• PDF

PANGGILAN YANG MENYESATKAN

Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
  • Jumat, 17 April 2009 16:50
  • Ditulis oleh Henry Sujaya Lie
  • Sudah dibaca: 1770 kali
Ia tidak membujuk para pemuda untuk menjadi biarawan atau imam, tapi Ia datang untuk mengutus suatu semangat baru di muka bumi ini, dengan kuasa untuk meruntuhkan landasan setiap kerajaan yang dibangun di atas tulang-tulang dan tengkorak manusia. (Yang Tersalib, Kahlil Gibran)

Kata ‘panggilan’ ditaruh di tempat terhormat dalam kehidupan manusia. Orang-orang berbisik dan menunduk hormat ketika ‘yang terpanggil’ lewat di tengah kerumunan manusia. Orang-orang diam mendengarkan ketika ‘yang terpanggil’ berbicara. Mereka mendirikan monumen bagi orang-orang khusus yang terpanggil. Dengan demikian mereka membuat sebuah dunia bagi mereka sendiri dan sebuah yang lain bagi orang-orang yang terpanggil. Dunia mereka di mana mereka dapat memiliki standar hidup yang mereka suka, dan dunia bagi orang-orang yang terpanggil yang penuh dengan hymne dan liturgy.


Dan begitulah manusia hidup dari zaman ke zaman. Orang-orang Hindu menciptakan kasta Brahmana, mendewakan orang-orang yang terpanggil dan menodakan orang-orang yang tak terpanggil. Para imam-iman agama Yunani kuno diberikan tempat terhormat karena mereka terpanggil untuk menjadi penghubung dengan dewa-dewa mereka. Orang-orang ini yang sepanjang hidupnya dihantui rasa bersalah dan ketakutan menciptakan penghubung dan cadar untuk menghalangi kemuliaan Allah bersinar langsung pada manusia.

Merekalah orang-orang yang berseru kepada Samuel, “Berikanlah kepada kami seorang raja manusia, yang terpanggil, supaya Tuhan tidak usah memerintah kami langsung.” Ditolaknya Tuhan yang menggapaikan tanganNya pada mereka

Merekalah orang-orang yang berseru kepada Musa, “Bicaralah kepada Tuhan untuk kami, engkau yang terpanggil, sebab kami tidak tahan berhadap-hadapan denganNya.” Dihancurkanlah hati Tuhan yang rindu untuk berbicara langsung kepada mereka.

Dan begitulah dalam Kekristenan. Orang-orang menunduk hormat kepada para terpanggil yang sepenuh hidupnya dilingkupi hymne dan liturgy. Dan dalam rasa bersalah mereka hidup, karena mereka berpikir apa yang mereka kerjakan, apa yang mereka hidupi adalah dalam dan dari dunia yang jahat. Inilah sisa-sisa pandangan gnostik yang terwarisi. Dan orang-orang ini yang pikirannya sesat, berpikir bahwa mereka harus melakukan sesuatu untuk membayar apa yang kurang karena mereka bukan yang terpanggil. 

Bukankah ini adalah suatu penghinaan terhadap karya kasih karunia Allah? Jikalau kita merasa bersalah karena hanya dapat meloncat setinggi lutut, dan memandang hormat kepada yang terpanggil karena dapat melompat setinggi pohon, tidakkah jelas terlihat keduanya tidak dapat mencapai langit? Hanya tangan kasih karunia Allah yang turun dari langit yang mencapai kita. 

Dan untuk itulah Kristus datang. Untuk merobek cadar yang menyelubungi muka Musa, ketika orang-orang Israel menjerit-jerit dan memohon-mohon karena tidak tahan melihat muka Musa yang penuh kemuliaan Allah. Dan secara nyata Dia sungguh merobek tirai Ruang Maha Kudus, supaya dengan demikian ia menobatkan masing-masing kita menjadi imam, imamat yang rajani. Dengan demikian Dia memanggil semua orang, ya semua manusia yang Dia ciptakan, untuk datang langsung kepadaNya.

Demikianlah dikotomi ‘clergy-layman’ adalah suatu kesesatan. Sesatlah orang yang berpikir bahwa ‘clergy’ adalah orang-orang yang terpanggil dan ‘layman’ tidak memiliki panggilan. Setiap orang dipanggil untuk masuk ke dalam KerajaanNya, untuk menjadi imamNya, imamat yang rajani. Inilah panggilan yang paling utama dan sungguh teramat utama, yang bahkan tidak bisa dibandingkan dengan panggilan menjadi seorang penginjil yang berbicara di hadapan milyaran orang. Dan kepada setiap orang yang meresponi panggilan ini yaitu panggilan yang paling utama, Allah juga mengaruniakan panggilan yang spesifik, sebuah alasan untuk keberadaan. (Ef 2:10)

Demikianlah setiap orang memiliki panggilan Allah, apakah dia menyadari atau tidak, dan dalam kapasitas apapun dia sebagai. 

* Henry Sujaya, mahasiswa Singapore Bible College, tinggal di Singapura.
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."