• PDF

Bisikan Pagi di Hari Natal

Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 25 Desember 2010 12:23
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
  • Sudah dibaca: 4812 kali

Saya ingin menulis renungan Natal yang klise. Makanya saya bilang-bilang dari awal, supaya pembaca tidak kecele. Dan kali ini saya ingin menulis apa adanya, sekenanya.

Pagi ini, di hari Natal 2010, saya terbangun di pagi hari dengan kepala sedikit pening. Semalaman tidur tidak terlalu nyenyak dengan pikiran-pikiran tentang pekerjaan dan permasalahan di kantor yang terbawa dalam setengah mimpi setengah bangun. Setelah secangkir teh hangat dan sebutir Paramex, saya terduduk di pinggir ranjang. Udara pagi yang dingin menyapa kulit tubuh saya lembut. Sesaat saya seperti merasa terlempar ke dunia lain.

Saya teringat kalau sebetulnya saya berhutang menulis renungan Natal untuk majalah gereja dan Glorianet. Sudah terlambat tentunya. Namun bukannya saya tidak berusaha, tapi rasanya tidak ada inspirasi saja dan tertelan kesibukan kerja. Pernah memaksakan mencoba membuka laptop dan membuka dokumen, tapi tak ada kata-kata yang dapat tertulis.

Saya merenung, sudah 36 kali Natal berlalu dalam hidup saya. Ada sedikit kegelisahan yang merayap terasa lirih di dalam hati. Saya tidak tahu mengapa, mungkin di pagi Natal ini saya cuma merasa sedikit kelelahan dan sekaligus sentimental? Atau mungkin pengaruh udara pagi, secangkir teh dan sebutir Paramex? Saya berpikir, mungkinkah ini juga kegelisahan yang dirasakan oleh orang Israel, di hari Natal kira-kira 2010 tahun yang lalu? Mereka tentu gelisah karena hidup dalam ketidak-pastian di bawah penjajahan Romawi. Sebagian besar rakyat yang bukan hanya jasmaninya terlantar, tetapi juga kehidupan rohaninya di bawah kungkungan para penguasa Bait Allah masa itu, tentu merasa gelisah.

Lalu saya membayangkan seorang bayi terlahir di tempat yang gelap, di malam yang sunyi. Namun kehadiran-Nya, tertelan oleh kegelisahan banyak orang. Untuk banyak orang, yang mereka harapkan adalah Panglima dari Sorga yang mengangkat pedang-Nya dan membawa kembali Tahta Daud di puncak kekuasaan. Untuk sebagian besar orang, yang saat itu hidup dalam kemiskinan, kalau Mesias itu datang membawa supply roti yang tak berkesudahan seperti manna di padang pasir dahulu, itulah yang mereka harapkan untuk menjawab kegelisahan mereka. Kehadiran-Nya terlewatkan oleh banyak orang, karena kegelisahan mereka menyelubungi Terang yang sesungguhnya.

Tiba-tiba saya teringat sebuah artikel kesaksian sederhana yang saya baca di glorianet yang sempat saya browsing baru-baru ini. Kisahnya, terus terang, sangat sederhana. Tentang sepasang suami istri di Australia yang bergumul dalam pencaharian mereka sehari-sehari. Sang  suami baru kehilangan kerja, sehingga mereka berdua bekerja serabutan untuk survive. Bagaimana mereka tetap berserah sampai akhirnya suaminya dapat beroleh kerja lagi dan mendapat promosi. Ya, kisah ini biasa saja, saya yakin kebanyakan dari kita mengalami dan melewati masalah seperti ini. Tapi entah mengapa, saat saya membaca itu, saya merasa itu adalah sebuah kisah yang indah.

Saya juga merenungi tahun-tahun yang lewat. Ada banyak pergumulan, ada banyak kemenangan. Ada banyak kegelisahan dan air mata, dan sukacita serta kelegaan setelahnya.

Sesaat udara pagi yang segar tiba-tiba serasa berbisik kepada jiwa saya. Apa yang membuat kisah kesaksian di atas menarik itu, karena mengingatkan tentang kehadiran dan penyertaan Tuhan dalam hidup kita, terutama lewat masa-masa pergumulan itu. Dan saya berpikir, apa yang terjadi dan kita dapatkan dalam hidup kita akan berlalu, tetapi apa yang tinggal dan nyata adalah pengalaman dalam berjalan bersama-sama dengan Tuhan.

Saya membelikan hadiah Natal untuk Samuel anak saya, dan saya tahu, saat dia bangun nanti, betapa bersuka-citanya dia. Saya membayangkan mukanya yang berbinar-binar dan bagaimana dia akan berteriak-teriak dan melompat-lompat gembira. Tetapi saya tahu, hadiah itu tidak akan bertahan lama. Bahkan sekalipun hadiah itu tidak pernah rusak pun, ada masanya Samuel setelah dia bertumbuh besar, dia tidak akan menyukai mainan itu lagi. Namun yang akan tinggal sampai dia besar, adalah dia tahu bahwa orang-tuanya mengasihinya dan memberi perhatian. Mainan-nya sendiri akan habis dimakan waktu.

Dan begitu juga saat saya melihat ke belakang. Banyak permasalahan yang saya gumulkan dalam getir, panik dan air mata di masa lalu. Banyak berkat dan jawaban yang saya peroleh di masa lalu. Seiring bergulirnya pasir waktu, hal-hal itu tidaklah lagi penting. Kalau kita membayangkan tegangnya kita waktu kita ujian dulu, kita akan tertawa, bukan? Akan tetapi yang berharga dan tinggal dalam keabadian adalah penyertaan Allah itu sendiri, seperti yang terpateri dalam namaNya yang dibawa-Nya sebagai manusia, Immanuel. Allah beserta kita.

Dan saya melihat ke depan, akan ada banyak lagi masalah dan pergumulan. Akan ada banyak keinginan dan hasrat. Semua itu akan berlalu pada saatnya setelah itu. Yang tinggal tetap adalah penyertaan Allah waktu saya melewati masa-masa itu.

Allah beserta kita.

 

****

Singapura, hari Natal 2010

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Hanna octavia  - Renungan yang Indah...   |117.102.84.xxx |10-01-2011 19:14:43
Renungan sederhana yang indah sekali...bisikan Tuhan yang menyentuh hati..bukti
Allah menyertai kita tidak hanya ditunjukan dari hal2 yg besar, namun juga hal2
sederhana yang kita alami setiap hari..terima kasih Tuhan..kami semua sayang
Engkau...
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."