• PDF

Love Regardless

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 16:45
  • Ditulis oleh Grace Suryani
  • Sudah dibaca: 2986 kali
      Beberapa hari kemaren saya pergi ke Singapore dengan 2 misi. Misi yang pertama meminta konfirmasi dari Tuhan mengenai kemungkinan saya untuk LASIK. Misi kedua, yang soal hubungan saya dengan pacar saya. Kedua misi tersebut berhasil, sekalipun dengan cara yang tidak saya bayangkan. :p

                Yang pertama soal mata. Tadinya saya berharap, dokter di Singapore akan bilang, “Yak, mata dan kondisi kamu memungkinkan untuk LASIK”, tapi ternyata ngga. :p en saya jadi sadar, sebenernya saya berangkat tidak dengan hati yang terbuka untuk menerima apapun jawaban Tuhan! Saya pengen Tuhan jawab Iya. :p En ternyata jawabannya tidak. Malahan saya jadi tau fakta-fakta baru tentang bagaimana sebenarnya kondisi mata saya, plus konsekuensi² logis yang mungkin muncul kalau saya melakukan tindakan apapun. :o Saya kecewa dan sedih banget waktu denger. 

                Ketika saya pikir misi saya ‘gagal’ (padahal sebenarnya tidak gagal, en saya jadi tau jawaban Tuhan, TIDAK :p), tanpa saya sadari jawaban atas misi kedua muncul. Jawaban yang menyentak saya.

                Udah hampir 1 taon saya pacaran, kalau ditanya, “Loe sayang kagak ama co loe?”, yah secara teori sih saya bisa bilang, “Yah sayang lah. Kalo kagak ngapain gue jadian!” tapi sebenernya deep inside my heart, kadang saya masih suka argue dengan Tuhan. Pacar saya itu not my type at all. Saya suka co-co potongan esmud yang keren-keren, co saya gaya berpakaiannya ala apak-apak (oom-oom). Saya tadinya sempat berpikir mungkin dapet calon Pdt, pacar saya candidate Ph.D :S *Tuhan sekalipun Pdt dan Ph.D sama-sama ada P dan D nya,tapi kayaknya saya tuh lebih kebayang jadi istri hamba Tuhan drpd jadi istri scientist!!* saya lebih suka sama co yang gaul en popular, co saya sepertinya tidak masuk kedua kategori itu.

Kadang dalam hati kecil, ketika kami berantem saya bertanya pada Tuhan, “Kau ngga salah kah Tuhan?! Emank ngga ada co laen di dunia ini?!?! Kenapa kasih yang model kayak begini!!”  sejujurnya sebenernya kalimat itu berbunyi seperti ini.

“Tuhan, Tuhan kan tau siapa saya. Saya gini-gini penulis buku loh *Btw guys, buku ketiga saya udeh terbit loh. Beli yaaaa*. Masak sih Tuhan kasih yang model seperti ini? I deserve someone better!!”

Ternyata saya belum bertobat dari dosa kesombongan. :S

Faktanya guys, saya bahkan tidak tau siapa saya yang sebenarnya. Saya tidak tau seperti apa kondisi mata saya yang sebenarnya.

Ketika saya down denger tentang mata saya, pacar saya bilang bahwa dia sudah mempertimbangkan semua hal ini bahkan sebelum dia maju untuk nembak saya. En apapun hasil pemeriksaan dokter, ngga mengubah hubungan dia dengan saya.

Waktu itu, ini yang saya pikirkan. Saya percaya Tuhan tau yang terbaik untuk saya, en bahkan mata saya ini pun ada di dalam rencana Tuhan. kalaupun ini ‘salib’ yang harus saya pikul, saya siap. Coz ini mata SAYA! Pilihan yang bisa saya ambil hanya, menerima atau tidak. En saya mau menerima. Jujur sejujurnya, saya mau menerimanya juga karena saya tau, saya tidak bisa ‘kabur’ dari mata saya. Hehehe.

Tapi ini kan bukan mata pacar saya. Ini salib yang semestinya tidak perlu dia tanggung. Kalau kita putus gara-gara ini, saya rasa saya bisa menerima. Siapa sih yang mau punya pasangan hidup yang sakit-sakitan, en ada kemungkinan ‘cacat’ for the rest of her life?

