• PDF

Memulai dari Titik Negatif

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Kamis, 26 November 2009 21:51
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
  • Sudah dibaca: 3361 kali

Akhir-akhir ini, dunia usaha dan perekonomian serasa tidak henti diguncang-guncang. Masih segar di ingatan kita, ketika terjadi Asian Financial Crisis tahun 1997. Bahkan goyangnya perekonomian Indonesia saat itu turut menjadi faktor tidak stabilnya kondisi politik sampai masa yang lama.

Dan belum lama lagi, terakhir ini bukan lagi Asian Crisis, tapi Global Financial Crisis! Dimulai dari rubuhnya sistem perkreditan rumah di Amerika Serikat, siapapun tidak pernah menyangka kalau raksasa besar seperti AIA, Lehman Brothers, berubah dari perusahaan besar menjadi serpihan kertas tak berarti. Industri otomotif raksasa seperti GM, Chrysler di Amerika Serikat nyaris tinggal sejarah, kalau saja pemerintah tidak turut campur.

Menghadapi perubahan yang gonjang ganjing ini, menyebabkan orang-orang harus mampu bertahan dan membalikkan keadaan, dari titik negatif menjadi positif. Kalau kita memulai perusahaan baru, paling tidak kita memulai dari titik nol. Tetapi, kalau dari titik negatif?

Saya membayangkan betapa sukarnya orang-orang yang ditugaskan untuk menyelamatkan perusahaan-perusahaan yang sudah mau rubuh itu. Jelas lebih sukar daripada memulai sebuah perusahaan baru dari nol.

Apa yang kita perlukan kalau kita mau memulai sesuatu dari titik negatif?

Perspektif baru.

Ada cerita menarik sekali di Alkitab tentang Daud. Daud saat itu adalah menantu raja, panglima perang yang perkasa. Namun, karena keiri-hatian Saul, maka Daud berubah nasibnya seketika dari seorang pangeran menjadi buronan (titik negatif)! Nasibnya bahkan lebih 'buruk' daripada ketika ia menjadi seorang gembala (titik nol).

Yang menarik dikatakan di I Samuel 22:2, "Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, maka ia menjadi pemimpin mereka. Bersama-sama dengan dia ada kira-kira empat ratus orang..."

Bukan main...gantinya menjadi pahit hati dan putus asa, gantinya menjadi marah dan mengasihani diri sendiri, gantinya menyerah dan menangis, Daud mengumpulkan orang-orang yang terbuang, yaitu etiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutangs, setiap orang yang sakit hati..dan dia membangun kembali pasukan dari segelintir kelompok orang yang dibuang oleh masyarakat. Daud tidak mengeluh bahwa dia tidak lagi memiliki sepasukan tentara yang professional, tetapi dia melihat dari perspektif yang baru, sehingga dia menciptakan dunia yang baru. Dia menciptakan kesempatan baru, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi empat ratus orang itu. Kelanjutannya, Anda tahu sendiri kan?

Ada contoh satu kasus menarik lagi. Tahu Post It, kan? Produk dari 3M yang kita gunakan ini sekarang sangat populer. Bahkan penemunya Dr Spencer Silver dinobatkan sebagai salah satu dari 20 penemu US paten paling terkemuka.

Padahal cerita awalnya tidak mulus. Spencer sebetulnya bermaksud menciptakan produk lem yang kuat dan bisa dipakai berkali-kali. Dan bahkan dia bermaksud memasarkan lem itu dalam bentuk semprotan. Sampai 5 tahun, produknya tidak laku di pasaran. Adalah temannya, Arthur Fry, yang sama-sama menyanyi di koor gereja, menemukan kegunaan dari “lem” yang diciptakan Spencer. Fry, ketika melihat produk gagal-nya Spencer, melihat dari perspektif baru. Dia tidak melihat lem yang gagal, tetapi sebuah post-it note!

Bagaimana sih kita bisa melihat perspektif baru di dalam pekerjaan Anda?

1. Keluarkan diri Anda dari zona di mana Anda berada.

Kalau Fry tetap berusaha berpikir untuk memasarkan lem itu, maka dia tidak bisa melihat bahwa kegunaan dari ‘lem’ itu justru adalah ‘post-it’ notes. Kalau Anda merasa ‘macet’ dalam karir Anda sekarang, dalam proyek atau usaha, coba renungkan dengan dalam, apa yang dapat Anda lihat kalau Anda keluar dari zona Anda. Anda perlu keluar untuk dapat melihat perspektif yang baru.

2. Tekun dan berani melangkah

Di dunia yang serba instan, kata ‘tekun’ sepertinya tidak laku. Tetapi ketekunan, yaitu keberanian untuk gagal dan bangkit lagi, tetap adalah karakter Illahi yang harus kita pelihara. Thomas Edison gagal 999 kali sebelum berhasil. Daud, dengan sabar mengumpulkan pasukan dari orang-orang ‘terbuang’ sampai akhirnya bisa kembali ke Yerusalem sebagai raja.

Keberanian untuk melangkah, menyangkut soal resiko juga. Benar ada resiko kalau kita melangkah keluar, tetapi jangan lupa, di dunia yang serba berubah ini, juga ada resiko kalau kita tinggal diam.

3. Visi, visi dan visi

Bayangkan seandainya setelah Fry menemukan kegunaan lem itu, tetapi mereka tidak yakin dan bertekun dalam visi ‘post-it’ mereka. Produk itu tidak akan ada di pasaran sekarang. Bayangkan jika Daud tidak memiliki visi untuk menjadi raja, mungkin dia cuma akan melanglang buana sebagai pemimpin gerombolan.

Visi itu akan menjaga semangat kita dan memandu kita untuk tetap berjalan ke tujuan yang kita harapkan. Tanpa visi, bahkan perspektif yang baru pun cuma tinggal renungan di atas kertas. Miliki dan jagalah visi itu senantiasa, dan terutama…..hidupilah visi itu.

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
ELRINA MAGRETHA NASTILIN  - MEMULAI DARI TITIK NEGATIF   |219.93.198.xxx |23-12-2009 19:56:06
HEI SHALOM HENRY
IM ELRINA, I WAS IN FRENCH AROUND 2001 TILL 2003 I WAS
COMUNICATED WITH U BY EMAIL..NOW I HAVE GOT MARRIED N STAYING AT CHERAS, KL,
MLY..SO HW AR U N UR FAMILI. IM FROM GKKD..AT THAT MOMENT U ASKED ME ABOUT
MR..(I FORGOT THE NAME) PEMIMPIN GKKD BANDUNG..YG STROKE AT THE MOMENT..OK I
WANNA JUST SAY HELLO DO YOU STILL REMEMBER ME??
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."