• PDF

Datanglah Kerajaan-Mu di Keluarga Kami...

Penilaian Pengunjung: / 23
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 16 Juli 2011 11:35
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
  • Sudah dibaca: 11258 kali

Setiap hari Minggu kita mengucapkan Doa Bapa Kami atau Pater Noster sebagai bagian dari liturgi kita. Sering saat kita mengucapkannya, walau dengan teliti kata per kata dan penuh khidmat, tapi terasa protokoler. Apa artinya Doa Bapa Kami di tengah keluarga? Sebuah keluarga biasanya tidak protokoler, komunikasi antar keluarga tidaklah harus “politically correct”, tapi apa adanya, terbuka dan jujur.

Seperti apa Doa Bapa Kami di ‘sebuah keluarga’? 

Papah yang di Sorga, ajar kami mengenal Engkau lebih tiap-tiap hari…

Kata yang pertama kali diucapkan bayi Yahudi saat mereka belajar bicara adalah “Abba”. Abba atau Papah adalah sepatah kata yang mendasar dan merakyat sekali. Buat kita, mungkin Papah, Papih, Abah, atau Daddy. Makanya terjemahan kata ‘Bapa’ di Alkitab tidak begitu mengena, karena jarang dari kita memanggil Bapa kepada ayah kita, akhirnya kata ‘Bapa’ jadi seperti kata protokoler juga dalam doa kita. Yang menarik, pada masa Tuhan Yesus, orang Yahudi membahasakan Allah dengan YHWH yang terlalu sakral untuk dibaca oleh lidah manusia. Mereka harus memperhalusnya dengan Jehovah, atau Kurios. Allah seperti sosok yang jauh, yang bahkan namaNya pun terlalu sakral untuk diucapkan.

Tetapi betapa luarbiasa-nya yang Tuhan Yesus lakukan, Dia mengajak umat-Nya, untuk mengikuti Dia, memanggil Allah Pencipta Semesta Alam, sebagai “Abba”. Dia memberikan contoh dan teladan dalam keluarga kita, bahwa Tuhan yang di atas sana itu tidak jauh, Dialah Papah kita, Kepala keluarga kita.  Kata ‘Abba’ menghapuskan segala protokol rohani yang membebani umat.

Nama-Nya yang diberikan kepada Musa – YHWH, Aku adalah Aku-, adalah sebuah perjanjian bahwa Allah yang luar biasa itu berkenan untuk menyatakan diriNya lebih dekat kepada bangsa Israel. Dan itulah juga doa dan kerinduan kita untuk mengenal Dia, Papah kita, lebih dekat; ketika kita membawaNya masuk dalam bagian keluarga kita, itulah saat kita menguduskan nama-Nya.

Rumah tangga ini adalah bagian Kerajaan-Mu. Kehendak-Mu adalah dasar rumah tangga kami…

Di manakah Kerajaan Allah itu? Sesungguhnya ada di tengah-tengah kamu, kata Yesus dengan riang. Wow! Betapa berartinya doa kita, ketika kita mendedikasikan rumah tangga kita sebagai Kerajaan Allah. Di sinilah tempat sukacita, damai sejahtera, berkat jasmani dan rohani, kelimpahan, kasih, dan semua atribut Kerajaan Allah! Ketika keluarga kita memfokuskan semua arahan hidup kita pada Allah, dan berkomitmen seperti Yosua – ‘aku dan seisi rumah-tanggaku akan mengikut Tuhan’ – di sinilah Kerajaan Allah bertahta, kehendak Allah terjadi – di tengah keluarga kita. Keluarga kita menjadi sorga di bumi!

Cukupkan keluarga kami akan segala kebutuhan jasmani kami…

Yang baru menikah, tentu akan mengerti perbedaan tiba-tiba antara hidup sebagai bujangan dan memiliki keluarga. Yak, betul – tanggung jawab finansial! Dan, aha! Yang tinggal di negeri Singapura yang “makmur” ini mengerti benar tekanan materi yang membuat para kelurga stress soal keuangan. Terkadang kita bertanya, apakah Tuhan hanya mau bicara soal-soal rohani dengan kita? Soal liturgi? Soal persembahan? Soal pelayanan? Rapat majelis? Atau kalau kita mau berdoa untuk kebutuhan materi, mungkin dengan malu-malu saja, cukup meminta asal bisa makan sehari 3 kali – kan itu yang ada di kata-kata Doa Bapa Kami – roti secukupnya untuk hari ini? Kalau mau minta tambahan keju sama mentega, sama segelas susu, boleh nggak ya? Bahwasanya, Yesus menaruh soal perut, di urutan atas setelah memanggil Papah dan mengakui Kerajaan-Nya, itulah peneguhan bahwa Yesus pun mengerti pergumulan keluarga akan kebutuhan jasmani. Ya, di Singapura ini, ada banyak kebutuhan. Bayar asuransi, bus-fare mau naik, tuition fees mahal, cicilan HDB, ke dokter perlu uang, dll. Serahkan segala kekuatiran kita, kebutuhan kita, karena Dia peduli pada kita. Carilah Dia, jadikan keluarga kita bagian Kerajaan-Nya, maka semuanya akan ditambahkan kepada kita.

