Grace Suryani

Dilahirkan di ibukota tercinta, Jakarta pada tanggal 13 November 1983. Diberi nama Grace Suryani Tioso (Lin En Hui;  En = grace, Hui = wisdom).

By the grace of the Lord, setelah merantau ke Surabaya selama 1 ½ thn (dimana dia bertemu dengan kekasih hatinya, tahu tek … nyam nyaaamm), dilanjutkan dengan berguru ke tanah leluhur, China selama 3 taon, akhirnya Grace kembali ke kampong halaman tercinta, Jakarta dengan 2 huruf besar di belakang namanya, ;-)

Menempuh pendidikan formal di TKK 3, SDK 4, SMPK 4, SMUK 3 BPK Penabur, Univ. Petra Jurusan Sastra Tionghoa dan Hua Qiao University, China.

Sekarang sudah berganti cita-cita, tidak lagi mau jadi history maker *akhirnya sadar bahwa History is always HIS story, it’s all about Him not about me*.

Cita-citanya sekarang cuman satu, let me be a woman, let me be Grace Suryani. Menjadi Grace Suryani seperti yang Bapa pikirkan ketika pertama kali grace suryani lahir di hati-Nya.

Beberapa bukunya yang sudah diterbitkan:
# The Puzzle of Teenage Life, Kairos, 2004.
# The Puzzle of Jomblo Life, Kairos, 2005.
# Tuhan Mengapa Aku Harus ke China, Gloria Graffa, 2008.

  • PDF
  • Cetak

Ngga Level

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 16:44
  • Ditulis oleh Grace Suryani
Siang itu, ada 1 murid kelas 3 yang mau ujian nyodorin draft percakapan untuk ujian praktek. Saya baca sekilas. Ngga ada grammar yang salah, ngga ada kalimat yang salah tulis. Semuanya oke. Trus dia tanya," Gimana laoshi, boleh ngga?"

"Ngga ada yang salah sih. Tapi buat level kamu, sayang kalau kamu cuman bikin yang seperti ini.", itu komentar saya.

Kenapa saya bilang seperti itu? Karena saya tau anak ini cerdas, bahasa mandarinnya bagus pisan. Saya tau dia bisa bikin yang jauuuhhh lebih bagus dari ini. karena itu saya ngga puas dia cuman masuk kategori standart. Saya mau dia bikin yang lebih bagus. Ngga level buat dia untuk bikin yang sesederhana ini.

Selanjutnya: Ngga Level

  • PDF
  • Cetak

Teologi Bahagia

  • Jumat, 17 April 2009 16:43
  • Ditulis oleh Grace Suryani
Guys, pernah dengar kalimat seperti ini, "Tuhan ingin kamu bahagia!". "Tuhan ingin kamu menikmati hidupmu!" Mungkin sering. Kalimat tadi tidak salah, KALAU kita punya konsep ‘bahagia’ yang sama dengan Tuhan. :p

Kemaren malam, saya ngeluh (lagi) sama mama saya. Saya bilang, saya ngga yakin ngajar jadi guru itu benar-benar panggilan saya. Kenapa? Habis saya malasnya luar biasa kalau ada undangan rapat, pembinaan, seminar … duh!! Sempet terpikir, apa saya ini sombong banget sampe ngga mau dibina?! @#$%%$ Cuman asli guys, males bangeeett. Yah setelah ngobrol-ngobrol sih nyokap ada bilang mungkin itu karena hari-hari senin-jumat dah sibuk ngurusin kerjaan, hari Sabtu-Minggu pengennya istirahat. Iya juga sih, saya biasanya cuman punya waktu buat nulis itu hari Sabtu. Hari Sabtu biasanya sekali bisa nulis, saya langsung nulis 2-3 artikel (luapan dari 1 minggu!). Nah karena saya tidak suka rapat, pembinaan, pelatihan, karena hal-hal itu membuat saya tidak ‘enjoy’, tidak ‘bahagia’, jadilah saya berpikir, erhm kayaknya saya salah deh. Mestinya ngga jadi guru. Hehehe. Kalau panggilan saya emank guru ngga semestinya gue menderita seperti ini! hu hu huuuu …

Selanjutnya: Teologi Bahagia

  • PDF
  • Cetak

Mengampuni Lebih Sungguh

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 16:43
  • Ditulis oleh Grace Suryani
Guys, selama hampir 1 tahun ini saya belajar jadi guru, banyak pengalaman yang saya dapat. Banyak pelajaran yang saya pelajari. Salah satu pelajaran yang utama adalah belajar mengampuni. :)

Saya dulu memang pernah mendengar, melihat dan juga merasakan, ada banyak guru yang kepahitan, baik kepahitan terhadap guru lain, sekolah, atau bahkan terhadap murid-murid. Dulu saya cenderung ‘menyalahkan’ orang-orang yang kepahitan tersebut. *upsss …* ternyata setelah saya benar-benar masuk ke dalam ‘medan pertempuran’, en saya sempat terjangkit virus kepahitan juga, baru saya mengerti. Hehehe. Dulu ketika saya ketemu dengan guru yang marah sama anak-anak gara-gara mereka tidak menghargai beliau, saya pikir guru ini gila hormat *duh … saya ini terlalu cepat menghakimi!!*, sampai saya sendiri yang berada di posisi beliau.

Selanjutnya: Mengampuni Lebih Sungguh

  • PDF
  • Cetak

Fettucini Yang Hancur

  • Jumat, 17 April 2009 16:42
  • Ditulis oleh Grace Suryani
  Belakangan ini, saya mulai ‘kadang-kadang’ masuk dapur. Kadang-kadang itu artinya 3-4 bulan 1x. hehehe. Ada 1 resep yang udeh saya coba berulang kali tapi masih ‘hancur’, yaitu fettucini saus asparagus. Duh udeh coba 5-6 kali yang berhasil cuman 1 kali doank. Pernah kuahnya terlalu sedikit, berikutnya kuahnya malah terlalu banyak, jadi kayak mie rebus. Yieekkk!! Ada yang terlalu manis, ada yang ngga ada rasanya.

             Ketika untuk kesekian kalinya saya coba, en masih tetap gagal, saya mikir, “Oo. Ini gagal karena susunya terlalu banyak. Yah udah laen kali kurangi susunya. Berarti tadi mestinya resepnya gini gini.” Ketika berpikir seperti itu, tiba-tiba saya jadi sadar. Iya ya, hidup ini belajar dan belajar.

Selanjutnya: Fettucini Yang Hancur

  • PDF
  • Cetak

Akhirnya … Buku Ketiga Datang Juga!

  • Jumat, 17 April 2009 16:42
  • Ditulis oleh Grace Suryani
Hehehe. Yah saya rasa judulnya sudah cukup memberi gambaran akan isi tulisan ini. :p Akhirnya buku ketiga terbit juga. Judulnya “Tuhan Mengapa Aku Harus ke China?”. Perjalanan ‘mengandung’ dan ‘melahirkan’ buku ini mungkin yang terlama dibanding dengan buku-buku yang sebelumnya.

Proses mengandungnya itu 3 tahun. :p Gile kalo bayi beneran dah dipaksa Ceaser kali gue. Wakkaka. Dari awal saya sudah tau bahwa one day saya akan nulis tentang pengalaman perjalanan saya di China. Saya sudah menyimpan benih-benih yang akan ditulis.

Selanjutnya: Akhirnya … Buku Ketiga Datang Juga!

Selanjutnya...

Halaman 4 dari 42