Keputusan yang dia ambil membuat saya ngga tau harus ngomong apa. Saya merasa malu dengan kesombongan saya, dengan kecaman-kecaman yang sering saya lontarkan padanya. Ejekan-ejekan yang saya katakan. Saya mikir, oke, maybe he isn’t perfect. Dia ngga kayak esmud, ngga gaul, a little bit freak, but I’m not perfect either. Bahkan saya punya beberapa kelemahan yang jelas-jelas cukup fatal. Keputusan pertama yang saya ambil adalah benar-benar bersyukur atas hubungan saya en melepaskan dia dari semua ekspetasi saya, tidak lagi menuntut dia.

Malemnya sebelum saya tidur, saya merenungkan ini semua. Saya melihat Tuhan ada di situ.

Ketika kita sadar, siapa kita yang sebenarnya, seberapa buruknya kita, kita akan berhenti ‘menuntut’ Dia.  Saya tau Tuhan tidak berutang kepada saya. Tuhan tidak berkewajiban membuat mata saya sehat.  Bahkan sebaliknya, Tuhan memberi banyak hal yang luar biasa dalam hidup saya. Saya memutuskan untuk tidak hanya tidak mengeluh tapi juga bersyukur untuk kondisi mata saya.

Guys, ketika kita mendapati diri kita ‘tidak puas’ dengan tubuh yang Tuhan beri, keluarga yang Tuhan anugerahkan, tempat kerja yang Tuhan percayakan, ketika kita mulai tidak bersyukur, ingat hal ini. kita sebenernya seharusnya sudah mati sekarang! Dosa kita begitu banyak, begitu besar, begitu menjijikkan. Tapi Tuhan mau mati bagi kita. Pantaskah kita mengeluh?

Setan akan selalu berusaha untuk membuat kita bertanya, “Why bad things happen to good people?”. Padahal ketika kita sadar siapa kita sebenarnya, semestinya kita bertanya, “Why good things happen to bad people?”

Kita semua orang berdosa. Kita semua pantas mati. Kita semua pantas mati dengan cara mengerikan. Kita semua pantas untuk disiksa. Tapi Tuhan mengaruniakan Anak-Nya, Tuhan memberi kita hidup, suka cita, damai sejahtera, keluarga, mencukupi kebutuhan kita. Pantaskah kita mengeluh?

Bagi saya, kalau saya sakit itu hal yang wajar. Tubuh saya penuh dengan dosa. Tapi dalam 1 tahun, Tuhan hanya memberikan beberapa hari sakit, dan sisanya saya hidup dengan anugerah tubuh yang sehat. Kesehatan itu bukan hak, kesehatan itu kasih karunia. Sepanjang tahun belajar mengajar ini, saya cuman izin 1 hari karena saya sakit yang bener-bener sakit. Sisanya, Tuhan mengaruniakan kesehatan. Tidakkah itu luar biasa?

Guys, kita sungguh bersyukur punya Allah yang luar biasa.  saya rindu, kalian mengalami sukacita yang saya alami, bahkan kalo bisa lebih bersuka cita lagi hehehe. As a Christian, ketika ada hal yang baik, kita bisa bersuka cita, ketika ada hal yang menurut manusia kurang baik, kita tetap bisa bersuka cita, karena Allah tau apa yang sedang Ia lakukan, dan Tuhan tidak pernah salah.

Jakarta, 26 Mei 2008

Tuhan, aku percaya Kau sanggup menyembuhkan mataku. Aku percaya Kau tau mana yang lebih bae untukku, mana yang lebih bae untuk kerajaan-Mu sepasang mata yang sehat, atau mataku yang sekarang. Let Your will be done.

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
yuli   |222.124.227.xxx |29-07-2009 19:49:11
Emang Non, sering kita kurang menghargai orang-2 yang mengasihi kita . Tapi
Emang Tuhan itu luarbiasa baiknya Dia tahu dan memberikan yang terbaik bagi
setiap kita.

thanks JBU
yus  - lasik     |114.56.86.xxx |10-11-2010 05:50:11
Bisa kirim ke email saya ( yushelago@hotmail.com ) nggak, alasan2 knapa mata
kita nggak bisa di-lasik???

(soalnya saya juga mau Lasik di singapura)
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."