• PDF

It’s Christmas Day

Penilaian Pengunjung: / 11
TerjelekTerbaik 
  • Selasa, 22 Desember 2009 14:23
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
  • Sudah dibaca: 2917 kali

Saya tidak tahu apakah renungan berikut ini bisa jadi renungan Natal atau tidak. Yang jelas, dimulai ketika saya mendengar sebuah lagu ‘It’s Christmas Day’ yang dinyanyikan oleh Mandisa dan Michael W. Smith. Saya terpesona mendengar lantunan merdu lagu itu.

Nah, saya tahu siapa Michael W. Smith, tapi saya tidak tahu itu Mandisa. Jadi saya meng-google nama itu dan menemukan keterangan mengenai penyanyi itu di wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Mandisa.

Ternyata dia adalah salah seorang finalis American Idol 2006, hmmm….namun tiba-tiba ada sesuatu yang menarik perhatian saya. Di situ diceritakan bahwa salah satu juri, Simon Cowell ternyata melecehkannya karena penampilan fisiknya.  Simon Cowell mengeluarkan beberapa komentar tentang berat badannya sewaktu audisi. Waktu pertama kali melihat Mandisa, Simon dengan sinis menyindir bahwa sekarang kita
memerlukan panggung yang lebih besar.

Saat Mandisa menemui para juri sesaat sebelum sesi final untuk 24 semi-finalis, dia berkata pada Simon, “Apa yang saya mau katakan padamu, ya, bahwa engkau menyakiti saya, dan saya menangis saat itu, dan benar-benar sakit, ya itu benar-benar menyakitkan. Tapi saya ingin kamu tahu, kalau saya telah mengampuni kamu dan bahwa kamu tidak memerlukan seseorang untuk minta maaf, untuk mengampuni orang lain. Saya temukan, bahwa kalau Yesus rela mati supaya semua salahku dapat diampuni, tentulah saya dapat memberikan kasih karunia ini juga kepada engkau..

Mandisa kemudian memenangkan beberapa Grammy dan Dove award dan menelurkan beberapa album seperti It’s Christmas, Christmas Joy dan True Beauty dan beberapa singles seperti God Speaking, Voice of a
Savior, dan lain lain.

Pagi ini saya bertemu dengan seorang kawan lama. Dia adalah seorang mantan CEO salah satu perusahaan asuransi terbesar di Afrika Selatan, yang kemudian di puncak karirnya memutuskan untuk datang ke Asia
Tenggara dan menjadi misionaris.

Sambil nongkrong di warung kopi, kami berbincang-bincang dan saling berbagi pergumulan kami masing-masing. Saat saya berbicara tentang ‘kemalangan’ dan ‘ketidak-adilan’ yang baru saya alami di kantor, dia tiba-tiba dengan semangat bercerita tentang satu kisah dari Afrika Selatan.

Ketika pemerintahan apartheid di Afrika Selatan baru berakhir, Nelson Mandela mengeluarkan suatu keputusan, bahwa siapapun yang dulu melakukan kejahatan, asalkan mau mengaku di pengadilan maka akan
diputus-bebas oleh pengadilan. Nah, seperti yang Anda tahu, Afrika Selatan adalah tanah berdarah, di mana banyak terjadi peperangan sipil antara kulit hitam dan kulit putih. Kalau Mandela tidak mengeluarkan keputusan itu, dapat dibayangkan berapa banyak orang yang harus masuk penjara dan penjara akan penuh sampai 20-30 tahun ke depan.

Adalah seorang polisi bernama van de Broek mengaku bagaimana dia menangkap seorang anak muda kulit hitam, memukuli dan menyiksanya, sebelum kemudian dia membunuhnya. Kemudian karena mereka hendak
berpesta, mereka juga mem-‘barbeque’ anak itu.  Delapan tahun kemudian van de Broek kembali ke rumah anak itu dan menangkap bapaknya, kemudian di depan istrinya, ibu si anak, Broek mengikat bapak tersebut
dan membakarnya hidup-hidup.

Desmond Tutu, pemenang Nobel perdamaian, mengepalai acara ‘hearing’ tersebut. Dia bertanya kepada wanita yang merupakan ibu si anak itu, “Apa yang Anda mau dari dia?”

Ruang pengadilan itu menjadi senyap.

Wanita itu minta tiga hal. Yang pertama dia minta supaya van de Broek, membawanya ke tempat di mana mereka dibakar dan mengumpulkan abu mereka, supaya mereka bisa dikebumikan secara layak, dan dia ingin
Broek menghadiri acara pemakaman itu. Sang polisi itu mengangguk setuju.

Lalu dia melanjutkan, “Tuan van de Broek telah mengambil keluarga saya dari dia, padahal saya masih memiliki banyak kasih untuk dibagikan. Sebulan dua kali, saya minta dia datang ke ghetto saya dan menghabiskan sehari bersama saya, supaya saya bisa menjadi ibunya. Saya minta dia menjadi anak saya, agar saya dapat mengasihinya sebagai ganti anak saya. Dan saya ingin agar Tuan van de Broek tahu, kalau dia telah diampuni oleh Tuhan dan bahwa saya telah mengampuni dia juga. Dan saya minta untuk memeluk dia sekarang, agar dia tahu kalau pengampuan ini nyata….

Dia melanjutkan berkata, "Saya dapat mengatakan ini - saya melakukan ini karena Yesus mengasihi saya dan mati bagi saya...."

Spontan, orang-orang menyanyi lagu Amazing Grace di ruang pengadilan itu, saat wanita tua itu melangkah ke depan. Tetapi Broek tidak dapat mendengar lagu itu, dia jatuh pingsan dalam kekagetannya.

Allah juga melangkah ke dalam dunia ini waktu hari Natal. Untuk memeluk dunia yang gelap ini dalam pengampunan-Nya. Dia datang sebagai bayi kecil, agar dunia dapat melihat bahwa pengampunan itu nyata…

****
Renungan Natal kedua, 2009.

 

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Listiyani  - It's Christmas Day   |202.70.54.xxx |14-01-2010 16:45:43
Ini cerita yang sangat luar biasa ttg kasih Allah. Tidak ada seorangpun yang
mampu melakukannya termasuk ibu tersebut jika Tuhan tidak memulainya dulu diatas
kayu salib. Ibu itu bersedia menyalurkan kasih karunia Tuhan, dengan menekan
segala sakit kedagingannya,itulah arti mengasihi Tuhan.
^^   |125.161.232.xxx |15-01-2010 16:00:24
hey, it's an awesome devotion for last Christmas..Thanks for this inspiring
stories...I may not know you, but thanks..God bless..^^
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."