Terima kasih ya Papah,  untuk semua pengampunan-Mu, dan ajar, kuatkan kami, karena kami mau saling mengampuni, di dalam keluarga -suami-istri-anak-anak- , dan juga orang lain, tetangga, kolega, orang gereja, dll yang menyakiti kami. Seperti yang Engkau contohkan kepada kami.

Pengampunan membawa sukacita dan damai sejahtera, itulah yang menjadikan rumah tangga kita sorga di bumi. Demikanlah tidak ada lagi penghukuman bagi semua yang ada dalam Kristus, kata Paulus dalam surat Roma. Penebusan dan pengampunan Allah adalah bukti dari kasih karunia Allah yang membebaskan kita dari rasa malu, rasa bersalah, rasa terhukum, rasa dikejar-kejar. Tanpa kita mengalami pengalaman kasih karunia Allah yang mengampuni kita, sulit secara manusiawi untuk mengampuni orang lain. Biarlah keluarga kita terbuka dan dibanjiri kasih karunia Allah.

Jagalah keluarga ini dari hawa nafsu kami sendiri, dan dari segala kuasa roh jahat…

Nah, ini realita yang mungkin tidak disukai, tapi nyata. Keluarga kita ada di tengah peperangan tiap-tiap hari. Angka perceraian naik terus di Singapura (sementara angka pernikahan menurun), keluarga bermasalah entah soal judi, perzinahan, anak-anak broken home, ayah yang jarang pulang, uang banyak tapi keluarga pahit,  dan lain-lain banyak di Straits Times. Di sinilah kita bawa keluarga kita dalam doa ‘peperangan’, supaya Tuhan menjaga kita dari “diri kita sendiri” dan mengalahkan roh-roh jahat yang bermaksud buruk terhadap keluarga kita.

Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan

Ya, Papah! Keluarga ini adalah teritori kerajaanMu; di sini kami mengenalMu lebih dekat, di sini kami bawa sukacita, damai sejahtera, kasih.

…dan kuasa

Ya Papah! Karena kuasaMu, kami menyerahkan segala kebutuhan kami, bentuk kami menjadi insan lebih baik, lindungi kami dari segala kejahatan

...dan kemuliaan

Ya Papah! Dimuliakanlah Engkau dan kiranya kemuliaanMu menaungi keluarga kami..

Sampai selama-lamanya. Yes – yes – yes !

 

*******

Singapura, 14-15 Juli 2011. Pijar 23 tahun.

Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
MARIANA  - like it   |118.136.87.xxx |26-07-2011 13:20:38
like it
aprijanto  - Datanglah Kerajaan-Mu di keluarga kami   |175.106.22.xxx |27-07-2011 15:22:11
manteb tenan.....thanks utk sharingnya....sangat memberkati saya
Anonymous   |112.199.128.xxx |04-08-2011 19:42:37
Thank for all good share
Go ahead jesus bless. Us forever
Sari  - Artikel yang membangun   |150.203.235.xxx |05-08-2011 13:24:35
Terima kasih untuk artikel yang sangat membangun ini. Tuhan Yesus memberkati
Tien2   |217.120.23.xxx |08-08-2011 08:51:09
Amien n Halleluyah.
Mama Jlove  - Tuhan memberkati keluarga kami   |120.166.75.xxx |26-08-2011 03:36:13
Benar, jika saja dalam setiap doa kita mengganti kata Bapa dengan Papah, rasanya
kedekatan dgn Allah itu dasyat dalam hembusan kata "Papah".....tapi
intinya artikel ini benar2 menguatkanku, tkhusus utk bisa saling mengampuni
antar sesama anggota keluarga....thanks God...
yoi   |180.249.137.xxx |05-12-2011 23:36:30
bagus banget
ud  - pas mantab   |202.46.131.xxx |22-12-2011 14:18:13
terimA kasih, sharing nya sangat membekati. kiranya Tuhan juga senantiasa dekat
dengan Penulis. GBU
Hendru   |114.120.77.xxx |04-04-2012 04:44:56
Amin....
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."