Idealisme, Realita dan Iman

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 

Wuihhh rasanya ini judul tulisan ‘terberat’ yang pernah saya tulis. Heuhehe. Idealisme :O Makanan apa pula itu?!?! :p Kalo dihitung hitung, sudah 1½ bulan saya jadi guru.

Mau tau perasaan saya Guys? Hehehe. Mau jawaban jujur atau ngga? :p  Jawaban kurang jujur, guru memang pahlawan tanpa tanda jasa. Jawaban jujur, … jadi guru … NGGA ENAAAAKKK!!!

Wakakakak.

Saya lumayan suka ngajarnya, lumayan suka berhadapan dengan anak-anak, tapi administrasi guru bener-bener bikin saya toeeenksss!! 2 Minggu lalu, anak-anak baru ulangan, mereka selesai ulangan, gantian saya yang sibuk. Koreksi lebih dari 700 lembar kertas (total murid saya kira-kira 380 anak, 1 soal ada 3 lembar. Itung sendiri. Hehehe), masukkin ke daftar nilai, bikin laporan hasil ulangan, rata-rata, nilai max min, analisa soal. :O

Ketika dulu saya bercita-cita, mengidam-idamkan back for good en jadi guru di almamater (yang keliatannya keren, berjiwa luhur dan muliaaa) saya ngga pernah bayangin bakal ngadepin masalah kayak gini. Setumpuk kertas ulangan, anak-anak yang bawel en suka ngga bisa diem, tuntutan sekolah plus ortu yang setinggi surga, bahan yang bertumpuk tapi dengan waktu yang minim kepotong libur ini itu, kebaktian ini itu. Ngga kepikir Guys. Dulu Tuhan ketawa kali ye pas saya nangis2 minta pulang :p

Masih shock dengan masalah administrasi, saya cukup kaget juga dengan realita borok-borok dunia pendidikan. :$ Rasanya badan saya langsung lemes. Sempet merasa madesu (masa depan suram) wakakak. Ketika ngeliat guru-guru senior dalam hati bertanya-tanya, akankah saya jadi seperti mereka?? Saya sungguh teramat sangat salut dengan guru-guru senior yang tetap jadi guru. Ngga mudah. Sungguh.

Sekarang saya mengerti, kenapa ada banyak guru yang bersikap skeptis, sedikit sinis, pesimis … Kata sapa dunia pendidikan itu dunia yang bersih? :p Saya sendiri sempat merasa down en merasa semua idealisme saya hancur cur curr. Ngga lagi punya cita-cita ini itu, pengen ini itu. Bisa survive aja udeh bagus.

Kalau idealisme itu seumpama sayap, maka realita itu seperti rantai besi yang membelenggu kaki saya.

Seandainya saya berhenti pada titik kalimat di atas … saya rasa saya bisa bayangkan kondisi saya 5 tahun ke depan :p Saya akan jadi guru yang skeptis, sinis, dan pemain sandiwara yang bae … Seburuk apapun kondisi yang saya lihat, saya tetap harus mengajar dengan tersenyum.

But Thx God, kita punya Tuhan yang luar biasa.

Saya sempat bertanya-tanya, apakah Tuhan yang saya sembah di China bisa membawa perubahan di tengah segala kungkungan ini? Apakah Tuhan sanggup?? Masih bisakah saya melihat mukjizat seperti yang dulu saya liat di China ? Masihkah Tuhan menyiapkan kejutan-kejutan manis untuk saya? Apakah iman saya bisa bertahan …

Guys, banyak orang berpikir iman itu sama dengan idealisme. Iman = idealnya begitu … tapi … realitanya blablabla. Beriman boleh tapi liat realitanya donks!

Sebenarnya Guys, iman itu mengatasi realita. Karena apa yang kekal itu justru tidak terlihat. Jangan tertipu dengan mata kita. Banyak orang ketika benar-benar masuk ke dunia kerja, kecewa melihat realita dan kehilangan iman. Mungkin mereka tetap jadi Kristen, tetep ke gereja, tetep pelayanan, tapi mereka tidak lagi percaya bahwa Tuhan Yesus benar-benar hidup!! Bahwa Yesus lebih besar dari masalah kita, lebih besar daripada Boss kita.

Tadi pagi, ketika saya saat teduh di tengah segala kebingungan dan tekanan akhirnya saya ngomong sama Tuhan, “Tuhan, aku kerja buat Engkau. U’re my Boss. Boss saya bukan kepala sekolah, bukan orang tua murid, bukan coordinator, bukan kurikulum, bukan yayasan, tapi boss saya Tuhan.”

Eh Tuhan tiba-tiba tanya, “Menurutmu Aku Boss yang seperti apa?”

Saya diem trus saya menyebutkan karakter-karakter Tuhan yang saya kenal selama ini, “Engkau Boss yang baik. Kau Boss yang punya belas kasihan. Tuhan suka tersenyum, suka kasih kejutan. Kalau aku salah pasti diomelin, tapi tidak pernah didakwa. Kau adil. Kau ngga pernah gossip. Kau bisa dipercaya. Kau bisa diajak ngomong, bisa diajak konsultasi, punya segudang solusi. Kau mengerti semua kesulitanku.” 

Guys, saya mengucapkan kata-kata di atas sambil mengenang masa-masa saya dengan Tuhan di China. Kenangan-kenangan manis yang Dia berikan. Tanpa sadar ketika saya menyebutkan itu semua, air mata saya mengalir. Seperti ada harapan yang timbul.

“Nik, kalau kerja dengan boss seperti itu kira-kira rasanya seperti apa?”

Saya senyum trus bilang, “Pasti menyenangkan.”

En saya ngerti maksud Tuhan. :)

Sekolah, kurikulum, orang tua bisa punya segudang tuntutan tapi saya tidak bekerja untuk mereka. Saya bekerja untuk Tuhan, Allah pencipta langit dan bumi. Jam kerja saya tidak dibatasi oleh jam kerja kantor. Dia mengawasi saya 24 jam, ketika saya sendirian di kamar bikin laporan, ngitung daftar nilai. Dia melihat hal-hal yang tidak dilihat orang.

Dia boss yang luar biasa. Luar biasa baik. :) Dia, boss yang mengasihi saya. Dan menyenangkan sekali bekerja untuk atasan seperti Dia.

Guys, jangan liat kepada realita yang kita lihat. Lihatlah kepada Tuhan. Saya belajar bahwa “rancangan-Ku bukanlah rancanganmu.” Idealisme saya berbeda dengan apa yang Tuhan rencanakan. Saya belajar untuk meninggalkan idealisme-idealisme yang saya punya dan menggantinya dengan impian-impian dari Tuhan.

 

Tuhan, seneng deh punya boss kayak Engkau. Hehehe, Bantu aku untuk masuk kerja terus dengan semangat 45, apapun yang saya lihat, ingatkan saya. U’re my Boss.

 

Jakarta, 1 September 2007
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
angela.lala.panda  - :)   |118.136.26.xxx |09-08-2009 04:25:26

bgus...
nidya  - sip   |125.205.199.xxx |15-10-2009 23:32:47
Jesus, You are my Boss. i love You,,my big boss
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."