-JK yang akan memenangkan kursi kepresidenan kali ini.

Adalah menarik mencermati ulasan Riswandha Imawan dalam opininya di harian Kompas 20 April 2004. Siapapun pemenang kursi kepresidenan akan menjadi “The Lonely Winners”. Melihat didalam legislative tidak ada satu partaipun yang mencapai suara signifikan, dua partai terbesarpun Golkar dan PDI-P masing-masing hanya mempunyai sekitar 20an persen suara. Terlalu jauh untuk memberikan suara dominan didalam legislative. Dan cukup masuk akal, siapapun pemenang kursi kepresidenan akan menghadapi masalah yang ruwet ini. Sayangnya Indonesia tidak mempunyai mekanisme membawa preposition kedalam ballot untuk diputuskan oleh publik, seperti yang dilakukan oleh Arnold terhadap preposition 57 & 58.

Dunia film porno di Hollywood gempar, dua orang bintangnya secara positif divonis mengidap HIV, itu virus pembawa penyakit AIDS. Dan dengan segera industri film porno shut down, dihentikan sendiri oleh para produsennya. Sampai seluruh pemainnya diperiksa total dan dinyatakan bebas dari HIV barulah industri raksasa itu dibuka kembali. Di Indonesia sendiri, menurut menteri kesehatan Sujudi, diperkirakan pengidap HIV/AIDS berkisar antara 90.000-130.000, suatu jumlah yang luar biasa sekali. Apalagi kalau teori gunung es yang digunakan, dimana jumlah yang kelihatan dipermukaan lebih kecil daripada yang ada didalam, maka jumlah pengidap HIV/AIDS bisa berlipat kali lebih banyak. Secara umum ada dua macam cara penyebaran virus ini; melalui jarum suntik diantara pemakai narkoba, dan hubungan seks yang tidak aman dengan mereka yang bukan pasangan hidupnya. Di Hollywood para produsen dengan kehendak sendiri dan penuh kesadaran me-shut down industri film pornonya.

Di Indonesia apakah bisa para produsen industri narkoba dan seks bebas me-shut down industrinya setidaknya sementara sampai epidemi HIV/AIDS bisa dihentikan? Kelihatannya jawabannya bisa dipastikan tidak. Karena itu tindakan pemerintah dan terutama kesadaran masyarakat sangat diperlukan. Panti-panti pemulihan narkoba perlu dibangun sebanyak-banyaknya baik oleh pemerintah ataupun masyarakat. Lapangan kerja harus dibuka seluas-luasnya agar tidak semakin banyak orang yang memilih lapangan pekerjaan sebagai penjaja seksual. Masyarakat harus dibiasakan melalukan seks aman, dan yang paling aman adalah abstinence, menahan diri dan hanya melakukan hubungan dengan pasangan hidupnya.

Jonathan Goeij, 240404

West Covina - California, USA
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."